judul gambar

Tragedi KMP Virgo: Penantian Panjang Seorang Ayah di Ujung Dermaga

Tragedi KMP Virgo: Penantian panjang seorang ayah di ujung dermaga
Sumarno menunjukkan foto kedua anaknya dengan latar KMP Virgo dan kendaraan yang mereka bawa saat berlayar. (ANTARA/Firman)

Banjarmasin, LenteraEsai.id – Sumarno masih menunggu kabar tentang dua anaknya yang belum ditemukan setelah KMP Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September 2026 dini hari. Sejak mengetahui kabar kecelakaan itu, ia bertahan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, dengan satu harapan: kedua anaknya dapat ditemukan.

Kapal yang berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel), itu mengangkut 243 orang dan 89 kendaraan. Dalam kecelakaan tersebut, 108 orang selamat, 82 orang meninggal, dan 53 lainnya belum ditemukan berdasarkan data terakhir pada 20 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Sebagian korban ditemukan di dalam badan kapal, sementara yang lain ditemukan setelah terbawa arus hingga terdampar di pantai Kalimantan Tengah.

Di antara 53 orang yang belum ditemukan itu terdapat kakak beradik Rian Andi Kurniawan (34) dan Marlina Nurlita Sari (23), warga Kabupaten Tanah Laut, Kalsel.

Sumarno, ayah keduanya, tidak pernah meninggalkan Pelabuhan Trisakti sejak mengetahui kabar tenggelamnya kapal tersebut pada 13 September siang.

Ketika lelah, ia membaringkan tubuh di kursi di teras gedung terminal penumpang pelabuhan. Tak ada yang berhasil membujuknya pulang. Ia ingin melihat kedua anaknya kembali, apa pun kondisi mereka. Sumarno juga kerap berdiri di ujung dermaga, menghadap Sungai Barito, sembari memanjatkan doa.

Kedua anaknya sebelumnya berada di Solo, Jawa Tengah, untuk berlibur di rumah istri Rian Andi Kurniawan yang tinggal di sana.

Andi, anak pertama Sumarno, bekerja sebagai tenaga teknik di PLN di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Sementara Marlina, yang belum menikah, bekerja di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tanah Laut.

Keduanya berencana kembali ke Banjarmasin dengan membawa mobil. Mereka juga hendak membelikan sepeda motor untuk adik bungsu mereka yang masih duduk di bangku SMA dan tinggal bersama orang tua di Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut.

Sumarno mengatakan anak-anaknya biasanya menggunakan pesawat ketika bepergian ke Pulau Jawa. Namun, karena kali ini mereka membawa kendaraan, keduanya memutuskan menggunakan kapal laut.

Sumarno merupakan pensiunan TNI Angkatan Darat. Terakhir kali dia bertugas di Kodim 1009/Tanah Laut, jajaran Korem 101/Antasari, Kodam XXII/Tambun Bungai.

Memasuki hari ke-39 operasi pencarian pada 21 Oktober, Sumarno masih berharap kedua anaknya dapat ditemukan. Peluang itu semakin kecil seiring berjalannya waktu, tetapi ia belum kehilangan harapan.

Ia mengaku berusaha menerima takdir. Namun, sebagai seorang ayah, ia tetap berharap dapat menemukan kedua anaknya agar keluarga memperoleh kepastian.


Operasi pengangkatan kapal

Harapan keluarga kini tertuju pada operasi salvage atau pengangkatan bangkai kapal ke permukaan. Mereka berharap pengangkatan badan kapal dapat membantu menemukan jenazah korban yang diperkirakan masih terjebak di dalam kabin penumpang.

Bagi keluarga, penemuan jenazah atau bagian tubuh yang dapat diidentifikasi akan membantu mereka memperoleh kepastian mengenai nasib orang-orang yang hingga kini belum ditemukan.

