Denpasar, LenteraEsai.id – Menjaga lingkungan hidup adalah perjalanan menebar kebajikan yang tanpa tepi, sebuah ikhtiar yang harus dijalankan secara konsisten agar bumi tidak lagi menjadi tanah gersang, melainkan kembali menjadi ruang hidup yang menenteramkan bagi seluruh penghuninya. Di sinilah hadir sikap bakti kepada Ibu Pertiwi, sebagai upaya menjaga alam tetap lestari demi warisan generasi mendatang.
“Pada saat masih rintisan, dilakukan rembug dengan tokoh masyarakat, mengingat wilayah Sembung memiliki potensi volume sampah besar akibat keberadaan pasar tradisional, kos-kosan, hingga sejumlah pasar modern yang memunculkan potensi sampah,” ujar Ketua KPS Sembung Mesari ini.
Purwa Darminta menjelaskan, setelah itu berbagai komunitas yang memiliki visi sejalan di wilayah Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung mulai dilibatkan. Sebagai seseorang yang telah lama malang-melintang sebagai pekaseh, ia memahami kondisi lapangan sehingga menggandeng komunitas, tokoh masyarakat, hingga bendesa adat, dengan seizin desa dinas Sembung, untuk membangun koordinasi langkah penyelamatan lingkungan.
Ia menegaskan, dengan segala kekurangan yang ada, upaya ini tidak mungkin berjalan sendiri karena membutuhkan dukungan pemerintah yang memiliki regulasi dan anggaran.
Purwa Darminta berharap masyarakat Sembung dapat terus bersinergi dengan pemerintah kabupaten dan provinsi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Baginya, hidup hanya sementara dan tak seorang pun tahu batas usia, sehingga setidaknya setiap orang perlu meninggalkan jejak kebaikan.
“Besar harapan saya, agar ke depan nanti generasi muda mengambil tanggung jawab melanjutkan tugas mulia menjaga alam pada masa mendatang,” katanya dengan penuh kesungguhan.
Filosofi Tirtaning Arca Santi
Sementara itu, Agus Suciarta selaku Ketua KPS Arca menjelaskan bahwa KPS Arca berada di Banjar Tegenan, Desa Menanga, Kecamatan Rendang, Karangasem. Di kawasan ini terdapat pemandian Tukad Arca dengan air jernih dan lanskap alam yang masih terjaga. Tegenan memiliki banyak mata air, sekitar 20 titik, yang berhulu di Arca dan berhilir di Telaga Surya. Hampir setiap hari, anggota KPS Arca memantau kondisi mata air agar tetap bersih dari tumpukan sampah. Upaya menjaga lingkungan dilakukan bersama PAKIS, teruna-teruni, prajuru desa, KWT, siswa-siswi SMP, SMA, SMK, instansi, Polsek, dan Danramil, terutama ketika volume sampah meningkat.
Tukad Arca menjadi sumber mata air saat ritual Ida Bhatara Melasti yang digelar setahun sekali. Pada momentum itu, tumpukan sampah kerap muncul di berbagai titik sehingga penanganannya harus dilakukan secara terpadu.
Selain itu, terdapat objek wisata Lembah Arca sebagai lokasi pemandian dan area yang tengah dipersiapkan untuk melukat, sehingga pengelolaan sampah menjadi tanggung jawab bersama. Edukasi mengenai pengolahan sampah sudah dilakukan di kawasan Tegenan bahkan sebelum terbitnya SK Gubernur Bali, termasuk mengajak warga memilah sampah plastik. Langkah ini penting karena sejak dulu, terutama saat hari raya Galungan–Kuningan, banyak teruna-teruni berkunjung ke Lembah Arca dan sampah kerap berserakan.
“Selain edukasi, kami juga melakukan penghijauan dengan menanam bambu, paku ekor monyet, talas, pohon pule, dan beringin di sekitar Tukad Arca,” kata Agus.
