Denpasar, LenteraEsai.id – Hanya sebuah workshop kecil, berukuran sekitar 2,5 meter X 3 meter, dengan meja memanjang yang dipenuhi berbagai ornamen bahan baku dan alat pembuatan pernak-pernik kerajinan. Sekilas tidak ada yang istimewa, tetapi siapa menyangka, dari ruangan workshop yang kecil ini, lahir berbagai macam kerajinan ‘handmade’ yang menarik minat masyarakat global dari berbagai belahan dunia. Dan lebih tidak disangka lagi, usaha berbasis rumahan ini ternyata mampu menjadi tempat ‘bersandar’ bagi anak-anak difabel dan lansia untuk bisa melanjutkan detak langkah kehidupan.
“Bisnis kerajinan ini saya rintis pada tahun 2019 bersama istri saya Diana dengan modal kurang lebih Rp 5 juta. Mengapa saya memilih usaha kerajinan, ya karena sejak kecil, saya suka sekali dengan beragam produk lokal Indonesia karena memiliki keindahan tersendiri dan ada filosofi cerita dari setiap karya dari perajin dari berbagai daerah di Indonesia,” kata Wiko Wikarta, saat ditemui di workshop berlabel Tutu & Co, yang terletak di Kertalangu, Kesiman, Denpasar Timur, pada pertengahan Juni 2025 lalu.
Menurut pria kelahiran Cirebon ini, keeksotikan berbagai produk lokal Indonesia sudah waktunya dinaikkan derajatnya sehingga memiliki nilai eksklusif. Bahkan, Wiko kemudian melakukan survei dengan mendatangi pasar seni di Sukawati, Gianyar, untuk melihat produk kerajinan masyarakat Pulau Dewata. Ketika itu, Wiko terpukau melihat berbagai macam kerajinan yang dibuat para seniman Bali.
Namun di balik itu, terselip rasa prihatin melihat produk kerajinan itu dihargai dengan nilai yang murah. Padahal dirinya menyadari, produk kerajinan itu dihasilkan dengan ketekunan tangan terampil perajin, bukan hasil cetakan mesin canggih. Dengan demikian, otomatis proses pengerjaannya tidak bisa dilakukan cepat-cepat mengejar waktu, dikarenakan sepenuhnya mengandalkan keahlian tangan perajinannya.
Berawal dari keprihatinan inilah, Wiko kemudian mendiskusikan bersama istrinya, untuk menciptakan produk kerajinan yang bernilai tinggi dan dijual dengan harga yang sesuai dengan keletihan pada proses perciptaan karya tersebut.
“Saya kemudian mengusung nama Tutu & Co. Itu adalah panggilan masa kecil istri. Tutu memiliki pengejaan yang mudah diingat, sehingga tidak ribet melafalkannya. Sejak awal Tutu didirikan hingga saat ini, kami konsisten untuk memproduksi kerajinan ‘handmade’ gelang, anting, cincin dan kalung. Awalnya, kami sengaja membuat gelang dari berbagai jenis tali, yang dipasarkan menggunakan marketplace. Tentu saat itu, keberadaan marketplace belum seheboh sekarang, sehingga produk Tutu tidak serta merta diterima pasar,” kata Wiko.
Berkat ketekunan dan tak henti mempelajari seluk beluk berjualan di marketplace, produk kerajinan Tutu & Co perlahan-lahan mulai diterima konsumen dari berbagai daerah di Indonesia. Berbagai macam gelang, kalung, cincin hingga anting, mulai dipesan konsumen, khususnya dari Jakarta.
Hingga kini, produk Tutu & Co yang terbilang ‘best seller’ adalah gelang tridatu khas Bali, yang setiap hari selalu tidak pernah sepi dari pesanan pembeli. Padahal gelang ini diijual dengan harga yang tidak murah, yakni Rp 42.500 per gelang. Akan tetapi, Wiko menjamin, gelang tridatu produk Tutu tidak akan pudar warnanya atau putus talinya dalam waktu bertahun-tahun, dikarenakan menggunakan jenis benang khusus.

