Karangasem, LenteraEsai.id – I Ketut Mudiada merupakan salah seorang pria yang memutuskan untuk mengambil profesi yang tergolong sedikit dilakukan oleh warga masyarakat kebanyakan.
Profesi yang diambil untuk menghidupi keluarga itu tidak saja menuntut untuk memiliki kemampuan fisik yang prima, tetapi juga spririt dan mental yang tangguh guna menghadapi tantangan alam dengan segala risikonya.
Diterpa angin kencang, terik panas matahari, hujan badai bahkan ditikan dinginnya malam di ketinggian daratan, tidak lagi menjadi persoalan bagi pria yang terlahir di Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, Kubupaten Karangasem pada 4 Juni 1974 itu.
Mungkin karena sudah terbiasa hidup di desa yang merupakan bagian dari lereng timur laut Gunung Agung, ia kemudian mematrikan diri untuk memilih profesi sebagai pemandu wisata gunung profesional.
Selain karena memang terlahir di lereng gunung, Mudiada juga mengaku kecemplung ke dalam pekerjaan itu berawal dari sebuah hobi. “Ya..,saya menang hobi mendaki gunung sejak usia kanak-kanak,” ujarnya.
Bermula dari sekedar hobi, akhirnya sejak tahun 1993 pria yang kini menetap di Desa Sengkidu, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem itu mulai menekuni pekerjaan sebagai pemandu wisata gunung profesional.
Ia mengaku awalnya belajar secara otodidak bersama teman-teman mengenai teknis mendaki gunung, sembari kemudian langsung dan secara berkala mendaki sejumlah gunung yang ada di Bali.
“Karena memang saya lahir dan besar di sebuah desa yang merupakan bagian dari lereng Gunung Agung, yakni di Desa Dukuh, tidak kesulitan bagi saya dan teman-teman untuk mencari medan berlatih dengan cukup sering naik turun gunung,” katanya.
Dengan terus mengasah kemampuan di bidang mendaki gunung, akhirnya Mudiada menjadi cukup trampil dan bahkan sekarang sudah mengantongi sertifikat sebagai pemandu wisata gunung profesional.
“Untuk mencapai sukses seperti sekarang, perjuangannya sangat luar biasa,” kata Mudiada saat ditemui di rumahnya pada Rabu (24/6/2020) siang.
Dia juga mengatakan bahwa untuk menjadi pemandu wisata gunung profesional itu harus punya knowledge atau pengetahuan untuk menceritakan sesuatu tentang tempat yang akan dituju atau sepanjang rute yang dilalui.
Menurut Mudiada, setidaknya harus menguasai entah itu medan yang akan dituju, atau cara menempuh medan tersebut. Demikian pula dengan jenis pakaian yang harus dikenakan di alam terbuka, atau cara penanganan jika terjadi sesuatu di tengah perjalanan. “Jadi harus punya skill untuk bisa menangani itu semua,” ucapnya.
Yang tidak kalah penting sebagai pemandu wisata gunung profesional, lanjut dia, ialah harus punya attitude atau sikap sopan santun yang baik dalam melakukan giat pendakian.
“Bicara pengalaman selama menjadi pemandu wisata gunung, ada banyak sekali yang pernah saya alami,” katanya.
Tapi yang paling berkesan, menurutnya adalah saat bisa menolong orang yang terjatuh ke dalam jurang saat mendaki. “Seperti saat mendaki di Gunung Agung contohnya, saya ketemu dengan sekelompok pemuda yang salah satu temannya terjatuh dan pingsan. Karena saya bawa alat-alat yang lengkap dan tahu prosedur penyelamatan, jadi saya langsung turun membantu,” ujarnya, menjelaskan
Pengamanan menolong orang di gunung, sebagai seorang pendaki, terlebih pemandu para wisatawan, pasti barang satu atau dua kali akan mengalami. “Kalau saya sih tergolong sering melakukan penyelamatan seperti itu. Ini membuat saya lebih bersemangat dalam menjalani profesi sebagai pemandu wisata gunung. Saya bangga bisa menyelamatkan nyawa manusia yang membutuhkan pertolongan. Selain memang terus bersemangat karena mendapatkan uang dari tamu yang menggunakan jasa saya,” katanya sambil tersenyum renyah.
Sehubungan dengan cukup seringnya terjadi malapetaka di gunung, ia menyarankan kepada para pemula untuk senantiasa dapat menyertakan pemandu dalam kegiatan mendaki gunung. “Ya harus dipandu oleh orang yang sudah profesional di bidangnya, supaya jika terjadi sesuatu di tengah perjalanan langsung mendapatkan pertolongan,” ujarnya.
Dia mengaku bersyukur karena sekarang sudah ada wadah bagi yang hobi mendaki gunung yaitu Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) yang sudah berdiri sejak tahun 2016. Jadi siapa saja yang ingin menjadi profesional dalam bidang mendaki gunung, bisa bergabung di sana.
“Sedangkan untuk di Bali namanya APGI DPP (Dewan Pengurus Provinsi) Bali, dan kebetulan saya yang dipercaya sebagai humasnya,” kata Mudiada.
Sedangkan untuk di Kabupaten Karangasem juga ada yaitu Karangasem Trekker Association (KATA), dan Ketut Mudiada merupakan ketua dari KATA yang sampai saat ini beranggotakan 18 orang.
Selain itu, Mudiada juga punya bisnis pribadi di bidang pendaki gunung yaitu ‘Mudigoestothemountain’, bisa dicari di facebook. Jadi bagi teman-teman yang butuh seorang profesional dalam mendaki gunung yang ada di Bali maupun di luar Bali, bisa menghubungi KATA. Atau lewat WA juga bisa di nomor 087762838766.
Bicara masalah kendala selama menjadi pemandu wisata gunung, Mudiada menhyebutkan, di awal-awal bekerja, ada beberapa kendala mulai dari medan karena belum pernah dilalui, maupun kepemilikan alat-alat pendakian yang masih seadanya. Tapi setelah menjadi profesional tidak begitu banyak menemukan kendala yang berarti, karena sudah tahu medan yang akan dilalui seperti apa, dan alat-alat yang harus dibawa seperti apa pula.
Setiap melakukan pendakian di manapun itu, Mudiada mengaku selalu membawa canang dan dupa untuk dihaturkan sebelum mulai melakukan pendakian, “Karena saya percaya setiap gunung itu pasti ada penjaganya, jadi kita harus permisi dulu untuk memasuki wilayahnya,” ujar Ketut Mudiada menjelaskan. (LE-Jun)







