Resensi Buku: Sejarah Peradaban Kuno di Empat Benua

Buku Sejarah Peradapan Kuno di Empat Benua - (Foto: Dok LenteraEsai)

Judul: Sejarah Peradaban Kuno di Empat Benua
Penulis: Andri Yanto
Penerbit: Anak Hebat Indonesia
Tahun Terbit: 2024
Tebal: 290
ISBN : 978-623-164-846-4

Andri Yanto dalam buku Sejarah Peradaban Kuno di Empat Benua berhasil meramu sejarah awal manusia dalam sebuah narasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga menggugah pemahaman tentang bagaimana kekuasaan, identitas sosial, dan peradaban berkembang secara paralel di berbagai belahan dunia.

Bacaan Lainnya

Dimulai dari masa berburu dan meramu, penulis membawa pembaca menuju titik balik besar umat manusia: revolusi pertanian. Di sinilah sisi politis dari buku ini mulai terasa. Pertanian bukan hanya soal bertanam dan panen; ia menjadi fondasi bagi pembentukan kelas sosial, akumulasi kekayaan, dan pada akhirnya—lahirnya kekuasaan. Peradaban di Lembah Eufrat dan Tigris menjadi contoh awal bagaimana pengelolaan sumber daya alam bisa berubah menjadi kontrol atas manusia lain. Dari sinilah struktur-struktur pemerintahan, militer, dan sistem hukum mulai muncul, menandai babak awal dari sejarah politik dunia.

Buku ini mengajak pembaca mengamati Fertile Crescent sebagai pusat lahirnya imperium Sumeria, yang kemudian diikuti oleh kejayaan dan keruntuhan Akkadia, Babilonia, hingga Persia. Setiap babak kejayaan ini tidak hanya ditopang oleh kemajuan ekonomi dan teknologi, tetapi juga oleh kecanggihan strategi kekuasaan dan legitimasi ideologis yang dibangun para penguasa. Andri Yanto dengan cermat menunjukkan bahwa keruntuhan sebuah kekaisaran sering kali bukan hanya karena serangan dari luar, melainkan juga karena konflik internal, korupsi politik, atau kegagalan membaca dinamika sosial masyarakat.

Di benua Asia, fokus diarahkan ke lembah Sungai Indus dan Tiongkok Kuno. Penulis menggambarkan dengan detail bagaimana dinasti-dinasti awal di Tiongkok memanfaatkan mitos leluhur dan tatanan kosmis untuk memperkuat otoritas politiknya. Di sini, kita bisa melihat bagaimana kepercayaan dan sistem religius dijadikan alat kontrol sosial—sebuah pola yang masih sering ditemukan dalam politik modern.

Sisi menarik lainnya muncul saat pembaca diajak menelusuri peradaban awal di Afrika dan Amerika Latin. Di Afrika, munculnya kerajaan-kerajaan seperti Nubia dan Mesir memberikan gambaran bagaimana teknologi irigasi, pengetahuan astronomi, dan struktur birokrasi menjadi alat efektif dalam mempertahankan dominasi kekuasaan atas wilayah luas. Sementara di Amerika Latin, peradaban Maya dan Aztec memperlihatkan betapa ritual keagamaan dan pengorbanan menjadi bagian dari legitimasi kekuasaan para elit—suatu bentuk “politik simbolik” yang sangat kuat pada masa itu.

Penulis tidak sekadar menjelaskan peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga berusaha menunjukkan pola umum dari naik turunnya peradaban: akumulasi kekuasaan, puncak kejayaan, stagnasi, dan keruntuhan. Dalam konteks ini, buku ini sangat relevan untuk memahami dunia masa kini, terutama dalam melihat bagaimana konflik, kekuasaan, dan identitas masih terus menjadi isu utama di panggung global.

Yang membuat buku ini istimewa adalah kesederhanaan bahasa yang digunakan Andri Yanto dalam menyampaikan konsep-konsep kompleks sejarah politik dan sosial. Ia tidak terjebak dalam jargon akademik, melainkan menyuguhkan narasi yang mudah diikuti tanpa kehilangan kedalaman.

Buku ini juga bisa menjadi pintu masuk yang baik bagi pembaca awam yang ingin memahami sejarah global tanpa harus membaca banyak buku tebal. Dengan pendekatan lintas-benua, pembaca dapat melihat peradaban sebagai fenomena global yang saling berkaitan, bukan sebagai entitas yang terisolasi.

Namun, perlu dicatat bahwa buku ini masih dapat dikembangkan lebih dalam dari sisi komparasi politik antar peradaban. Misalnya, bagaimana struktur politik di Sumeria berbeda secara fundamental dengan model kekuasaan di Tiongkok kuno? Atau bagaimana ide tentang “negara” di peradaban Maya bisa disandingkan dengan konsep kekaisaran Romawi? Pembahasan semacam ini akan memperkaya analisis buku dari segi ilmu politik dan antropologi.

Secara keseluruhan, Sejarah Peradaban Kuno di Empat Benua adalah karya yang menggugah dan relevan. Ia tidak hanya mengajak kita menengok masa lalu, tetapi juga membantu kita memahami akar dari berbagai sistem kekuasaan dan konflik sosial yang masih berlangsung hingga kini. Bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana politik, ekonomi, dan budaya saling bertaut dalam membentuk sejarah manusia, buku ini patut dibaca. Untuk mendapatkan buku Sejarah Peradapan Kuno di Empat Benua, bisa melalui : https://s.shopee.co.id/3ft2PFPvnu (LE-Vivi)

Pos terkait