Operasi salvage menjadi tanggung jawab manajemen kapal, yakni PT Virgo Karya Shipping. Sejalan dengan harapan keluarga, perusahaan juga berencana mengupayakan pencarian lanjutan melalui penyelaman sebelum pengangkatan bangkai kapal dilakukan.

Juru bicara PT Virgo Karya Shipping Simson Rihi menyebut upaya tersebut sebagai SAR salvage, yakni pencarian korban sebelum operasi pengangkatan kapal.

Namun, penyelaman baru dapat dilakukan setelah tim memastikan kondisi kapal aman. Tahap persiapan itu mencakup oil recovery, yaitu pengambilan minyak dan limbah bahan bakar dari kapal yang tenggelam untuk mencegah pencemaran laut.

Simson mengatakan persiapan menuju SAR salvage telah berjalan. Tim penyelam yang disewa perusahaan telah melakukan survei dan pemetaan kondisi kapal yang terbalik di dasar laut.

Menurut dia, pengangkatan bangkai kapal tanpa didahului pencarian korban berisiko mengganggu keberadaan jenazah yang mungkin masih berada di dalamnya. Karena itu, pencarian melalui penyelaman perlu dilakukan setelah kondisi kapal dinyatakan aman bagi penyelam.

“Kami mengutamakan sisi kemanusiaan terlebih dahulu sehingga diupayakan jenazah bisa ditemukan sebelum salvage dilakukan,” kata Simson.


Saling menguatkan

Keluarga dari 53 korban yang belum ditemukan kini saling menguatkan. Mereka kerap bertemu di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, untuk bertukar kabar dan mencari informasi terbaru yang dapat disampaikan kepada keluarga di rumah.

Stefanus, misalnya, merupakan kakak dari dua orang yang hingga kini belum ditemukan. Ia terus mencari informasi terbaru mengenai perkembangan pencarian dari Basarnas.

Seperti keluarga lainnya, Stefanus berharap operasi salvage segera dilakukan karena pengangkatan bangkai kapal menjadi salah satu harapan untuk menemukan korban.

Ia juga meminta manajemen kapal terbuka mengenai rencana operasi tersebut dan menyampaikan setiap perkembangannya kepada keluarga.

Karina, koordinator keluarga korban, turut memperjuangkan hal serupa. Ia terus mendorong agar bangkai kapal segera diangkat ke permukaan.

Menanggapi aspirasi keluarga, Kapolsek Kawasan Pelabuhan Laut Polresta Banjarmasin Kompol Muhammad Abdul Rauf memfasilitasi komunikasi antara keluarga dan manajemen kapal.

Ia telah beberapa kali memfasilitasi audiensi keluarga korban dengan PT Virgo Karya Shipping, sekaligus mengundang pihak terkait, antara lain Basarnas, Jasa Raharja, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Rauf mengatakan pihaknya ingin memastikan komunikasi berjalan terbuka agar keluarga korban merasa aspirasi mereka ditanggapi.

“Kami siap membuka layanan pengaduan jika ada hak-hak dari keluarga korban tak dipenuhi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Banjarmasin Bram Madya Temara memastikan belum ada perintah untuk menghentikan pencarian korban Kapal Virgo.

Unsur SAR di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat masih menyisir perairan yang berpotensi menjadi lokasi terbawanya korban oleh arus hingga ke pantai.

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan juga masih menangani proses identifikasi satu jenazah. Pemeriksaan sampel DNA telah memasuki tahap pengujian di Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Kalimantan Selatan Kombes Pol dr. Much Sofwan mengatakan tim DVI di Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin telah mengidentifikasi 81 dari 82 jenazah yang diterima rumah sakit tersebut.

Keluarga korban masih menunggu kepastian di tengah upaya pencarian dan identifikasi yang berlanjut. Bagi mereka, penemuan korban bukan hanya bagian dari operasi SAR, tetapi juga jalan untuk mengakhiri penantian dan memastikan nasib orang-orang yang mereka cintai. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait