Denpasar, 15/6 (ANTARA/LE) – Kepolisian Resor Kota Denpasar, Bali menyebutkan, gudang elpiji yang terbakar di Jalan Cargo Taman 1, Kelurahan Ubung Kaja, Denpasar Utara pada Minggu (9/6/2024) lalu, tidak layak dipakai sebagai tempat penyimpanan gas.
“Terkait masalah gudang dan izinnya itu sudah pasti memang nggak ada. Seluruh SOP gudang dan segala macam kan ada ketentuannya. Itu bukan tempat yang layak untuk dijadikan tempat penyimpanan gas,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Denpasar Kompol Laorens Rajamangapul Heselo, di Denpasar, Sabtu (15/6/2024).
Menurut Laorens, kesimpulan ketidaklayakan gudang LPG yang menyebabkan 12 orang meninggal dunia terpanggang api itu, berdasarkan keterangan yang dihimpun penyidik dari beberapa saksi dari dinas terkait perizinan usaha dan PT Pertamina Patra Niaga, serta para ahli yang memiliki kompetensi untuk mengomentari kelayakan gudang tersebut.
Menurut sejumlah pihak, gudang LPG yang telah terbakar itu tidak sesuai dengan standar tempat penyimpanan gas pada umumnya ditinjau dari aspek perizinan, mitigasi resiko, pendistribusian, pengangkutan dan lainnya sebagaimana diatur dalam peraturan tentang minyak dan gas.
Hal itu diperparah dengan adanya beberapa karyawan, menurut keterangan beberapa saksi yang telah diperiksa penyidik, tinggal di dalam gudang tersebut. Ditambah pula, saat kejadian kebakaran pintu gerbang gudang masih terkunci, sehingga para korban memanjat pagar tembok untuk maksud menghindari kobaran api.
“Terutama untuk mitigasi, itu kan sudah diatur. Keterangan dari para ahli untuk gudang yang sekarang dipakai tidak layak sebenarnya. Apalagi dalam gudang itu ada karyawan yang bersangkutan yang tinggal di situ,” kata Laorens, menyampaikan.
Karena itu, penyidik Polresta Denpasar menetapkan pemilik gudang bernama Sukojin (50) sebagai tersangka dengan dugaan melanggar Pasal 53 Undang-Undang Republik Indonesia No.22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi sebagaimana diubah dengan Pasal 40 huruf 8 UU RI No.6 tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.
Saat ditanya terkait dugaan adanya pengoplosan gas di dalam gudang tersebut, Laorens belum memberikan kesimpulan mengingat hasil uji laboratorium forensik dari Bidlabfor Polda Bali belum rampung.
Namun demikian, jika dugaan pengoplosan gas elpiji tersebut dapat dibuktikan dengan alat bukti yang kuat, maka tidak menutup kemungkinan ada tambahan pasal baru yang disangkakan kepada tersangka Sukojin, selain tiga pasal yang kini diterapkan penyidik.
Penyidik Polresta Denpasar hingga kini mendalami keterangan saksi-saksi terkait aktivitas di dalam gudang tersebut, termasuk mengumpulkan alat-alat yang ditemukan di TKP dan lainnya.
“Kami menyampaikan bahwa proses ini dengan penetapan tersangka bukan berarti selesai. Tidak, kami masih melakukan pengembangan-pengambangan terhadap saksi maupun perbuatan pidana lain, dalam arti ada pasal lain yang mungkin kami tetapkan, akan ditambahkan,” katanya kepada wartawan di Mapolresta Denpasar.
Sebelumnya, sebuah gudang gas elpiji di Jalan Cargo Taman 1, Banjar Uma Sari, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, terbakar pada Minggu (9/6) lalu sekitar pukul 06.10 Wita.
Kepolisian Daerah Bali menyebutkan setidaknya ada 18 korban akibat kebakaran yang disertai ledakan-ledakan tersebut. Korban sebanyak itu rata-rata mengalami luka bakar yang serius.
Hingga berita ini diturunkan, dari 18 korban, 12 di antaranya dilaporkan meninggal dunia, yakni 11 orang tercatat meninggal dunia di RSUP Prof Ngoerah/Sanglah Denpasar, sementara seorang lainnya menghembuskan napas yang terakhir di RSUD Wangaya Denpasar. (ANT/LE)








