Tepis Hoax via Medsos, Masyarakat Bakbakan Dilatih Literasi Media

Gianyar, LenteraEsai.id – Peran media sosial di masa pandemi Covid-19 meningkat tajam, bahkan hampir seluruh masyarakat mampu mengakses serta memanfaatkan media tersebut.

Namun di sisi lain, literasi terkait dampak media sosial belum dipahami masyarakat secara optimal, katas Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra I Wayan Kotaniartha, saat melaksanakan kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi bidang Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema ‘Pemberdayaan Potensi Sosial dan Literasi Media Bagi Masyarakat Perdesaan’, di Desa Bakbakan, Kecamatan/Kabupaten Gianyar, Jumat (17/12). 

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, ia mengatakan, kegiatan bakti sosial yang dirangkai dengan pelbagai kegiatan itu diikuti sekitar 25 mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, perwakilan BEM Universitas Dwijendra, siswa SMK PGRI 2 Gianyar hingga masyarakat Desa Bakbakan.

Kegiatan yang dilaksanakan sehari tersebut juga akan diisi pengabdian masyarakat dengan melaksanakan bersih-bersih di areal Kantor Desa Bakbakan yang dibarengi dengan aksi penanaman pohon. Selanjutnya kegiatan dilaksanakan di SMP PGRI 4 Gianyar dan SMK PGRI 2 Gianyar.

Di dua sekolah tersebut kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi dirangkai dengan pelatihan tata rias bagi ibu-ibu PKK oleh LPK Agung hingga pelatihan tentang Literasi Media bagi siswa SMK PGRI 2 Gianyar, ucapnya.

Wayan Kotaniartha menyebutkan, literasi masyarakat terhadap gempuran informasi yang diterima lewat berbagai media hingga media sosial, menjadi fokus kegiatan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra. Sehingga masyarakat terutama siswa SMK dan generasi muda di pedesaan memiliki kemampuan resistensi terhadap informasi yang diterima.

Bisa dibayangkan, lanjut Wayan Kotaniartha, jika rumor yang berkembang menyebar dan membuat kecemasan di masyarakat, begitu juga kecemasan yang berkembang dan berubah menjadi rumor. Maka simpang siur informasi di masyarakat tak terelakkan. Padahal sesungguhnya berita ataupun informasi di masyarakat semestinya menjadi hal yang mendidik dan memberikan pemahaman kepada masyarakat.

“Literasi ini penting bagi masyarakat pedesaan yang setiap hari menerima gempuran informasi lewat berbagai media, sehingga setelah pelatihan ini, generasi muda dan masyarakat mampu memilih berita yang memiliki validitas yang cukup, bukan berita palsu ataupun informasi yang disebarkan tanpa sumber yang jelas,” ujar Kotaniartha, menjelaskan.

Sementara itu, Rektor Universitas Dwijendra Gede Sedana mengatakan, kegiatan Tri Darma Perguruan tinggi merupakan kewajiban universitas, sehingga kegiatan kuliah, mengajar, penelitian hingga pengabdian masyarakat bisa berjalan dengan baik. Universitas seharusnya selalu menyatu dengan masyarakat, sehingga apapun kebutuhan masyarakat semestinya secara keilmuan bisa dipenuhi kampus. Kerja sama antara pihak pemerintahan desa dan kampus juga menjadi salah satu fokus dalam melaksanakan program Kampus Merdeka Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kampus Merdeka Belajar merupakan kebijakan Menteri yang bertujuan mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna di dunia kerja. Kampus merdeka memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memilih mata kuliah yang akan mereka ambil dan butuhkan di dunia kerja. Jadi secara langsung mahasiswa akan diajak untuk belajar cara hidup di masyarakat.

“Mahasiswa diajak secara dini mengetahui lingkungan dan bermasyarakat seperti kegiatan bakti sosial dalam upaya mewujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi dan Kampus Merdeka Belajar,” kata Gede Sedana.

Hal senada diungkapkan Perbekel Desa Bakbakan, Gede Ari Indra Wangsa Waisnawa, yang menyebutkan bahwa kebijakan Kampus Merdeka Belajar dengan kegiatan bakti sosial, merupakan upaya pengenalan potensi desa. Di samping itu, pemerintahan desa masih membutuhkan berbagai kajian keilmuan tentang tata kelola pemerintahan, pertanian hingga pariwisata.

Selama ini pemerintah desa menjalankan pemerintahan hanya melalui pengalaman dan aturan yang berlaku, tanpa inovasi di bidang tertentu. Karenanya, kerja sama kampus dan desa merupakan hal penting dalam mewujudkan pembangunan di desa, ucapnya.

Kegiatan semacam ini sangat dibutuhkan masyarakat dan diharapkan rutin dapat diselenggarakan setiap tahunnya. “Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut, sehingga kerja sama desa dengan kampus semakin terwujud,” ujar Gede Ari Indra W, mengharapkan.  (LE-GN1)

Pos terkait