Tabanan, LenteraEsai.id – Udara sejuk pegunungan Baturiti menyambut semangat warga Dusun Sandan saat PT Tirta Investama Pabrik Sembung Gede (AQUA Sembung Gede) bersama Yayasan Sahabat Timur Indonesia menggelar Kick Off Program Desa Wisata Berbasis Konservasi di LIKAWA FARM, Senin (21/10). Acara yang dihadiri tokoh masyarakat, Desa Adat, dan Kelompok Tani Taru Lestari ini menandai langkah awal kolaborasi menjaga alam sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
LIKAWA FARM menjadi pusat kegiatan Kelompok Tani Taru Lestari dalam menjalankan program Desa Wisata Berbasis Konservasi, yang merupakan bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) AQUA Sembung Gede tahun 2025. Program ini mencakup penanaman lebih dari 2.000 pohon kopi, 200 pohon alpukat, pembangunan 360 rorak, serta pengembangan ekonomi masyarakat.
Inisiatif ini sejalan dengan program Tridatu Gastronomi yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Tabanan. Program tersebut mengangkat tiga komoditas unggulan daerah, yaitu kopi, beras merah organik, dan cokelat premium.
Rorak yang dibuat di antara pohon kopi merupakan parit buntu kecil berfungsi menampung air hujan agar meresap ke dalam tanah. Teknik konservasi lahan dan air ini diharapkan mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di wilayah pegunungan Baturiti.
Stakeholder Relation Manager AQUA Sembung Gede, I Nyoman Arsana, mengatakan bahwa LIKAWA FARM diharapkan menjadi pusat edukasi bagi petani maupun wisatawan.
“Pendampingan yang kami lakukan diharapkan membuahkan hasil berupa lingkungan yang tetap terjaga dengan baik oleh masyarakat melalui kearifan lokalnya. Potensi ini menjadikan LIKAWA FARM sebagai destinasi wisata edukatif yang menginspirasi lebih banyak orang,” ujar Arsana.
Ia menambahkan, pelaksanaan program melibatkan banyak pihak melalui pendekatan pentahelix, meliputi kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, akademisi, media, dan pemerintah.
“Kami menggandeng Yayasan Sahabat Timur Indonesia sebagai mitra lapangan, serta melibatkan mahasiswa, media, dan pemerintah setempat untuk menciptakan sinergi optimal,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Taru Lestari, I Wayan Sudha Adnyana, menyampaikan bahwa kelompoknya berdiri pada 2008 dengan pengesahan Desa Bangli, dan kini memiliki 21 anggota yang mengelola lahan seluas 10 hektare.
“Kerja sama dengan AQUA Sembung Gede dan Yayasan Sahabat Timur Indonesia ibarat dayung bersambut, karena sudah lama kami harapkan untuk mengembangkan desa wisata berbasis konservasi,” ujarnya.
Desa Adat Sandan sendiri terletak di ketinggian sekitar 780 meter di atas permukaan laut, berada di lereng Gunung Adeng. Wilayah ini memiliki tanah subur jenis etosol yang sangat cocok untuk pertanian dan perkebunan.
Dusun Sandan juga berbatasan langsung dengan Hutan Bambu Sandan seluas 100 hektare. Udara sejuk, curah hujan tinggi selama enam hingga tujuh bulan, serta panorama alami menjadikan daerah ini potensial sebagai kawasan wisata hijau.
Sebagian besar masyarakat Sandan bermata pencaharian sebagai petani dan peternak, dengan komoditas utama hortikultura serta peternakan sapi, babi, dan ayam kampung. Potensi ini diharapkan menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan desa wisata berbasis konservasi yang berkelanjutan. (LE-Vivi)







