BadungHeadlines

Krematorium Tidak Menggerus Eksistensi Adat, Jenazah Krama Jempeng Mulai Ada yang Dikremasi

Badung, LentetaEsai.id – Kehadiran krematorium di beberapa tempat di Bali memunculkan berbagai reaksi di masyarakat, khususnya krama yang beragama Hindu dalam beberapa hari ini. Sempat terjadi perdebatan sengit, bahkan ujaran pro dan kontra mencuat di media sosial.

Seperti diketahui, beberapa tahun belakangan di Pulau Dewata bermunculan tempat pembakaran mayat alternatif, yakni krematorium. Antara lain muncul di wilayah Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bangli dan Kabupaten Tabanan.

Sekarang ada yang dalam pembangunan, yakni krematorium di Setra Krobokan, Kecamatam Kuta Utara, Kabupaten Badung. Fasilitas pembakaran jenazah itu dibangun Desa Adat Krobokan.

Di Bali keberadan krematorium bukan barang baru. Karena di kawasan Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung sudah tergolong lama diberdirikan. Dan satu lagi krematorium yang usianya sudah tergolong tua, dibangun di Jalan Cekomaria, Denpasar Utara.

Di masa pandemi Covod-19, kecendrungan krematorium menjadi pilihan masyarakat untuk memperabukan jenazah anggota keluarga yang meninggal dunia akibat virus tersebut. Bahkan untuk beberapa jenis penyakit menular lainnya pun, juga sering memanfaatkan jasa krematorium.

Di masa pandemi krematorium dipilih supaya tidak melibatkan banyak warga di lokasi pembakaran jenazah guna menghindari kerumunan seperti yang diimbau pemerintah.  Selain itu, ada pula yang memilih krematorium karena pertimbangan efesiensi biaya.

Seperti diketahui, bagi sebagian krama, pelaksanaan Upacara Ngaben (membakar mayat) secara tradisional masih dirasakan cukup berat, karena memang menelan anggaran yang cukup besar. Apalagi situasi ekonomi saat ini sedang drop akibat dampak pandemi Covid-19.

Atas pertimbangan itu, beberapa jenazah krama Desa Adat Jempeng, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, belakangan mulai ada yang dikremasi. Hal itu diakui Bendesa Adat Jempeng, I Ketut Jenar dalam perbincangan dengan pewarta LentetaEsai (LE) pada Selasa, 31 Agustus 2021 lalu di rumahnya.

Jenazah krama yang dikremasi itu di antaranya karena diketahui positif Covid-19, dan alasan lainnya. “Ada juga karena ‘wasiat’ (permintaan) dari yang meninggal dunia, ketika masih hidup dan dirawat di rumah sakit,” ujarnya, menjelaskan.

Menurut Jenar, jika ada permintaan dari warga yang akan mengkremasi jenazah keluarganya, pihaknya berembug dulu dengan para prajuru adat. Yakni Bendesa Adat dengan Kelian-kelian Banjar Adat dan pihak-pihak berkompeten lainnya. Untuk memutuskan, apakah apermintaan itu dapat dipenuhi atau ditolak.

Keputusan yang diambil prajuru adat tentu dengan mempertimbangkan alasan yang disampaikan warga, serta mengacu pada surat edaran pemerintah terkait Covid-19, dan juga keputusan paruman (rapat) krama desa adat setempat.

“Kami di desa ada program Nyekah (upacara lanjutan setelah Ngaben Red-) massal secara rutin lima tahun sekali. Jadi walau ada jenazah krama yang dikremasi, mereka hanya sampai tingkatan Ngaben. Nanti upacara Nyekah-nya ikut secara massal di desa adat,” ujar Jenar.

Dengan demikian, lanjut Jenar, mereka yang mengkremasi jenazah keluarganya, tetap masih ada ikatan dengan banjar adat dan desa adat. Karenanya, pihaknya tidak ada kekhawatiran eksistensi banjar adat dan desa adat akan tergerus oleh keberadaan krematorium tersebut, katanya, menandaskan.  (LE/Ima)

Lenteraesai.id