Produk Tutu & Co mengalami ‘booming’ ketika masa pandemi Covid-19, di mana saat itu masyarakat tidak berani keluar rumah untuk berbelanja di mall atau sekedar keluar rumah untuk jalan-jalan. Seketika pesanan bertubi-tubi berdatangan. Sampai-sampai Wiko dan istri mulai kewalahan, sehingga tidak jarang harus lembur hingga dini hari untuk menciptakan desain produk agar Tutu bisa terus memproduksi kerajinan yang inovatif dan update terhadap selera konsumen.
“Saat ini, sudah tercipta di atas 1.000 jenis produk Tutu, dan tentu saja akan terus bertambah. Kreativitas adalah hal utama dalam bisnis kerajinan, sehingga kami selalu mengupayakan desain yang unik dan tetap mengedepankan bahan berkualitas terbaik. Makanya produk Tutu dijual dengan harga mulai Rp 40 ribuan sampai di atas Rp 1 jutaan, sehingga ada yang mengomentari kalau terlalu mahal. Tetapi kami menjawab dengan kualitas produk, dan tentu supaya bisa memberikan kenyamanan gaji bagi karyawan yang bekerja dengan sepenuh hati memproduksi kerajinan di workshop Tutu. Jadi saya ingin, bisnis kerajinan bisa memanusiakan karyawan di sini, jangan sampai mereka dibayar murah, karena mereka bekerja dengan ulet dan penuh ketelitian. Bahkan jika ada karyawan yang memberikan usulan desain produk dan diterima, maka akan diberikan insentif tersendiri atas kreativitasnya,” ujar Wiko.
Salah seorang karyawan Tutu bernama Feri, mengaku sudah tiga tahun bekerja membuat kerajinan. Masa-masa tiga tahun, baginya adalah rentang waktu yang penuh kekeluargaan. “Bekerja sebagai karyawan Tutu, tentu memiliki tanggung jawab sendiri. Pada awal-awal bergabung, saya harus berpeluh-peluh saat belajar membuat kerajinan. Bagaimana memotong benang, menyusun manik-manik serta mencermati desain agar tidak sampai salah, adalah tantangan tersendiri. Saya belajar sampai tiga bulan, baru benar-benar bisa membuat berbagai macam kerajinan,” kata Feri, yang merupakan lulusan sekolah pariwisata di Bali.
Bergabung dengan Tutu, ujar Feri, sempat mendapatkan tentangan dari keluarga dikarenakan dirinya disekolahkan orang tua di bidang pariwisata dan diharapkan bekerja di kapal pesiar. Namun, Feri ngotot mempertahankan pilihan untuk bekerja sebagai perajin di Tutu, dikarenakan dirinya memang menyukai seni membuat kerajinan.
“Astungkara, pilihan saya ini memberikan imbalan gaji yang sesui. Di sini, ada gaji mingguan dan bulanan. Dan yang menarik, para karyawan tertantang pula menciptakan karya desain, sehingga ada tambahan penghasilan bagi kami. Saya bersyukur bisa bekerja di sini, karena artinya turut melestarikan produk kerajinan Bali, karena mampu diterima hingga ke pasar luar negeri,” kata Feri.
Merekrut Lansia hingga Difabel
Terdorong keinginan untuk membuat Tutu bermanfaat bagi masyarakat luas, Wiko kemudian menggandeng Yayasan Annika Linden Centre untuk memberikan pelatihan pembuatan kerajinan pada anak-anak difabel, sehingga memiliki keterampilan supaya ke depan bisa hidup mandiri. Bagi anak-anak yang sudah siap berkarya, diberikan kesempatan bergabung sebagai karyawan Tutu.
Ternyata, memang ada sejumlah anak-anak difabel yang tertarik dengan seni kerajinan, sehingga diberi ruang untuk bergabung dengan Tutu & Co. Dengan ketelatenan saat pengajaran, ternyata membuahkan hasil yang sepadan. Di mana anak-anak difabel itu memiliki ketekunan dan keuletan kerja ketika sudah menguasai keterampilan yang diajarkan.

