Badung, LenteraEsai.id – Trah sapi Bali sudah dikenal di tanah air, dengan salah satunya ciri khasnya berpantat putih. Pengiriman sapi Bali ke luar daerah (Jakarta dan lainnya), rutin dilakukan. Baik sapi betina maupun jantan. Pengiriman ada yang legal dan disebut-sebut ada pula pengiriman sapi Bali secara ilegal. Semua itu merupakan sapi potong.
Umumnya peternak sapi di Bali masih secara tradisional, pakan berupa macam-macam rumput, jerami, debong (batang pisang), papah (pelepah pohon kelapa) dan lainnya. Ada peternak yang terkesan asal-asalan. Kurang memperhatikan sanitasi kandang/lingkungan. Kotoran menumpuk, air tergenang dan becek. Bahkan ada peternak tanpa menyediakan kandang bagi ternak sapinya. Istilahnya beratap langit. Namun hebatnya, ternak sapinya tetap tampak gemuk dan sehat-sehat.
I Ketut Ardita Yasa dan I Made Wana Yasa, dua orang peternak sapi dari Banjar Jempeng Kauh, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, tergolong peternak sapi yang sukses. Enam bulan sekali mereka mengaku menjual ternak sapinya. Kalau sapi jantan menjelang Hari Raya Idul Adha dapat pasaran harga bagus. Sapi jantan untuk sapi potong. Godel (anakan sapi) juga laku keras, orang mencari untuk dipelihara.
Ardita yang juga dikenal sebagai tukang panjat pohon kelapa, sekarang memelihara 5 ekor sapi. Kalau musim penghujan ia mengaku tidak kewalahan pakan bagi ternak-ternaknya, karena ia juga ngontrak lahan untuk menanam rumput gajah. Pas musim panen padi ada jerami untuk pakan sapi.
“Biasanya kalau musim kemarau, terjadi krisis pakan ternak sapi. Saya juga sudah mulai menanam rumput gajah di pekarangan rumah,” tutur Ardita dalam percakapan dengan LenteraEsai (LE) pada Kamis, 18 Maret 2021 lalu.
Pria jebolan SMK Jurusan Listrik itu mengungkapkan, tidak semua sapi yang dipelihara sekarang ini miliknya. Melainkan ada yang ngadas (sapi milik orang lain Red-) dengan sistem bagi hasil.
Disinggung limbah ternaknya yang membukit dan kandang tanpa atap, Ardita yang oleh warga setempat dipanggil Pak Rama, malah tertawa. Kata dia, limbah sapi musim hujan, susah dibersihkan, kondisinya becek. Sedangkan mengenai kandangnya yang tanpa atap, Ardita menyebutkan itu terjadi lantaran beberapa hari lalu roboh diterjang angin kencang.
“Atap terbang, belum sempat saya memperbaiki. Minggu-minggu ini saya lagi banyak order memanjat pohon kelapa, jadi memperbaiki atap kandang sapi dipending dulu,” katanya, beralasan.
Ditanya hasil beternak sapi, Pak Rama tidak langsung menyebut angka. Ia mengatakan beternak sapi itu bagaikan nabung. Nanti kalau sapi sudah gede, terutama yang jantan, lalu dijual. Sedang sapi betina sedapat mungkin induknya tidak dijual, karena untuk dicari anaknya. Kecuali induknya sudah tua, tidak produktif lagi. “Kalau jual sapi itu, sama dengan ngempug celengan (buka tabungan). Ya lumayan untuk memenuhi kebutuhan tertentu,” paparnya.
Lelaki dua anak itu bertekad, akan terus mengembangkan ternak sapi. Tidak berhenti hanya pelihara 5 ekor, tetapi terus nambah. Dengan sambil memperbaiki manajemen pemeliharaan dan pemasaran. Ke depan, kandang akan dipindahkan dari pekarangan rumah ke tegalan atau sawah. “Kalau biaya memungkinkan, saya akan bangun kandang permanen dengan kapasitas 20 ekor sapi. Mumpung masih muda dan anak-anak masih kecil-kecil,” katanya bersemangat.
Peternak sapi, Wana Yasa alias Pak Bayu, ceriteranya tidak jauh dengan Pak Rama. Cuma ia lebih santai, lantaran baru pelihara sapi dua ekor saja. Tetapi ke depannya ada rencana dia menambah ternak sapi. Pria ini selain beternak, juga mengerjakan sawah. Bukan hanya itu, Pak Bayu juga punya job lain, misalnya jadi asisten penganyar sapi. Kalau ada peternak menjual sapi, ia melihat, menaksir harga dan menawar. Informasi diteruskan ke bosnya, penganyar sapi.
“Kalau jadi pengangon (beternak), saya sudah dari kecil. Kalau naksir harga sapi dan nawar sapi, saya masih belajar. Yah..bantu-bantu bos pedagang sapi. Istilahnya mencari uang rokok,” tuturnya sambil melempar senyum dikulum. (LE/Ima)







