Denpasar, LenteraEsai.id – Belakangan ini sebuah video yang mempertunjukkan seorang balian laki-laki berbusana serba putih dengan atribut udeng, nampak sedang melakukan pengobatan terhadap seorang pasien wanita.
Pengobatan itu dilakukan di depan sejumlah orang, dan ganjilnya, terlihat sang balian dalam melakukan pengobatan dengan cara seperti ‘menyedot’ wajah dan beberapa bagian tubuh si pasien lainnya. Sontak, video menjadi viral di masyarakat dan menimbulkan perbincangan karena dinilai tidak etis, kurang senonoh, atau tidak patut dilakukan karena terkesan porno.
Menyikapi hal itu, tokoh spiritual Jro Mangku Murdja saat dikonfirmasi di Denpasasr, Selasa (20/4/2021) mengatakan, dirinya sudah mencermati isi video yang sedang viral di media sosial sejak beberapa hari ini.
Menurutnya, sungguh disayangkan tontonan video seperti itu harus beredar di masyarakat. Masalahnya, kalau sudah beredar di media sosial, tentu dengan gampang dapat diakses masyarakat dari berbagai golongan usia, termasuk anak-anak.
Namun sebenarnya, lanjut Jro Mangku Murdja, yang lebih disayangkan lagi, cara pengobatan yang dilakukan sang balian yang terlihat kurang etis. Tidak ada ajaran seperti itu. Memang dalam pengobatan ada sentuhan, namun tetap dalam batas kepatutan.
“Itu saya lihat, pengobatan dilakukan di depan orang-orang dengan sentuhan yang kurang etis pada beberapa bagian tubuh yang ‘sensitif’. Nah, yang nonton di lokasi pengobatan saja terlihat sampai malu. Ini artinya, sudah tidak etis atas apa yang dilakukan sang balian,” kata Jro Mangku Murdja, menyesalkan.
Di sisi lain, tokoh spiritual kelahiran Gegelang, Manggis, Karangasem ini menyoroti atribut udeng yang digunakan oleh sang balian. “Udeng yang dipakai menyiratkan seorang pemangku. Pertanyaannya…, apa betul itu seorang pemangku ?. Atau justru pemangku bodong ?. Kalau bukan pemangku, dalam mengobati ya cukup pakai ‘selempot’ dan tidak perlu pakai atribut pemangku. Nanti berimbas kepada nama pemangku. Apalagi baru saja ada kasus sulinggih yang dilaporkan telah berbuat cabul. Takutnya, nama pemangku nanti ikut tercemar dengan kejadian ini,” ujar penekun kebatinan yang kerap dijuluki Mangku Minyak.
Selanjutnya, tokoh spiritual ini mengharapkan agar ada penelurusan soal kejelasan identitas balian. Jika memang bukan pemangku, wajib diingatkan untuk tidak menggunakan atribut kepemangkuan, yang antara lain dicirikan dengan jenis ikatan udeng yang dikenakan.
“Sebaliknya kalau memang pemangku, saya pikir juga tidak perlu mencirikan kepemangkuannya ketika melakukan cara pengobatan seperti itu. Lagian, kalau memang seorang pemangku, tentu merupakan pemimpin spiritual yang notabene panutan umat, sehingga harus bisa menjaga sikap dan kepatutan,” ujarnya, menandaskan.
Ia menyebutkan, kalau saja dalam kasus tersebut ada keluarga pasien yang merasa keberatan dengan cara pengobatan seperti itu, tentu bisa saja melaporkan sang balian yang dinilai telah melakukan perbuatan tidak senonoh. (LE-KR)







