Ekonomi Bali Tumbuh 5,82 Persen pada 2025, Koster Optimistis Kinerja 2026 Lebih Baik

Wayan Koster
Kegiatan Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Jumat (23/10/2026) - (Foto: Dok Humas Pemprov Bali)

Denpasar, LenteraEsai.id – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan sektor pariwisata masih menjadi tumpuan utama perekonomian Bali. Perkembangan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi serta pertumbuhan ekonomi daerah.

Hal tersebut disampaikan Koster saat menghadiri Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Jumat (23/10/2026).

Bacaan Lainnya

“Secara umum, melihat ekonomi Bali bagus atau tidak itu sederhana, dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik wisatawan asing maupun domestik, apakah naik atau turun,” ujar Koster.

Menurutnya, pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor ekonomi, mulai dari perhotelan, vila, restoran, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transportasi, hingga pertanian dan penyediaan pangan.

Pada 2025, kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali mencapai sekitar 66 persen. Pada tahun yang sama, pertumbuhan ekonomi Bali tercatat sebesar 5,82 persen, dengan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 7,05 juta.

Kunjungan Wisman Kembali Meningkat

Koster menyampaikan, kunjungan wisatawan mancanegara hingga akhir September 2026 menunjukkan tren positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski sempat menurun pada Februari hingga April akibat dinamika geopolitik global, kunjungan wisman kembali pulih dan meningkat.

Ia menjelaskan, manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya dirasakan daerah yang menjadi pusat kunjungan, seperti Denpasar, Badung, dan Gianyar, tetapi juga kabupaten lainnya melalui kebutuhan pangan, produk pertanian, kerajinan, transportasi, dan jasa pendukung.

“Kalau ekonomi berbasis pariwisata, dampaknya menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Bali,” jelasnya.

Koster juga menyoroti sejumlah indikator sosial Bali, yakni tingkat kemiskinan sebesar 3,42 persen, tingkat pengangguran terbuka 1,45 persen, dan rasio Gini 0,333.

Ia optimistis pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, penurunan kunjungan wisatawan domestik akibat sejumlah faktor, termasuk kenaikan harga tiket pesawat, perlu menjadi perhatian.

“Sekarang, pariwisata menjadi tumpuan ekonomi Bali. Artinya, hidup kita di Bali bergantung pada pariwisata. Kalau ini terganggu, dampaknya tidak hanya ke ekonomi, tetapi juga ke bidang sosial dan lain sebagainya,” ungkapnya.

BI Proyeksikan Ekonomi Bali Tumbuh hingga 5,9 Persen

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali Achris Sarwani menekankan pentingnya data dan informasi akurat dari para pemangku kepentingan untuk memahami perkembangan ekonomi daerah dan merumuskan kebijakan yang tepat.

Menurut Achris, informasi dari responden survei BI menjadi sinyal awal untuk mengidentifikasi perkembangan dunia usaha, perilaku konsumen, dan pergerakan harga sebelum data makroekonomi resmi dirilis. Informasi tersebut juga digunakan untuk menyusun proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan rekomendasi kebijakan.

BI Bali memperkirakan perekonomian Bali pada 2026 tumbuh positif pada kisaran 5,4–5,9 persen. Sementara itu, inflasi diharapkan tetap terkendali dalam rentang sasaran 2,5 persen ± 1 persen.

Temu Wirasa Stakeholders 2026 mengusung tema “Data Pramana, Bali Rahayu: Bersinergi Mendorong Pertumbuhan Bali yang Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan”.

Kegiatan ini menjadi wadah penguatan sinergi antara BI, responden survei, dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kualitas data ekonomi daerah serta mendukung kebijakan berbasis data. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat ketahanan ekonomi Bali di tengah dinamika global sekaligus mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. (LE-003)

Pos terkait