Krematorium Dalem Kerobokan Badung Siap Beroperasi

Krematorium Dalem Kerobokan Siap Beroperasi. (Foto: Astra)

Badung, LenteraEsai.id – Tempat Perabuan Jenazah (Krematorium) Dharma Kerthi Dalem Kerobokan, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, dinyatakan siap beroperasi melayani kepentingan umat yang membutuhkan.

Berkaitan dengan itu, keberadaan krematorium tersebut pada Rabu, Buda Kliwon Gumbreg, 4 Mei 2022. dilakukan upacara pemelaspasan dengan upakara bebangkit, caru balik sumpah madia dan lain-lain, di-puput (dipimpin) Ida Pedanda Putra Telaga dari Gria Sanur, Denpasar.  

Bacaan Lainnya

Hadir menyaksikan upacara siang itu Bandesa Madya MDA Kabupaten Badung AA Putu Sutarja SH MH, Ketua Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Badung Dr I Gede Rudia Adiputra, Tripika Kuta Utara, Bendesa Adat Kerobokan, Prajuru 8 Pura Dalem se-Desa Adat Kerobokan, para Lurah, Angga Puri dan undangan lainnya. 

Bendesa Adat Kerobokan AA Putu Sutarja menjelaskan, pembangunan tempat perabuan jenazah (krematorium) itu dilaksanakan selama kurang lebih satu tahun (Mei 2021-Mei 2022). Sumber pendanaannya secara swakelola menggunakan kas Pura Dalem Kerobokan, dengan RAB sebesar Rp 4,5 miliar.

Krematorium dilengkali empat bangunan tungku, bale pesandekan, wantilan, tempat upakara/sawa, tempat penyimpanan abu dan beberapa bangunan lainnya. 

“Pembangunannya sepenuhnya secara swadaya, yakni dari kas Pura Dalem Kerobokan, tidak ada bantuan dari pemerintah,” ucap Sutarja, menjelaskan.

Sutarja menyebutkan, setelah di-pelaspas, tempat perabuan akan menjalani ujicoba setahun. Maksudnya ujicoba operasional untuk melayani kremasi jenazah warga Desa Adat Kerobokan dari 52 banjar adat. Wilayahnya meliputi Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Apakah dalam setahun itu ada krodit, atau bagaimana. Karena tujuan awal pembangunan krematorium itu, prioritas melayani warga setempat (krama wed, Red). 

“Dari ujicoba itu, kami akan tahu apakah dalam setahun akan timbul permasalahan atau terjadi kekroditan. Jika krodit kan tidak bagus. Kalau tidak, tempat perabuan akan dibuka untuk masyarakat luar, yakni di luar warga Desa Adat Kerobokan,” ujarnya.

Masih menurut Bendesa Adat Kerobokan, tujuan dibangunnya krematorium supaya krama Kerobokan tidak melanggar Awig-awig (ketentuan) atiwa-atiwa. Karena dalam ketentuan sebulan tidak bisa yakni setelah uncal balung, terjadi kekroditan.

“Pendirian tempat perabuan konsepnya membantu warga. Nantinya bisa memilih sesuai tingkatan upacara, utama, madia atau kecil. Biayanya sudah ditetapkan. Antara krama wedan dan krama tamiu ada perbedaan biaya,” ucapnya.

Di luar kremasi, tradisi di Desa Adat Kerobokan juga menyelenggarakan Ngaben (Pitra Yadnya) Massal yang dilakukan 4 tahun sekali. Yaitu ngaben setelah Buda Kliwon Pegat Tuwakan. Bertepatan Ngaben Massal itu juga diisi ritual Matatah (potong gigi) Massal, Nganten Massal (Manusa Yadnya) dan Ngadegang Pemangku (Rsi Yadnya). 

Ia menambahkan, untuk menunjang Ngaben Massal tersebut, warga Desa Adat Kerobokan biasanya sudah mengikuti program di Bumdes. Yakni menabung, namanya Sibangkit dan Sipangkur. “Jadi mereka sudah menyiapkan biaya jauh-jauh sebelumnya dengan menyisihkan sebagian pendapatan,” katanya, menjelaskan.  (LE-Ima) 

Pos terkait