Rendang, LenteraEsai.id – Tempat penglukatan Pura Panca Tirta terletak di sebuah dusun berhawa sejuk dalam ‘wewengkon’ Pura Dalem Kupa, di perbatasan Kabupaten Karangasem-Bangli, tepatnya di Dusun Bujaga, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali.
Disebut Pura Panca Tirta sehubungan tempat penglukatan dan nunas tamba tersebut terdiri atas lima mata air dengan lima pancuran bambu yang berbeda. Berbeda sumber airnya, berbeda pula fungsi dan khasiatnya.
Untuk menuju lokasi penglukatan itu, krama lebih dulu melewati areal persawahan, menyusuri jalan setapak di pinggiran ‘telabah’ berair bening, kemudian turun ke jalanan berundak-undak hingga akhirnya sampai ke lokasi di pinggir sungai kecil diapit tebing yang rimbun popohonan.
Nuansa mulai terasa ‘angkeb’, mistis, namun damai terasa memancar, dan angin pun berhembus perlalahan dari lorong ‘pangkung’ yang memanjang dari arah utara ke selatan. Segar, begitu kesan pemedek duduk di balai bambu yang khusus disediakan. Lengkap dengan warung jajanan.
Sejak tahun 1980-an, nama Pura Panca Tirta sudah dikenal krama yang ingin ‘nunas tamba’ agar terbebas dari kesulitan hidup, yakni berkaitan dengan penyakit medis dan non-medis. Tidak hanya itu, tidak sedikit pula pemedek yang nunas berkah dan keberuntungan.
Penglingsir Pura Panca Tirta, Jro Mangku Ketut Mekel ketika dijumpai di areal pura baru-baru ini menyatakan, sejak berpuluh tahun silam, nama pura penglukatan ini telah dikenal warga. Pada awalnya, hanya seputar krama Nongan yang nunas tamba di penglukatan tersebut. Lama-lama, dari mulut ke mulut atau mendapatkan pawisik, akhirnya warga yang ingin berobat makin meluas dari berbagai daerah.
“Dahulu ayah saya Jro Mangku Dana yang ngiringang Ratu Gede Balian Sakti, yang berstana di Pura Panca Tirta. Saat itu, orang-orang berdatangan untuk melukat dan berobat berbagai macam penyakit, karena tirta di sini memang berkhasiat mengobati penyakit. Namun, kemudian pada tahun 2004, Jro Mangku Dana meninggal dunia,” ujar Jro Mangku Ketut Mekel.
Sepeninggal Jro Mangku Dana, aktivitas di Pura Panca Tirta akhirnya terhenti. “Karena saya ketika itu bekerja sebagai tenaga kontrak di BRI, sehingga tidak terpikir untuk melanjutkan tugas ayah saya. Akhirnya tidak ada yang ngiringan ida metetambah selama sekitar 8 tahun. Kemudian berdasarkan pawisik lewat mimpi, saya didatangi ayah saya bersama Ratu Gede Balian Sakti. Intinya, saya disuruh ngaturang ngayah metetamban,” kata Jro Mangku Ketut Mekel, menceritakan.
Sejak mendapatkan pawisik, lanjut dia, dirinya tidak langsung memutuskan untuk mengiyakan, melainkan melakukan rembug dulu dengan keluarga besar. Ternyata segenap keluarga besar menyetujuinya untuk menuruti pawisik, sehingga akhirnya ‘diwinten’ dan sejak itu sah ngiringang ida metetamban di Pura Panca Tirta.
“Anehnya, sejak saya ngiringang di sini, tidak berselang lama, warga yang ingin berobat spontan berdatangan ke areal pancoran penglukatan,” ujarnya dengan menambahkan, mereka yang berdatangan ada karena mendapatkan pawisik, ada yang spontan karena dorongan hati, dan ada juga yang datang setelah mendapatkan petunjuk dari seorang jro balian di suatu desa tempatnya berobat.
“Tidak sedikit jro balian, jro tapakan atau orang pintar yang kemudian memberi petunjuk untuk datang nunas tamba atau melukat ke Pura Panca Tirta guna meleburkan penyakit atau mala yang ada dalam tubuh si pasien,” ujar Jro Mangku Mekel menyempatkan diri menerima pewarta LenteraEsai di sela kesibuhan melayani puluhan pemedek siang itu.
Menyinggung penyakit yang sering ditangani selama ini, Jro Mangku Mekel mengatakan bahwa kebanyakan yang datang untuk melebur penyakit kena magik, kesurupan, bebai, pepasangan, guna-guna atau pelet, sukik dari Lombok atau luar Bali, bengor dan lainnya. Hal lain yang sering dijumpainya adalah banyak yang memohon jodoh sujati, nunas diberikan keturunan, hidrosefalus (penyakit kepala membesar), lumpuh, bisu atau nunas keturunan.
“Kalau diperkirakan, ada sekitar 200 pasangan yang berhasil mendapatkan keturunan setelah dilukat di sini. Sementara untuk yang bisu, mendadak bisa ngomong, atau yang lumpuh juga kemudian bisa berjalan. Ini sudah terbukti dalam berkali-kali,” ucap Jro Mangku Mekel seraya menambahkan, memang air di penglukatan tersebut sudah terbukti sebagai obat segala macam penyakit . (Bersambung/LE-KR)







