Denpasar, LenteraEsai.id – Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan bahwa kehadiran suatu organisasi ‘pasemetonan’ sebagai bagian dari krama Bali, mempunyai peranan yang sangat penting dalam keberlangsungan adat dan budaya.
Gubernur Koster mengatakan hal itu pada pembukaan Mahasabha IV Maha Warga Bujangga Waisnawa, bertempat di Gedung Nari Graha Renon Denpasar pada Minggu (14/2).
“(Pesemetonan, red) ini menunjukkan satu cara untuk membangun kebersamaan, serta menunjukkan rasa bhakti kepada leluhur atau kawitannya,” kata Gubernur Koster.
Dalam acara digelar secara daring dan luring itu, Gubernur Koster mengingatkan bahwa tata cara kehidupan masyarakat Bali yang mengakar kuat pada adat serta budaya mesti selalu ingat dan bhakti kepada kawitan. Hal itu menurutnya harus terus terpelihara dengan baik. “Jika sampai lupa, bisa berat akibatnya. Itu melanggar bhisama,” ujar pria kelahiran Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng ini.
Gubernur Koster berharap pasemetonan dapat memperkuat diri serta meningkatkan kebersamaan. “Untuk itu harus terus dijaga soliditasnya, membangun terus semangat persatuan dalam diri, dan lebih lanjut turut berpartisipasi aktif menjalankan dan mendukung kebijakan pemerintah daerah,” katanya.
“Sebagai krama Bali kita punya kewajiban seperti itu, agar bisa membangun daerah bersama-sama,” kata alumnus ITB Badung ini, menambahkan.
Tak berhenti di sana, Ketua DPD PDI Perjuangan Bali ini juga menyebut pembangunan yang baik harus melibatkan semua komponen masyarakat, seluruh krama Bali apapun pasemeton-nya. “Untuk itu, visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali Melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru, menjadi arah besar bagi pembangunan Bali saat ini,” ujarnya.
Nangun Sat Kerthi Loka Bali ini sesungguhnya dijabarkan Gubernur Koster merupakan visi yang disusun dengan berakar pada nilai-nilai dan kearifan lokal masyarakat Bali.
Dijelaskannya pula bahwa Bali tak hanya punya sisi sekala atau fisik, namun diwariskan mengandung unsur niskala. “Unsur niskala juga yang membedakan Bali dengan daerah lainnya. Bali menjadi terkenal dan mempunyai aura yang sangat kuat karena unsur niskala ini. Saya berani jamin tidak ada yang menyamai bahkan di dunia ini,” sebut Gubernur Koster, penuh semangat.
Sementara itu, Ketua Panitia Mahasabha IV MWBW, Guru I Nyoman Cakra menyampaikan, sesuai dengan peraturan pemerintah di masa pandemi Covid-19, kegiatan mahasabha diikuti oleh peserta secara terbatas.
Peserta yang hadir langsung, lanjut dia, hanya pengurus inti moncol kabupaten/kota ditambah pengurus moncol pusat dan panitia. “Sementara pengurus moncol dari luar Bali, seperti Jawa, Sumatera hingga Sulawesi serta semeton lainnya dipersilakan mengikuti jalannya mahasabha melalui zoom meeting,” ujarnya.
Panitia juga mewajibkan peserta mahasabha menjalani rapid test (tes cepat) antigen, sebelum memasuki tempat acara mahasabha, kata Guru Cakra. (LE-DP1)