Agus Suciarta menyampaikan tiga harapan utama: (1) adanya edukasi kepada masyarakat oleh pemerintah serta dukungan penanganan sampah plastik, misalnya melalui TPS3R. Selama ini sampah plastik dikirim keluar wilayah dan sesekali melibatkan pemulung, sehingga dibutuhkan dukungan penanganan yang lebih tepat guna. (2) dukungan penuh dari BBWS agar KPS di setiap daerah memiliki payung dan legalitas. (3) Arca memiliki filosofi tirtaning arca santi sebagai anugerah alam; secara harfiah arca adalah patung yang tidak pernah mengeluh. Filosofi ini mengajarkan bahwa bekerja untuk alam harus dilakukan penuh ketulusan tanpa keluh kesah.
Atraksi Wisata Burung Hantu
Tokoh pemerhati dan praktisi lingkungan I Putu Parta Yasa, Koordinator Gila Selingkuh Wilayah Tabanan, mengatakan bahwa selama 12 tahun terakhir berbakti pada Ibu Pertiwi merupakan cara menjaga diri sendiri demi kualitas hidup berkelanjutan dengan pola hidup sehat. Menurutnya, bagi petani, tanah seharusnya diolah tanpa bahan kimia demi mengejar hasil, sebab tanah pada dasarnya telah memiliki kandungan lengkap yang dibutuhkan tanaman selama tidak diracuni. Di dalamnya hidup bakteri, mikroba, dan mikroorganisme beragam yang mampu mengurai sampah organik menjadi mineral, protein, serta unsur perangsang tumbuh. Itulah yang harus dijaga sebagai orientasi agar tanaman tetap sehat dan layak dikonsumsi.
Edukasi telah dilakukan, meski tidak mudah karena program ketahanan pangan masih melibatkan unsur kimia yang justru merusak hara tanah. Karena itu, gerakan dimulai dari mereka yang memahami pentingnya hidup sehat. Pendampingan kepada petani tentang pertanian ramah lingkungan dan organik sudah berjalan, namun terkendala karena keberlanjutan program tidak terjamin sehingga petani kesulitan menentukan pasar. Persoalan ini, katanya, perlu disadari pemerintah.
“Berbakti itu persoalan personal untuk kehidupan masing-masing. Banyak ingin hidup sehat, tetapi tak memahami apa yang mereka konsumsi. Yang mahal itu sehat. Jika tubuh tidak sehat, sia-sia kerja keras. Kesehatan bergantung pada apa yang kita makan, minum, dan hirup. Karena itu kami beberapa kali melakukan penghijauan, sebab paru-paru membutuhkan oksigen yang cukup,” ujar Putu Parta.
Ia menegaskan, hingga kini gerakan terus berjalan dengan prinsip keseimbangan, memaknai konteks berbakti pada semesta. Bersama sejumlah rekan, mereka berupaya mewujudkan siklus alam yang alami agar manfaatnya dapat dirasakan. Menurutnya, dalam lingkungan lokal dibutuhkan pemimpin yang memahami kondisi psikologis anggota agar komunitas di Bali tetap bertahan dengan keyakinan berbakti pada semesta melalui alur Tri Hita Karana yang diperkuat secara personal lewat Tri Kaya Parisuda. Dalam gerakan peduli sungai di Bali, Putu Parta mengaku kagum pada sosok Gungnik dari Tukad Bindu yang responsif menghadapi tantangan KPS dan tetap konsisten mendampingi dengan pengorbanan materi, waktu, dan pikiran. Ia berharap sosok ini menjadi inspirasi agar hubungan menjaga alam terjalin demi masa depan anak cucu, sebab perilaku manusia selama ini seperti merampas masa depan mereka dengan mencemari air sebagai sumber kehidupan dan tanah sebagai lumbung pangan. Jika dibiarkan, nasib generasi mendatang akan kian terancam.
“Gebrakan 2026, kami bentuk pola agar menjaga alam tetap selaras dengan kebutuhan hidup yang berorientasi ekonomi. Bagaimana menciptakan lingkaran baru tanpa merusak alam. Kami membangun hubungan dengan beberapa pihak untuk menjalankan rancangan ini tahun 2026,” jelas Putu Parta.
