Dua Tamu Glamping Hilang Terseret Longsor, 127 Personel Gabungan Turun ke Pelaga

Pelaga
Kalaksa BPBD Bali I Gede Agung Teja Bhusana turun langsung pencarian korban tanah longsor Desa Pelaga, Denpasar, Senin (2/11/2026). ANTARA

Badung, LenteraEsai.id – Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Bali memicu bencana tanah longsor di kawasan Pelaga EcoPark, Banjar Bukit Buluk Tiying, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 23.00 Wita itu menyebabkan dua orang dilaporkan hilang, masing-masing seorang warga negara Indonesia (WNI) dan seorang warga negara asing (WNA).

Kedua korban yang masih dalam pencarian tersebut diketahui bernama Bangkit Mubarok dan seorang WNA yang identitasnya belum berhasil dipastikan. Sementara itu, 21 tamu lainnya berhasil menyelamatkan diri dari insiden yang menerjang kawasan penginapan glamping tersebut.

Bacaan Lainnya

Kepala Pelaksana BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana, menjelaskan bahwa longsor dipicu curah hujan sangat tinggi yang mencapai 121 milimeter dalam sehari di wilayah Desa Pelaga. Intensitas hujan tersebut menyebabkan kondisi tanah menjadi tidak stabil hingga material longsor menerjang area penginapan.

Dari total 25 unit tenda glamping yang berdiri di kawasan seluas empat hektare itu, empat unit mengalami kerusakan akibat bencana. Bahkan, satu tenda dilaporkan terseret dan hanyut bersama material longsoran.

Lokasi penginapan milik I Kadek Suardika bersama tiga rekannya tersebut memiliki kondisi geografis yang cukup rawan. Kawasan itu berada di area dengan kemiringan jurang dan berbatasan langsung dengan aliran Sungai Tukad Yeh Kilap.

Upaya pencarian terhadap dua korban langsung dilakukan oleh tim gabungan yang dipimpin Basarnas Bali. Sebanyak 127 personel dari berbagai instansi diterjunkan untuk menyisir lokasi longsor hingga sepanjang aliran sungai.

Sejumlah langkah khusus juga dilakukan guna mempercepat proses pencarian. Petugas menutup sebagian pintu air bendungan di bagian hulu untuk mengurangi debit aliran sungai sehingga proses penyisiran dapat berlangsung lebih aman dan efektif.

Tim penyelamat turut melakukan penyemprotan air pada timbunan tanah di sekitar lokasi tenda serta menyusuri aliran sungai hingga Bendungan Batulantang dengan jarak sekitar 500 meter. Pencarian juga diperkuat dengan pengerahan anjing pelacak K9 dari Polda Bali untuk membantu mendeteksi keberadaan korban.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, hingga pukul 17.30 Wita kedua korban belum berhasil ditemukan. Operasi pencarian pun dihentikan sementara dan dijadwalkan kembali dilanjutkan pada hari berikutnya.

Bencana di Pelaga bukan satu-satunya dampak cuaca ekstrem yang melanda Pulau Dewata. BPBD Bali mencatat sedikitnya 64 titik kejadian bencana tersebar di sejumlah kabupaten akibat hujan lebat yang terjadi sejak malam sebelumnya.

Kabupaten Gianyar menjadi wilayah dengan laporan kejadian terbanyak, yakni 15 titik. Disusul Karangasem dengan 12 titik, Bangli 11 titik, Klungkung 10 titik, Badung enam titik, serta Buleleng dan Tabanan masing-masing lima titik.

Berbagai kejadian yang dilaporkan meliputi tanah longsor, pohon tumbang, hingga kerusakan jalan akibat amblas. BPBD menyebut kondisi penanganan bencana secara umum masih terkendali, meskipun operasi pencarian dua orang yang hilang di Pelaga EcoPark menjadi perhatian utama petugas.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di kawasan dengan kontur tanah curam dan berada di sekitar aliran sungai, terutama ketika hujan ekstrem melanda dalam waktu lama. (LE-Ant)

Pos terkait