Kinerja Perbankan 2025 Diproyeksikan Positif di Tengah Dinamika Global

Kinerja Perbankan
Otoritas Jasa Keuangan - (Foto: Dok Humas OJK)

Jakarta, LenteraEsai.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai sektor perbankan Indonesia tetap stabil dan menunjukkan optimisme kinerja meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi global sepanjang paruh pertama 2025. Penyesuaian target Rencana Bisnis Bank Umum (RBB) dilakukan lebih konservatif untuk merespons perubahan kondisi makroekonomi, namun perbankan tetap berperan ekspansif pada sektor-sektor strategis yang menopang perekonomian nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit pada 2025 diproyeksikan sedikit termoderasi dari target semula. Hal itu sejalan dengan sikap hati-hati bank dalam menyalurkan pembiayaan, terutama pada segmen berisiko tinggi, namun tetap mendorong ekspansi di sektor ekspor, transportasi, industri, dan jasa sosial yang berprospek positif bagi ekonomi.

Bacaan Lainnya

Hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) triwulan III-2025 menunjukkan bank umum memiliki persepsi yang semakin optimis. Ekspektasi membaiknya kondisi makroekonomi domestik mendorong keyakinan akan kinerja positif perbankan serta kemampuan bank dalam mengelola risiko.

Optimisme tersebut ditopang oleh proyeksi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit yang diperkirakan akan mendukung peningkatan laba serta permodalan. Tren positif ini berlanjut dari triwulan sebelumnya, sejalan dengan langkah bank memperluas ekspansi kredit sesuai target RBB.

Selain itu, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada Mei dan Juli 2025 menjadi 5,25 persen turut menurunkan biaya kredit. Kebijakan ini dinilai mampu meningkatkan minat debitur dalam mengakses pembiayaan sehingga berpotensi mendorong pertumbuhan kredit lebih lanjut.

Penghimpunan Dana dan Likuiditas Terjaga

Dari sisi pendanaan, penghimpunan DPK diperkirakan tumbuh stabil seiring strategi bank memperkuat sumber dana untuk menjaga likuiditas dan mendukung ekspansi pembiayaan. Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan dana korporasi, penguatan strategi dana murah, serta masuknya alokasi dana pemerintah pusat ke bank daerah pada triwulan III-2025.

OJK mendorong perbankan untuk terus mengedepankan strategi adaptif dan inovatif dalam menghadapi perubahan makroekonomi. Menurut OJK, langkah ini tidak hanya penting untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi juga mendukung pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional yang sehat dan berkesinambungan.

“OJK bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan terus memantau kinerja industri perbankan, mengambil langkah preventif maupun kuratif bila ada potensi gangguan, serta memastikan kepercayaan publik tetap terjaga,” kata Dian.

Dinamika Global dan Dampaknya ke Indonesia

Pada semester I-2025, perekonomian global tertekan akibat perang dagang dan ketegangan geopolitik, termasuk penerapan tarif impor baru oleh Amerika Serikat serta konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut sempat menekan perdagangan internasional dan memperlambat pertumbuhan sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Namun, situasi berangsur membaik pada paruh kedua 2025 setelah Amerika Serikat dan negara mitra sepakat menurunkan tarif impor, termasuk untuk Indonesia menjadi 19 persen. Perbaikan iklim geopolitik turut mendorong pemulihan perdagangan global.

Perkembangan positif tersebut membuat International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia naik menjadi 3 persen pada 2025 dan 3,1 persen pada 2026, dari sebelumnya 2,8 persen dan 3 persen. Proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik juga ikut dinaikkan menjadi 4,8 persen untuk periode 2025–2026 dari perkiraan awal 4,7 persen.

Fundamental Domestik Tetap Solid

Di tengah ketidakpastian global, perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kuat. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2025 tumbuh 5,12 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dari perkiraan 4,8 persen.

Sektor manufaktur masih berada di zona kontraksi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 49,20, namun membaik dibanding bulan sebelumnya di level 46,90. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga tetap optimistis pada level 118,1. Selain itu, neraca perdagangan mencatat surplus berkelanjutan dan cadangan devisa terjaga pada posisi yang kuat.

Dengan prospek ekonomi global dan domestik yang membaik, sektor perbankan Indonesia dipandang tetap menjadi pilar penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui pengelolaan risiko yang ketat, strategi pendanaan yang solid, serta dukungan kebijakan moneter yang akomodatif, perbankan diharapkan terus mampu menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung roda perekonomian.

“OJK akan memastikan perbankan tetap berkontribusi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkesinambungan,” tegas Dian. (LE-Vivi)

 

 

Pos terkait