Selain itu, Wiko juga melibatkan pihak pengurus Banjar Kesiman sehingga anak-anak putus sekolah dan para lansia, diberikan pelatihan keterampilan. Tutu & Co membuka pintu lebar-lebar bagi anak-anak putus sekolah atau para lansia yang ingin menambah penghasilan dengan menjadi pembuat kerajinan sesuai standar produk Tutu.
“Kalau untuk para lansia, biasanya kami berikan bahan-bahan kerajinan, sehingga bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Jadi waktunya bisa fleksibel dan tidak memberatkan. Kalau kerajinan sudah jadi, baru disetorkan ke workshop. Begitu sistemnya,” ujar Wiko.
Dia menambahkan, sejumlah lansia yang bekerja di Tutu & Co mengatakan sangat bersyukur di hari tua masih bisa mendapatkan penghasilan, sehingga tidak bergantung pada anak-anaknya guna menutupi biaya hidup. “Ternyata ada kebanggaan tersendiri bagi para lansia ketika masih bisa produktif di hari tua dan bisa membiayai keperluan hidup secara mandiri. Saya bersyukur bisa melibatkan para lansia, sehingga bisa berkontribusi menyediakan tempat ‘sandaran’ ekonomi bagi mereka,” kata Wiko.
Keseimbangan antara bisnis dan kebermanfaatan bagi masyarakat yang dipegang Wiko, perlahan tapi pasti melejitkan Tutu & Co ke jajaran bisnis online terkemuka Indonesia. “Bersyukur dengan berpegang pada kebermanfaatan ini, saya merasa Tutu & Co berjalan pada rel yang benar, sehingga tahun ini dinobatkan sebagai salah satu seller dengan nilai transaksi tertinggi se-Indonesia. Padahal siapa sangka, dari sebuah workshop sederhana, bahkan di rumah saya sendiri, tetapi kami mampu bersaing dengan usaha serupa yang didukung banyak karyawan dan fasilitas modern. Siapa sangka, usaha kecil seperti Tutu ini ternyata mampu menjadi best seller di suatu marketplace tahun 2025 ini. Barangkali kuncinya adalah kreativitas tanpa batas, yang direaliasasikan dengan penyediaan produk-produk dengan desain baru bagi konsumen. Istilahnya, kami memanjakan konsumen dengan desain yang selalu update dan kualitas produk terbaik,” ujar Wiko seraya tidak henti melantunkan rasa syukur.
Ke depan, Wiko tetap memantapkan sasaran pada konsumen dari dalam negeri, dikarenakan jumlah penduduk Indonesia sangat banyak, sehingga membuat pasar lokal semestinya digarap lebih intens. “Sebenarnya ada saja konsumen dari India, Turki dan beberapa negara lain. Tetapi, saya tetap konsen untuk menggarap konsumen lokal saja. Ini masih potensial untuk dibidik, sekaligus untuk membumikan produk lokal di kancah penduduk Indonesia,” ujar Wiko.
Pada akhir perbincangan, Wiko tidak lupa menyatakan bahwa salah satu pilar kesuksesan bisnis juga ditunjang pemilihan perusahaan akomodasi atau logistik, untuk mengantarkan pesanan yang tepat waktu dan dalam kondisi baik ke tangan konsumen. Tutu & Co memilih perusahaan Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sebagai mitra pengantaran pesanan konsumen. Dan ini ternyata merupakan keputusan yang tepat, karena terbukti tidak ada komplain dari pelanggan sehubungan keterlambatan ke alamat tujuan.
Bahkan, JNE tidak semata mengantar barang ke berbagai pelosok negeri saja. Dengan layanan ‘International Express’, maka konsumen dari berbagai negara bisa dilayani dengan baik, di mana perkiraan waktu penyampaian kirimannya bervariasi, tergantung dari zona negara.
