judul gambar
DenpasarHeadlines

Jalani Sidang, Pembunuh Teller Bank Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Denpasar, LenteraEsai.id – PHAP (14), anak baru gede yang didakwa telah melakukan tindak pencurian dengan kekerasan hingga menyebabkan teller bank bernama Ni Putu Widiastiti (25) meninggal dunia, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (14/1) siang.

Jalannya sidang yang digelar secara virtual itu mengagendakan pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) dan dilanjutkan dengan mendengar keterangan dari 9 orang saksi.

“Ada 9 orang saksi yakni 2 saksi polisi dan yang 7 orang saksi umum,” ucap jaksa Ni Putu Widyaningsih usai mengikuti sidang dengan majelis hakim yang diketuai Hari Supriyanto.

Dalam perkara ini JPU menjerat terdakwa PHAP dengan dakwaan primair yakni Pasal 340 KUHP, dan subsider Pasal 338 KUHP,  lebih subsider Pasal 365 ayat (3) KUHP.

Atas jeratan pasal-pasal tersebut, maka terdakwa yang digolongkan pada pelaku yang masih berusia kanak-kanak, teracam hukuman maksimal 10 tahun penjara.

Dalam dakwaan diuraikan, sebelum melakukan aksinya, terdakwa PHAP mengambil pisau dapur dan menyelipkan di pinggangnya pada Minggu (27/12/2020) sekitar pukul 16.00 Wita.

Setelah itu terdakwa berjalan menuju rumah korban yang jaraknya kurang lebih 25 meter dari tempat kos terdakwa di daerah Ubung Denpasar. Di sana mengawasi keadaan sekitar sembari melihat situasi rumah korban.

Ketika itu pintu gerbang rumah korban tertutup dengan kunci gembok yang hanya tercantol di pintu, sementara korban terlihat berada di halaman belakang rumahnya.

Terdakwa lalu masuk ke rumah korban dengan cara memanjat pagar tembok di sisi sebelah timur rumah korban yang tingginya kurang lebih 2 meter, dan langsung masuk ke dalam rumah korban melewati pintu depan rumah yang tidak terkunci.

Sampai di dalam terdakwa menuju kamar yang berada di lantai bawah dan mencari barang-barang berharga yang ada di kamar tersebut. Namun baru membuka lemari, korban masuk ke rumah dan lewat di depan kamar.

Melihat itu, terdakwa lalu bersembunyi di balik pintu kamar, sementara korban langsung naik ke kamar di lantai 2. Setelah korban berada di lantai atas, terdakwa ikut naik ke lantai atas.

Di sana korban berdiri di depan kamar dengan posisi membelakangi terdakwa sambil memainkan handphone. Rupanya korban mengetahui keberadaan terdakwa dan berteriak maling sebanyak 5 kali.

Mendengar itu terdakwa berlari mendekati korban dan mendorongnya ke belakang sehingga korban jatuh di atas kasur. Terdakwa kemudian membekap mulut korban dengan menggunakan tangan kiri.

“Ketika korban berusaha melepas bekapan, terdakwa mengambil pisau yang sudah disiapkan dan menusukkan pisau tersebut ke arah paha kiri korban,” tutur jaksa.

Korban berusaha merebut pisau dari tangan terdakwa. Setelah didapat korban menusukkan pisau tersebut ke lengan kiri terdakwa. Namun tak lama terdakwa berhasil merebut kembali pisau dari korban, kemudian secara membabi buta menusuk tubuh korban kurang lebih sebanyak 38 kali.

Setelah korban tak berdaya, terdakwa turun ke lantai bawah menuju kamar mandi untuk membersihkan luka bekas tusukan korban di tangan kirinya.

Lantaran darah terus mengalir, terdakwa mengambil jaket kain warna abu-abu milik korban untuk menutupi lukanya. Setelah itu terdakwa naik kembali ke lantai atas untuk mencari barang berharga milik korban.

Di sana terdakwa mengambil uang Rp 200 ribu dari dalam tas warna putih krem milik korban. Terdakwa juga sempat akan mengambil handphone korban, namun lantaran berisi sandi, ia mengurungkan niatnya.

Selain mengambil uang, terdakwa juga mengambil sepeda motor milik korban. Setelah itu ia kabur ke rumah temannya yang bernama saksi KAW alias Tata di Pantai Penimbangan, Kabupaten Buleleng.

Oleh KAW, terdakwa diajak ke tempat kos milik Ros untuk membersihkan luka. Setelah itu terdakwa diajak ke tempat Kansa (DPO) yang membantu menggadaikan sepeda motor milik korban seharga Rp 3 juta.

Sementara dari hasil visum et revertum dokter forensik pada Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar, terungkap bahwa kematian korban diakibatkan luka tusuk yang bersifat fatal di bagian dada samping kanan dan tiga buah luka tusuk pada perut kanan atas.

Untuk mendengarkan keterangan saksi-saksi lain, majelis hakim menunda persidangan hingga pekan depan. (LE-PN)

Lenteraesai.id