Karangasem, LenteraEsai.id – Puluhan rumah yang sembilan 9 unit di antaranya mengalami kerusakan berat terjadi akibat gempa bumi yang disertai tanah longsor di wilayah Bangli dan Karangasem, Bali pada Sabtu (16/10) dini hari.
Bersadarkan hasil pendataan sementara pihak BPBD Bali juga disebutkan sebuah candi roboh, satu unit pura rusak berat, sembilan unit pelinggih (bangunan suci) rusak, satu fasilitas pendidikan mengalami kerusakan, serta puluhan rumah yang rusak sedang dan ringan lainnya masih dalam pendataan.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali Made Rentin, Sabtu (16/10) siang mengatakan, pihaknya masih terus melakukan asesmen dan pendataan lebih lanjut mengenai kerusakan bangunan, serta telah memberikan pertolongan kepada para korban yang terdampak.
Gempa bumi dengan magnitudo 4.8 yang mengguncang Bali pada Sabtu (16/10) pukul 04.18 Wita tidak hanya menimbulkan kerusakan bangunan, tetapi juga merenggut nyawa 3 penduduk, serta 7 lainnya mengalami luka-luka berat dan 14 luka ringan.
Dari korban tewas sebanyak itu, dua di antaranya akibat tertimbun tanah longsor di Trunyan, Kintamani, Kabupaten Bangli sebagai dampak dari terjadinya gempa, dan seorang lainnya adalah bocah yang tertindih bangunan runtuh di daerah Ban, Kabupaten Karangasem.
Selain itu, gempa bumi yang berpusat di 8.32 LS dan 115.45 BT, atau sekitar 10 kilometer barat laut Kota Amlapura pada kedalaman 10 kilometer, juga memicu terjadinya tanah longsor (landslide) dan reruntuhan batu (rockfall) di wilayah Trunyan, Kintamani, Kabupaten Bangli.
Kalaksa BPBD Provinsi Bali Made Rentin melalui keterangan tertulis mengatakan, proses evakuasi korban oleh tim BPBD di Kabupaten Bangli dan asesmen cepat atas kerusakan fisik yang terjadi, sempat terkendala akses menuju lokasi karena terhalang material longsoran dan reruntuhan batu. Pihaknya kemudian dapat menjangkau lokasi terdampak melalui danau.
“Untuk akses melalui darat ke Trunyan tidak bisa dilakukan, jadi akses ke lokasi kejadian hanya bisa melalui danau dengan menggunakan perahu atau speed boat,” ujar Made Rentin dengan menambahkan, namun demikian, seluruh korban yang sempat tertimbun telah berhasil dievakuasi.
Mengenai lima warga yang sempat terkubur material bangunan yang roboh di daerah Ban, Made Rentin menyebutkan sudah berhasil dievakuasi ke Puskesmas terdekat dan RSUD Karangasem dalam keadaan masih hidup dengan kondisi luka berat. Sementara delapan lainnya mengalami luka-luka ringan.
Demikian juga empat warga yang tertimbun reruntuhan bangunan dan diterjang tanah longsong di Trunyan, Kintamani, telah berhasil diselamatkan oleh tim dan warga setempat, dan sudah dilarikan ke Puskesmas terdekat. Sedangkan 4 jiwa lainnya berhasil menyelamatkan diri masing-masing.
Menurut analisa dari Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG) Wilayah III Denpasar, fenomena gempa bumi Bali M 4,8 itu terjadi akibat aktivitas sesar lokal dan termasuk dalam kategori gempa bumi dangkal.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal,” kata Kepala Balai Besar MKG Wilayah III Denpasar, Agus Wahyu Raharjo melalui keterangan tertulis.
Lebih lanjut, Balai Besar MKG Wilayah III Denpasar juga mencatat hingga pukul 16.42 WITA, terjadi gempabumi susulan (aftershock) sebanyak dua kali dengan magnitudo 3,8 dan 2,7 yang dirasakan di Karangasem.
Berdasarkan kajian risiko dari InaRisk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), wilayah Provinsi Bali memiliki tingkat risiko sedang hingga tinggi terhadap potensi ancaman gempa bumi. InaRisk menyebutkan bahwa ada sebanyak sembilan kabupaten yang memiliki potensi risiko tersebut.
Apabila melihat kajian lebih mendalam, Kabupaten Bangli, khususnya di Desa Trunyan, sebagai salah satu wilayah terdampak gempa bumi M 4,8, tercatat memiliki potensi gempa bumi dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi. Potensi itu juga dimiliki oleh wilayah lain seperti Kecamatan Kintamani, Kecamatan Tejakula, dan Kecamatan Rendang.
Untuk potensi bahaya tanah longsor, Desa Terunyan, khususnya yang berada di timur laut Danau Batur, masuk dalam kategori tinggi. Demikian pula wilayah penyangga lainnya seperti Kecamatan Rendang dan Kecamatan Tejakula.
Merujuk pada informasi dan hasil asesmen serta analisa dari BMKG dan InaRisk, BNPB meminta agar masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan dan selalu waspada adanya potensi gempa bumi susulan. Hal yang sama juga untuk potensi longsor mengingat kawasan terdampak saat ini mungkin masih labil. Guna menghindari adanya informasi yang tidak benar, diharapkan masyarakat dapat mengakses informasi dari pihak-pihak berwenang seperti BNPB dan BPBD setempat serta BMKG. (LE-KR)







