Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga, KSSK Perkuat Sinergi Jaga Ekonomi Nasional

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) - (Foto: Dok LenteraEsai)

Jakarta, LenteraEsai.id — Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia pada triwulan II 2025 tetap terjaga meski dibayangi ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS, menyepakati untuk terus memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan lintas lembaga guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan retaliasi perdagangan antara AS dan Tiongkok menjadi faktor utama ketidakpastian global sepanjang triwulan II 2025. World Bank dan OECD masing-masing memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,9% untuk tahun ini. Namun demikian, Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dipertahankan di kisaran 5%.

Bacaan Lainnya

BI mencatat penguatan nilai tukar Rupiah yang cukup signifikan pada triwulan II 2025. Setelah sempat menyentuh Rp16.865 per dolar AS di April, Rupiah menguat menjadi Rp16.235 pada akhir Juni 2025. Intervensi pasar oleh BI dan masuknya aliran modal asing ke pasar SBN menjadi pendorong utama penguatan ini. Di sisi lain, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) juga tetap terkendali di angka 1,87% (yoy), memperkuat daya beli masyarakat.

Kinerja APBN hingga semester I 2025 dinilai cukup baik dalam menjalankan peran countercyclical. Realisasi Belanja Negara mencapai Rp1.406 triliun atau 38,8% dari pagu, dengan Pendapatan Negara sebesar Rp1.201,8 triliun (40% dari target). Defisit anggaran tetap terkendali di angka 0,84% terhadap PDB. Pemerintah juga mencatat pencapaian sosial seperti penurunan angka kemiskinan sebanyak 1,37 juta orang dan penciptaan 3,59 juta lapangan kerja baru.

Pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi triwulan II senilai Rp24,4 triliun untuk menjaga daya beli dan stabilitas. Di antaranya berupa diskon tiket transportasi, bantuan sosial sembako dan pangan, bantuan subsidi upah bagi pekerja bergaji rendah, serta program diskon tarif tol dan iuran JKK bagi industri padat karya. Hingga akhir Juni, stimulus yang terealisasi mencapai Rp13,6 triliun.

Pemerintah juga merealisasikan investasi sebesar Rp16,6 triliun ke Perum Bulog untuk memperkuat cadangan pangan nasional dan stabilisasi harga beras. Produksi beras naik 13,2% menjadi 19,09 juta ton hingga semester I 2025. Di sisi lain, insentif perpajakan dan percepatan regulasi turut dijalankan untuk memperkuat iklim investasi dan ekspor, termasuk penurunan tarif resiprokal AS terhadap produk Indonesia dari 32% menjadi 19%.

Pasar Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan penguatan, dengan yield SUN tenor 10 tahun turun ke level 6,51% hingga 25 Juli 2025. Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp58,29 triliun dengan porsi kepemilikan meningkat menjadi 14,64%. Penurunan BI-Rate menjadi 5,25% turut menjadi sentimen positif bagi pasar obligasi.

Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Penurunan BI-Rate dua kali berturut-turut pada Mei dan Juli 2025 menandakan konsistensi BI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengabaikan stabilitas. Kebijakan BI juga diarahkan untuk menjaga inflasi dalam target 2,5±1% serta mempertahankan nilai tukar Rupiah sesuai fundamental. (LE-Vivi)

Pos terkait