Anak Telat Bicara, ‘Ngoceh” Setelah Memohon di Pelinggih Temuku Telu Banjar Gegadon

Pelinggih di Banjar Adat Gegadon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi-Badung-Bali

Badung, LenteraEsai.id – Beberapa tempat di Bali diyakini memiliki mitos, cerita serta angker dan bertuah oleh masyarakat di suatu daerah, mulai dari adanya tempat memohon rezeki hingga mohon keturunan, kesembuhan dan lain-lain.

Seperti salah satunya pelinggih yang berada di Banjar Adat Gegadon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung yang diyakini sebagai tempat memohon kesembuhan atau dapat membuat anak-anak yang terlambat berbicara menjadi normal.

Bacaan Lainnya

Pelinggih yang berdiri di pinggir jalan di wilayah Banjar Adat Gedogan itu, oleh warga setempat biasa disebut genah Sang Hyang Iswara atau Temuku Telu.

Adapun kisah keberadaan pelinggih tersebut, pewarta LenteraEsai (LE) sempat menemui Kelian Banjar Adat Gegadon I Ketut Suta di kediamannya, Minggu (28/6). Ia menyampaikan, dari cerita para tetua, konon sebelum dibangun pelinggih, di lokasi itu dulunya merupakan tempat pembagian air untuk subak atau biasa disebut temuku.

Temuku itu kemudian dinamakan Temuku Telu sebagai istilah guna memudahkan memberi informasi soal pengairan subak untuk areal pertanian yang ada di Desa Adat Kapal, ucapnya.

Ternyata tempat pembagian air untuk subak tersebut lama kelamaan diyakini oleh masyarakat sebagai tempat untuk memohon kesembuhan bagi anak-anak yang terlambat bicara.

Keyakinan yang kemudian disampaikan lewat ceritera dari mulut ke mulut, membuat banyak orang mulai berdatangan ke pelinggih Temuku Telu untuk memohon agar putra putrinya yang terlambat berbica dapat disembuhkan, atau dapat mengucapkan kata-kata sebagaimana layaknya anak sesuai dengan tingkatan usia dan pertumbuhan fisiknya.

“Sepengetahuan saya, sejak tahun 1960-an sudah ada orang dari luar Banjar Gegadon yang datang memohon agar anaknya bisa berbicara dengan melukat di areal pelinggih tersebut,” katanya.

“Saya ingat waktu itu saya umur 8 tahun. Ada orang dari dari Negara, Kabupaten Jembrana yang datang ingin melukat ke sini. Sampai dia mesesangi (kaul), kalau anaknya bisa bicara akan mempersembahkan sesuatu sebagai wujud terima kasih,” ujar Ketut Suta, mengenang.

Pada saat itu, lanjut Ketut Suta, belum ada palinggih seperti yang saat ini telah berdiri. Juga belum ada jalan raya seperti sekarang, yang ada hanya jalan setapak.

Setelah ceritera tentang keberadaan tempat melukat yang dapat menyembuhkan anak yang telat bicara semakin menyebar dari mulut ke mulut, saat itu ada seorang dokter spesialis kandungan datang ke tempat tersebut untuk ‘mengobati’ anaknya.

Dokter tersebut datang dengan mengajak anaknya untuk dilukat di sana, sambil berjanji jika anaknya dapat berbicara akan membayar kaul berupa membuatkan pelinggih di tempat itu, dan ternyata permohonannya terkabulkan.

“Saya kurang tahu tentang alamat lengkap dokter tersebut di Negara, namun yang jelas dia membuka praktik di daerah Kediri, Tabanan. Ketika itu dia berdoa jika anaknya bisa bicara, dia sanggup menghaturkan pelinggih dan kelengkapannya,” kata Ketut Suta sembari mengingat-ingat bahwa peristiwa tersebut terjadi antara tahun 2002-2003.

Karena doanya tergabulkan itulah, kata Kelian Suta, akhirnya sang dokter pada tahun itu juga membayar sesangi atau kaul dengan membangun pelinggih Temuku Telu seperti yang ada sekarang.

Untuk pelaksanaan melukat bagi anak kecil yang terlambat bicara, dilakukan setiap rahinan Kajeng Kliwon atau 15 hari sekali. Sedangkan piodalan di pelinggih tersebut dirayakan setiap Hari Raya Kuningan.

“Pemangku khusus di Temuku Telu belum ada. Sehingga, kami sepakat melalui paruman banjar, semua pemangku di Banjar Gegadon, dapat melayani umat yang datang. Ada 6 pemangku yang diatur bergilir untuk ngayah di pelinggih oleh paiketan pemangku. Kadang-kadang kami libatkan semua jika umat banyak yang datang,” katanya.

Sejauh ini, umat yang datang memohon dan melukat tidak hanya dari wilayah Badung, namun hampir dari seluruh daerah di Bali. Bahkan banyak juga dari luar Pulau Dewata yang tangkil ke Temuku Telu, baik itu semeton Hindu di rantauan maupun umat non Hindu lainnya.

“Kepada setiap pemedek yang datang, saya bilang apa adanya saja. Tuhan hanya satu, jadi memohonlah sesuai dengan keyakinan anda masing-masing. Yakini tempat ini bisa memberikan anugerah,” ucap Kelian Suta, menuturkan.

Sementara untuk umat Hindu, sarana upakara sebetulnya tidak ada batasan yang pasti. Namun demikian, sebaiknya umat datang dengan membawa daksina pejati setiap tangkil menyampaikan doa dan permohonan.

“Silakan sesuai kemampuan dan keyakinan masing-masing. Setiap rahine Kajeng Kliwon, penglukatan kami jadwalkan mulai pukul 08.00 Wita, tapi pemedek pukul 07.00 sudah ada yang datang, dan ini kadang berlangsung sampai larut malam. Namun dalam situasi Covid-19 begini, kami batasi sampai pukul 21.00 Wita. Termasuk persembahyangan kami atur maksimal 20 orang per sesi, karena masih situasi Corona,” ucapnya, menjelaskan.

Pelinggih yang merupakan stana dari Ida Bhatara Sang Hyang Iswara, kini  diempon oleh Banjar Adat Gegadon, Desa Adat Kapal, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.  (LE-AK)

Pos terkait