Mangupura, LenteraEsai.id – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Badung I Nyoman Satria pada Kamis, 7 Desember 2023 menerima kunjungan anggota DPRD Kabupaten Bitung, Provinsi Sulawesi Utara. Mereka diterima di ruang rapat pimpinan DPRD Badung di Mangupura.
Nyoman Satria yang tampil dengan mengenakan pakaian Adat Bali, yakni baju safari dan destar putih, tampak hanya seorang diri menerima kehadiran anggota DPRD Kabupaten Bitung tersebut. Demikian juga tidak menyertakan pihak eksekutif maupun direksi perusahaan daerah (Perusda) yang terkait dengan materi kunjungan.
Sementara kehadiran rombongan DPRD Kabupaten Bitung yang dipimpin Wakil Ketua Pansus Perusahaan Daerah (Perusda) Erwin Nurainian itu, menyertakan 10 orang anggota gabungan Pansus dan direktur Perusda di daerahnya serta sejumlah staf.
Erwin Nuranian yang juga Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Bitung mengatakan, kedatangannya ke Gedung DPRD Badung ingin mengetahui tentang Perusda di daerah ini. Khususnya mengenai penyertaan modal pemerintah pada Perusda yang dimiliki.
“Kami dari Pansus Perusda DPRD Kabupaten Bitung datang ke DPRD Badung ingin tahu kiat-kiat Pemkab Badung dalam memajukan Perusda. Lebih khusus tentang penyertaan modal pemerintah,” ujar Erwin seraya memperkenalkan anggota rombongan satu persatu.
Ditambahkan Erwin, Pemerintah Kabupaten Bitung selama ini terus menyuntikkan modal ke Perusda (PDAM dan PD Pasar), tetapi Perusda tidak untung-untung. “Perusda yang kami miliki belum bisa menghidupi diri sendiri. Maka kami perlu belajar ke Badung,” kata Erwin, menjelaskan.
Nyoman Satria, politisi PDI Perjuangan asal Mengwi itu antara lain menjelaskan secara umum keberadaan Perusda di Kabupaten Badung, yakni Perusda PDAM dan Perusda Pasar. Di mana Pemkab Badung sempat juga mengalami hal yang sama, yaitu menyuntikkan modal beberapa kali pada kedua Perusda.
Bahkan Satria menyebutkan, PDAM Badung sempat tidak mampu melayani kebutuhan air bersih untuk wilayah Badung Selatan (Kuta dan Kuta Selatan), lantaran tingginya kebutuhan air bersih bagi warga di wilayah itu, seiring pesatnya perkembangan pariwisata, yakni hotel, restoran dan sebagainya.
“Mengatasi masalah air bersih untuk Badung Selatan ketika itu, Pemkab Badung sempat bekerja sama dengan pihak swasta. Tepatnya dengan PT Tirta Arta Mulia dengan kontrak kerja sama sekitar 20 tahun. Swasta yang membangun instalasi dan melayani air bersih untuk hotel-hotel dan sebagainya,” ujar Satria, menyampaikan.
Dikatakan Satria, setelah masa kontrak selesai, pengelolaan air bersih di Badung Selatan kembali diserahkan kepada PDAM Badung. Tidak kurang dari Rp283 miliar lebih penyertaan modal pemerintah untuk PDAM Badung.
Sedangkan menyangkut Perusda Pasar Badung, Satria menceritakan bahwa PD Pasar Badung juga cukup lama tidak mampu meraih untung. Sehingga harus disuntik modal dari pemerintah, sambil terus melakukan pembenahan-pembenahan.
“Perusda Pasar Badung pernah overload pegawai. Jumlahnya mencapai 350 orang, padahal dengan 90 pegawai saja sebenarnya sudah cukup. Itu diketahui setelah dilakukan audit. Kemudian Perusda itu tidak boleh lagi menerima pegawai baru,” ucap Satria, mengungkapkan.
Dikatakan, Perusda Pasar Badung mengelola beberapa pasar umum dan satu pasar hewan, yaitu Pasar Hewan Beringkit di Mengwi. Potensinya ekonomi dan sumber PAD Badung sebenarnya cukup potensial. Dijelaskan juga, Pemkab Badung penyerta modal terbesar di Bank BPD Bali. Sekarang pernyertaan modal Pemkab Badung di Bank BPD Bali mencapai Rp800 miliar lebih.
Usai sesi tanya jawab, pertemuan Komisi III DPRD Badung dengan DPRD Bitung siang itu diakhiri dengan penyerahan vandel lambang daerah Badung, serta melakukan foto bersama.
Pewarta: I Made Astra
Redaktur: Laurensius Molan