SVP Business Development, Sales, and Customer Care JNE, Agusnur Widodo menyebutkan bahwa pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Indonesia, supaya bisa makin meningkatkan kontribusi maksimal atas perekonomian nasional.
“Dengan memadukan kekuatan bidang logistik dan pangsa e-commerce, maka peluang nyata untuk UMKM Indonesia dapat berkembang menjadi lebih maksimal. Dan JNE sampai kapanpun akan tetap memantapkan komitmen untuk menjadi mitra yang adaptif, inovatif dan dapat diandalkan bagi UMKM Indonesia. Kami melakukan upaya nyata dalam merawat mimpi dan rajutan perjuangan jutaan UMKM Indonesia yang memiliki peran tidak sembarangan, yakni sebagai salah satu tulang punggung ekonomi bangsa,” ujar Agusnur pada momen JNE Gollaborasi di Bali beberapa waktu lalu.
Pasang Badan untuk UMKM Bali
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali, Dr I Wayan Ekadina menjabarkan jumlah UMKM di Provinsi Bali sampai Desember 2024 mencapai 442.848 usaha. “Keberadaan UMKM memiliki peran penting dalam upaya mendukung perekonomian daerah, khususnya di tengah masa pemulihan pascapandemi Covid-19, karena memang perekonomian Bali sangatlah terdampak,” kata Wayan Ekadinata.
Hingga kini, lanjutnya, pemerintah tetap berupaya memberikan dukungan terhadap pertumbuhan UMKM, melalui langkah pendampingan, pelatihan sampai memberikan jalan untuk akses pembiayaan. Selain itu, pemerintah pun membuka jalan supaya UMKM Bali bisa ‘upgrade’ untuk naik kelas, melalui pengajaran digitalisasi, berkolaborasi dengan pihak-pihak swasta serta integrasi dengan pihak terkait, khususnya di bidang pariwisata dan ekspor.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster secara tegas menyatakan pasang badan terhadap kehidupan UMKM di Bali. Sebagai langkah konkret, Gubernur Koster senantiasa memprioritaskan produk lokal pada saat pengadaan barang dan jasa pemerintah. Di samping itu, Gubernur Koster pun selalu mendorong untuk melibatkan UMKM lokal pada momen-momen digelarnya event resmi dari Provinsi Bali.
Menurut Gubernur Koster, UMKM merupakan penyanggah ekonomi kerakyatan sehingga sudah seharusnya jika diberi dukungan, ruang dan peluang untuk bertumbuh seluas-luasnya.
“Saya mendorong dibentuknya ekosistem untuk mendukung UMKM dari sektor informal menjadi formal. Jadi dinas terkait seyogyanya mempermudah legalitas usaha UMKM, sertifikasi produk dan akses pembiayaan. Jangan dihambat-hambat,” pesan Gubernur Koster seraya menekankan menginginkan UMKM Bali supaya menjadi kebanggaan dan kekuatan ekonomi utama di Pulau Dewata.
Di sisi lain, peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional, bukanlah wacana semata. Terbukti saat runtuhnya industri besar pada masa krisis moneter 1998, guncangan ekonomi global tahun 2008 hingga peristiwa berbaru pandemi Covid-19, ternyata kebanyakan UMKM bisa menopang diri untuk tetap berdiri.
UMKM malah mampu menjadi ‘jangkar’ bagi masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja, sehubungan ambruknya sejumlah perusahaan besar akibat guncangan perekonomian eksternal.
Tidak mengherankan apabila Presiden Prabowo pun memberi perhatian tersendiri pada sektor UMKM, sehingga meluncurkan beberapa kebijakan strategis yang pro-UMKM. Antara lain adalah penurunan suku bunga Kredit Usaha Rakyat menjadi 3% per tahun. Tentu saja kebijakan disambut antusias pelaku UMKM, sehingga mereka yang masih meniti usaha kecil bisa terbantu pada beban pembiayaan dan akses permodalan pun lebih terjangkau. (Tri Vivi Suryani)







