Akademisi Sebut Kurikulum Cinta Kemenag Hidupkan Pendidikan Humanis

Akademisi sebut kurikulum Cinta Kemenag hidupkan pendidikan humanis
Akademisi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK) Singaraja Bali Duwi Oktaviana. ANTARA/Dokumen Pribadi Duwi Oktaviana

Singaraja, LenteraEsai.id – Akademisi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan (IMK) Singaraja Bali Duwi Oktaviana menyatakan kurikulum Cinta yang kini digauangkan Kementerian Agama tidak sekadar konsep tambahan melainkan sebuah pendekatan yang menghidupkan pendidikan humanis.

“Di tengah arus dinamika pendidikan yang lebih condong menekankan capaian kognitif, kurikulum Cinta hadir sebagai pengingat bahwa sejatinya manusia tidak hanya dibentuk oleh pengetahuan semata, namun juga oleh sebuah rasa,” kata Oktaviana di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Sabtu.

Bacaan Lainnya

Dia mengungkapkan Cinta dalam Hindu tidak hanya dipahami secara sempit sebagai emosi personal, melainkan sebagai energi universal yang menghubungkan manusia dengan sesama, alam, dan Tuhan. Nilai-nilai dalam Hindu seperti Tat Tvam Asi (Aku Adalah Engkau) menjadi fondasi penting.

Kurikulum Cinta, kata dia, juga berusaha menerjemahkan nilai tersebut ke dalam praktik pendidikan sehari-hari, tidak hanya sebatas aktivitas di dalam kelas. Peserta didik diajak untuk melihat orang lain sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Oktaviana menjelaskan penerapan kurikulum Cinta terlihat dari cara guru berinteraksi dengan peserta didiknya.

Pendidik tidak hanya hadir sebagai pengajar, lebih dari itu, ia menjadi pembimbing yang hadir dengan ketulusan.

“Hubungan yang dibangun bukan berbasis otoritas melainkan kedekatan yang penuh penghargaan dan apresiasi. Dari sinilah akan tumbuh rasa aman dalam proses belajar yang menjadi kunci bagi perkembangan karakter anak,” papar dia.

Di ruang kelas, kurikulum Cinta mendorong pembelajaran yang lebih mendalam dan penuh perenungan. Peserta didik tidak hanya diajak memahami ajaran, tetapi juga merasakannya dalam kehidupan nyata.

“Contohnya, ketika peserta didik mempelajari konsep dharma, mereka tidak berhenti pada definisi, namun diajak merenungkan kembali bagaimana bersikap adil, jujur, dan penuh kasih dalam aktivitas kesehariannya,” paparnya.

Dalam konteks pendidikan tinggi khususnya di lembaga keagamaan Hindu, kurikulum Cinta dapat menjadi ciri khas yang membedakan.

Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan sebagai individu yang cerdas secara intelektual, namun matang secara emosional dan spiritual.

Mereka (siswa/mahasiswa) diharapkan mampu membawa nilai kasih ke masyarakat luas dan memberikan dampak perubahan yang positif.

Implementasinya tidak selalu mudah, namun perlu komitmen bersama dari seluruh stakeholder yakni dosen, mahasiswa, insitusi, maupun pemerintah.

“Kurikulum Cinta bukan dokumen administratif, melainkan budaya yang harus dihidupi bersama sehingga keteladanan diperlukan untuk menumbuhkan nilai-nilai tersebut,” katanya.

Octaviana menyebut pada akhirnya, kurikulum Cinta adalah sebuah upaya untuk mengembalikan makna pendidikan itu sendiri ke akar yang paling hakiki.

Menurutnya belajar bukan hanya tentang menjadi pintar, menguasai materi, mengejar prestasi akademik, namun lebih dari itu, belajar adalah tentang menjadi manusia seutuhnya yakni peka secara rasa, matang dalam sikap, dan bijaksana dalam bertindak.

“Pendidikan harus mampu menjadi ruang pembentukan karakter bukan sekedar transfer pengetahuan. Pendidikan juga harus mampu menumbuhkan kesadaran karena sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memiliki kesadaran,” kata dia. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait