Buleleng, LenteraEsai.id – Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana menggandeng Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pasar Argha Nayottama dan Perumda Swatantra Kabupaten Buleleng untuk membeli hasil produksi bawang putih para petani di Kabupaten Buleleng.
Upaya-upaya pelibatan berbagai pihak dalam menyerap hasil panen para petani itu, belakangan ini digunakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Buleleng untuk menurunkan inflasi dan terbukti telah menunjukkan hasil.
“Kita sering melihat tatkala produksi berhasil belum tentu petani tersenyum. Panennya sudah berhasil namun harganya turun. Sehingga sekarang ini bagaimana membuat petani berhasil meningkatkan produksi, tetapi hasil panennya langsung dibeli,” ujar Lihadnyana usai memimpin jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melakukan panen bawang putih varietas lumbu hijau hasil bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, di Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Minggu (2/10) pagi.
Lebih lanjut dikatakan, TPID Kabupaten Buleleng telah melakukan kerja nyata dengan turun langsung ke lapangan untuk mengeksekusi persoalan kenaikan harga. Apabila kenaikan harga tidak dikendalikan, itu akan berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat. Tentu juga akan mempengaruhi kesejahteraan masyarakat.
“Kalau berbicara inflasi akan lebih bagus ke depannya langsung ke lapangan. Ini bukti nyata yang sudah dilakukan oleh TPID Kabupaten Buleleng di bawah koordinasi Sekda Buleleng. Inflasi di Buleleng sudah mengalami penurunan, kita tunggu rilis dari BPS terkait hal tersebut,” ujar Lihadnyana.
Masih kata Lihadnyana, ada tiga hal pokok yang bisa dilakukan dalam konteks pengendalian inflasi. Pertama meningkatkan frekuensi dukungan untuk pelaksanaan pasar murah, sehingga mempengaruhi psikologi harga di pasar untuk komoditas ini. Kedua memberikan subsidi untuk transportasi. Meskipun dampak kenaikan BBM yang memberikan pengaruh terhadap biaya transportasi, tetapi itu diberikan subsidi maka harga juga akan menjadi stabil di pasar. Yang ketiga urban farming untuk meningkatkan produksi terhadap potensi daerah sebagai penghasil komoditas bahan pangan.
“Ketiga hal pokok ini merupakan strategi yang secara konsisten akan kita lakukan di Kabupaten Buleleng dalam rangka pengendalian inflasi, mengendalikan kenaikan harga,” katanya, menandaskan.
Dalam hal pengendalian inflasi dan kenaikan harga tidak bisa dikerjakan sendiri. Perlu ada kerja sama kolaborasi antardaerah, antarinstansi, saling bertukar informasi harga maupun produksi. Sehingga manajemen rantai pasok antardaerah bisa dilakukan dengan baik dan secara merata pengendalian harga bahan pangan pokok bisa dikendalikan.
“Untuk bahan pangan kita stoknya sudah sangat banyak. Sehingga tidak perlu khawatir. Terima kasih untuk seluruh pihak yang terlibat. Saya minta untuk Perumda paling lambat besok sudah diambil hasil produksinya dan langsung dibawa ke pasar,” ujar Lihadnyana, menekankan. (LE-BL1)