Harapannya sederhana saja, lanjut Putu Parta, hendaknya mereka yang berkebun mampu menjaga kebunnya, petani mampu menjaga sawah serta subak dengan baik. Tantangannya adalah alih fungsi lahan yang berdampak pada kondisi geografis, resapan air, penghancuran hutan, dan sempadan. Menurutnya, masyarakat tidak bisa sekadar diminta menjaga lahan tanpa diberikan kenyamanan ekonomi. Solusi harus ditemukan demi menjaga alam, mengurangi banjir, dan menekan dampak lingkungan, sebab jika alam tidak baik, manusia pun tidak mungkin hidup baik; yang utama adalah menjaga alam lebih dulu.
Sistem menjadi aspek penting, karena alam dan tanah yang baik tanpa ekosistem seimbang tetap menghadapi masalah. Setiap makhluk hidup memiliki peran, seperti capung yang mengendalikan serangga kecil pengganggu tanaman. Jika tanaman terganggu, kesejahteraan petani pun terancam. Sejak 2015 mereka memulihkan predator tikus, karena petani sering merugi akibat padi dimakan tikus. Mereka memilih burung hantu sebagai predator utama, sebab ular hanya makan tikus lalu tidur seminggu, sementara burung hantu berburu setiap hari. Diharapkan semakin banyak pihak peduli agar program ini berlanjut. Di Penebel, mereka menjalin hubungan dengan donatur dan relawan luar negeri sehingga memperoleh bantuan rumah burung hantu di sawah. Burung hantu membutuhkan pohon besar berlubang karena tidak mampu membuat sarang dan tidak hidup berkoloni. Rumah burung hantu sangat membantu perkembangbiakan. Ke depan diharapkan muncul atraksi malam mengamati burung hantu dan kunang-kunang sehingga pariwisata tumbuh sambil menjaga alam. Harapannya, lahir wisata edukasi bertema pelestarian alam.
Petanu sebagai Tirta Kehidupan
Penggerak KPS Ayuning Ulu Petanu, I Made Gde Suryawan, menjelaskan bahwa ayuning bermakna kemuliaan dan ulu berarti hulu. Cikal bakal KPS Ayuning Ulu Petanu bermula pada masa pandemi Covid-19 ketika kelompok pecinta kegiatan adventure sering berkemah. Dari kebiasaan itu mereka semakin akrab dengan sungai dan rutin membersihkan aliran bersama mahasiswa, pecinta alam, dan teruna-teruni di kawasan Petanu. Aktivitas tersebut kemudian diketahui pihak desa yang memberikan dukungan dan mendorong agar kegiatan itu membawa manfaat lebih luas, sehingga semangat merawat sungai semakin tumbuh.
KPS Ayuning Ulu Petanu memiliki 63 anggota dan didirikan pada 28 Desember 2020, dengan anggota yang berprofesi beragam seperti pengukir, petani, dan pegawai. Di tingkat kabupaten mereka terhubung melalui sekretariat bersama (Sekber), demikian pula di tingkat provinsi melalui Sekber di Tukad Bindu sebagai pusat KPS se-Bali dengan tagline Gila Selingkuh (Giat Lestarikan Alam, Selamatkan Lingkungan Hidup).
Untuk menggaungkan kepedulian pada sungai, mereka kerap mengundang mahasiswa dan muda-mudi berkemah sambil melakukan pelestarian alam, serta membuat kegiatan bersama KPS se-Bali.
“Sungai harus dibersihkan sekarang dan dilakukan secara konsisten. Agar konsisten, sungai perlu dijadikan menarik, misalnya sebagai objek wisata. Dengan demikian kami terus turun ke sungai, dan ujungnya sungai serta mata air tetap terjaga,” ujar Gde Suryawan.
Kendala utama adalah biaya. Namun berkat kemurnian niat anggota, mereka tetap bergerak meski tanpa dukungan dana. Kesepakatan mereka sederhana: sungai harus dijaga apa pun keadaannya.
Harapannya, sungai dapat dirawat bersama agar air tetap bersih. Sebab kehidupan manusia sepenuhnya bergantung pada air, dan jika air rusak serta tercemar, manusialah yang paling menderita. Pada akhirnya, menjaga sungai berarti menjaga kehidupan sendiri—sebuah janji kecil bagi bumi yang menunggu ketulusan kita untuk merawatnya. (LE-Vivi)







