Gadis Flores Timur Nyaris Jadi Korban Vaksinasi, Setelah Dokter Tak Respon Keluhan Pasien

Consita Maria Ina Goran (27), gadis asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama pamannya Rahman Sabon Nama SE

Denpasar, LenteraEsai.id – Program vaksinasi Covid-19 bertujuan untuk memutus rantai penyebaran Virus Corona, sehingga setiap warga negara diharapkan untuk mengikutinya.

Namun apa daya, Consita Maria Ina Goran (27), gadis asal Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini menetap di daerah Dalung, Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali, nyaris menjadi korban vaksinasi Covid-19 yang disuntikkan ke tubuhnya.

Bacaan Lainnya

Rahman Sabon Nama SE, yang adalah paman Consita Maria, dalam press release kepada media massa di Denpasar, Minggu (9/5/2021) sore mengungkapkan, keponakanya itu nyaris jadi korban setelah mengikuti program vaksinasi Covid-19 yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Badung.

Ia menyebutkan, gadis asal Desa Karing Lamalouk, Adonara Timur, Flores Timur itu mengalami demam tinggi dan muntah-muntah setelah menerima vaksin Astra Zeneca.

Itu sebabnya, lanjut dia, kasus yang dialami Consita ini perlu diangkat supaya menjadi pembelajaran bagi para pemangku kepentingan, yakni pemerintah, dokter penanggung jawab dan pihak rumah sakit. Sebab, terlihat tidak ada koneksitas antara pasien akibat efek vaksin dengan ketiga pemangku kepentingan tersebut. “Akibatnya, pasien seperti berjuang sendiri untuk menyelamatkan nyawanya,” kata Rahman, menjelaskan.

Rahman yang juga salah seorang pimpinan humas sebuah perguruan tinggi ternama di Bali menuturkan, sesuai kartu vaksinasi Covid-19 yang dia peroleh, Consita Maria Ina Goran mengikuti vaksinanasi di Desa Dalung yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Badung pada Sabtu (8/5/2021) pukul 09:47 dengan nama vaksinnya Astra Zeneca.

Sesuai jadwal yang tertera, vaksin kedua akan diberikan pada 3 Juli 2021. “Apabila terdapat gejala pascadilakukan vaksinansi, dapat menghubungi dr Ni Luh Ketut Ayu Ratnawati di nomor telepon 081337209161”. Itu catatan di bagian bawah kartu vaksinansi yang diterima Consita Maria.

“Tetapi apa yang terjadi?. Keponakan saya, nyaris kehilangan nyawanya setelah menerima vaksin Astra Zeneca tersebut. Dokter yang namanya tercantum dalam kartu vaksin tak punya tanggung jawab moral sama sekali. Dokter itu tak merespon pesan WA tentang keluhan pasien sampai detik ini,” ujar Rahman.

Rahman menjelaskan, usai divaksin, Consita Maria kembali ke tempat kostnya di Dalung untuk istriahat, dan sekitar pukul 15:00 Wita baru dia terbangun. Ibu guru pada DBB School ini mengku kaget, tubuhnya panas tinggi dan terasa capek sekali.

“Kok tubuh saya panas sekali, pegal-pegal, rasa cemas, ketakutan, mual dan muntah-muntah. Pikiran saya, ini pasti efek vaksin tadi. Saya mau kontak dokter tapi tidak bisa. Sebelum dijemput Lega dan Ika, 3 kali saya muntah di kost,” kata Consita, seperti dikisahkan Rahman.

Saat itu dia hanya bisa pasrah dan menangis di kamarnya. Masalahnya paket WA dan pulsa telepon habis hari itu. Untung ada facebook. Melalui inbox, Consita menginformasikan kondisi kesehatannya kepada seorang keluarga, Eba Lega dan minta segera datang menjemput. Tak lama kemudian Lega dan istrinya, Ika, datang menjemput Consita untuk dibawa ke kost mereka.

“Semalam kondisinya makin memburuk. Sekitar jam 11 malam Lega beberapa kali kirim pesan WA kepada dokter yang tertera dalam surat vaksin itu, tapi tak ada respon. Akhirnya Minggu pagi sekitar jam 05:00 Wita, Consita dilarikan ke Rumah Sakit Sanglah, barulah saya dikabari bahwa Consita masuk rumah sakit, kondisinya kritis, karena efek vaksin,” ucap Rahman.

Setelah mendapat perawatan intensif, sekitar pukul 10:30 Wita Consita Maria Ina Goran diizinkan pulang. Anehnya, biaya rumah sakit senilai Rp 305.200 itu malah dibebankan kepada Consita. Meski sudah diberi tahu pasien ini korban vaksin, sambil memperlihatkan kartu vaksin tadi, pihak rumah sakit tetap menganggapnya sebagai pasien umum.

Menurut Rahman, perlakuan pihak rumah sakit ini tidak benar. Walupun nilainya kecil, tapi harus diusut. Sebab, vaksinansi ini program nasional dan menggunakan anggaran negara. “Jadi kalau ada efek setelah seseorang menerima vaksin, itu menjadi tangung jawab negara, bukan tanggung jawab pasien secara pribadi, ini harus diusut supaya tidak menjadi kebiasaan,” ujar Rahman Sabon Nama, menegaskan. (LE-DP)

Pos terkait