Pelanggan Keluhkan Air PDAM Jembrana yang Sering ‘Kecrat-kecrit’

Jembrana, LenteraEsai.id – Sejumlah penduduk di Banjar Bale Agung, Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana yang selama ini menjadi pelanggan PDAM Jembrana, mengeluhkan pelayanan perusahaan air minum tersebut.

Penduduk mengeluh setelah air bersih yang mereka butuhnya hanya mengucur dalam beberapa jam saja setiap harinya, dan itupun sering hanya berlangsung dengan ‘kecrat-kecrit’.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut diungkapkan beberapa pelanggan PDAM Jembrana ketika ditemui di rumah mereka di Banjar Bale Agung, Desa Yek Embang, Selasa (29/6/2021).

Ketut Ardita, salah seseorang warga Banjar Bale Agung mengatakan bahwa keluarganya adalah pelanggan atau konsumen dari PDAM Jembrana sejak sekitar 3 tahun lalu.

Belakangan, kata Ardita, air PDAM tidak sepenuhnya mengalir ke rumah warga sepanjang hari, melainkan tidak jarang hanya menyucur dalam satu atau dua 2 jam saja. Selebihnya hanya terdengar suara angin bila kran dibuka.

“Saya sendiri sebagai pelanggan merasa dirugikan, karena setiap bulannya kewajiban harus membayar air dengan patokan atau bayar tetap sejumlah Rp 100 ribu per bulan,” katanya.

Mengenai hitungan pemakaian yang biasanya dihitung melalui meteran, dia mengatakan alat itu ada, namun tidak digunakan. “Jadinya saya bayar air PDAM memakai patokan harga Rp 100 ribu setiap bulan tanpa hitungan meteran air. Begitu pula petugas lapangan tidak pernah mengecek, entah berapa kubik air yang telah terpakai ,” ujarnya.

Dikatakan, rekening tagihan air PDAM tidak pernah diberikan dan pembayaranya pun tidak pernah diberikan kwitansi. “Pemungut dari petugas PDAM datang, ya kami bayar Rp 100 ribu, itu saja,” ujarnya.

Guna mengatasi kesulitan air bersih selama ini, baik Ardita maupun beberapa tetangganya yang lain, mengaku terpaksa harus membeli tandon (tabung penampung ) untuk menyimpan air saat air ledeng datang mengucur.

Untuk itu, penduduk memohon kepada manajemen PDAM dapat memperbaiki pelayanan ke depannya agat tidak sampai merugikan masyarakat pelanggan.

Hal senada diungkapkan Made Sugawa yang juga tinggal di Banjar Bale Agung, bahwa dirinya merasa dirugikan oleh PDAM. Bagaimana tidak rugi. Setiap bulannya harus bayar tagihan air, sementara setiap harinya ada 2 sampai 3 kali pemadaman.

“Jam 11 hidup sampai jam 2, setelah itu mati sampai sore, kemudian malam hari kadang lagi nyala kadang tidak. Jadi sangat terganggu, apalagi musim hujan tiba, air sering mati total ,” ujar Sugawa, menjelaskan.

“Saya berharap layanan air PDAM bisa lebih baik lagi, jangan sampai merugikan masyarakat karena air merupakan kebutuhan hidup yang vital,” katanya, berharap.  (LE-JB)

Pos terkait