Ombak Besar, Dua Nelayan Dilaporkan Hilang di Pantai Kedonganan-Badung

Badung, LenteraEsai.id – Heri Widodo (38) dan Diki (21), dua nelayan yang turun melaut dari Pantai Kedonganan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung pada Minggu (4/10) sore lalu, oleh pihak keluarganya dilaporkan hilang karena hingga kini belum kembali pulang.

Kedua nelayan yang tinggal di Jalan Kecubung, Lingkungan Kelan Abian, Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Badung itu, diketahui turun melaut menggunakan sebuah jukung atau perahu milik temannya, Nyoman Sudiarta.

Bacaan Lainnya

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali) Gede Darmada SE MAP ketika dihubungi wartawan, Selasa (6/10), membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan tentang adanya dua nelayan yang hilang, yang melaut dari Pantai Kedonganan.

Ciri-ciri jukung yang dipakai kedua nelayan dilaporkan berwarna cat putih bertuliskan Armada pada bagian lambungnya. Panjang jukung 11 meter dan lebar 120 cm, serta menggunakan 2 buah mesin penggerak.

Kedua nelayan disebutkan turun melaut pada Minggu (4/10) sore sekitar pukul 16.00 Wita. Seperti biasanya, tujuan mereka adalah untuk menjaring ikan tongkol di kawasan perairan Uluwatu, Bali bagian selatan.

“Informasi awal kami terima kemarin Senin sore sekitar pukul 17.20 Wita. Informasinya kedua nelayan itu turun melaut hari Minggu sore, tapi tak kunjung balik,” ujar Darmada.

Sejak menerima laporan, tim Basarnas bersama beberapa unsur SAR lainnya langsung diterjunkan untuk melakukan pencarian, namun karena hari sudah keburu larut malam pencarian dilanjukan keesokan harinya.

Kakansar menyebutkan, hari ini tim SAR gabungan mengerahkan 1 unit Rigid Inflatable Boat (RIB) melakukan pencarian di sekitar perairan yang biasa dilalui kedua nelayan saat melaut. Darmada menjelaskan, SRU yang terlibat di antaranya Basarnas Bali, Dit Polair Polda Bali, Dit Samapta Polda Bali, Pos AL Badung, Pos Polair Kedonganan, SAI Rescue Relindo, Senkom, kelompok nelayan setempat dan pihak keluarga.

Fokus pencarian pada operasi SAR hari kedua ini berada di sekitar perairan Kelan-Tanah Lot. Luas areanya untuk penyisiran RIB kurang lebih 17.4 NM² dengan metode pencarian pararel search. Sementara luas area penyisiran SRU yang menggunakan rubber boat sekitar 10.8 NM².

Di tempat berbeda, SRU darat posisi berada di Kelan untuk berkoordinasi dengan nelayan setempat dan selanjutnya melakukan pemantauan ke arah barat dan selatan. “Hasil koordinasi tadi dengan kelompok nelayan Kelan, akan ada upaya pencarian dari mereka nanti siang,” ujar Darmada.

Menurut Darmada, kondisi cuaca hari-hari terakhir ini tidak baik. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak 3 Oktober 2020. Di mana hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya.

“Kondisi tingginya curah hujan diperkirakan akan terjadi hingga bulan Oktober, maka kami mengimbau agar berhati-hati saat beraktivitas di perairan, dan selalu lengkapi alat keselamatan diri seperti misalnya berupa life jaket atau media pelampung,” kata Darmada, mengingatkan  (LE-DP3)

Pos terkait