Denpasar, LenteraEsai.id – Di usianya yang baru menginjak 15 tahun, I Gusti Bagus Saputera SH (91) telah ambil bagian dalam gelora perjuangan kemerdekaan RI dari pendudukan Jepang dan pasukan NICA.
Dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dari kaum penjajah, cukup banyak kisah manis dan pahit getir yang dialami pria yang kini menjabat ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Daerah Bali untuk masa bhakti 2017-2022 itu.
Ketika ditemui pewarta LenteraEsai (LE) di Markas LVRI Daerah Bali di Jalan Surapati Nomor 17 Denpasar (Gedung Merdeka) pada Kamis, 29 April 2021 lalu, IGB Saputera mengisahkan pengalamannya itu lewat bincang-bincang santai.
IGB Saputera siang itu tampak masuk kantor dengan mengenakan busana batik berlogo veteran pejuang, celana panjang dan peci lengkap dengan atributnya. Memakai sendal, di telinga kanannya tampak terselip alat bantu pendengaran.
Sekalipun tubuhnya tampak sudah agak ringkih karena faktor usia, namun pria yang sudah berumur 91 tahun tersebut terlihat cukup sehat. Yang luar biasa, daya ingatnya masih sangat bagus. Dibuktikan, sejumlah pertanyaan yang dilontarkan pewarta LE dijawab dengan lancar dan detail.
Pertanyaan itu seputar masa perjuangan rakyat Bali melawan penjajah hingga melahirkan Veteran Pejuang Republik Indonesia, termasuk mengingat nama-nama tokoh pejuang, berikut keterlibatan dirinya pada masa pendudukan Jepang dan NICA.
IGB Saputera mengatakan, ketika pendudukan Jepang dan NICA usianya baru 15 tahun, masih berstatus pelajar di SMPN 1 Denpasar. Meski masih pelajar, namun dalam pergerakan di seputar wilayah Kota Denpasar, dia sudah mampu berperan sebagai penghubung antarpara pejuang kemerdekaan.
IGB Saputera juga ikut mengobar-ngobarkan semangat Kemerdekaan Indonesia dengan menulis di tembok-tembok rumah penduduk di pinggir-pinggir jalan. Karena setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan di Jakarta, sangat lama baru sampai beritanya ke daerah-daerah, termasuk Bali, lantaran alat informasi dan komunikasi massal waktu itu masih minim. Adanya cuman lewat RRI dan media cetak yang jumlahnya sangat terbatas.
Sehubungan dengan itu, proklamasi tentang kemerdekaan Indonesia terpaksa harus disampaikan kepada masyarakat lewat coretan-coretan di tembok-tembok penduduk, termasuk gelora semangat perjuangan bagi rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan itu. “Merdeka ataoe Mati”
“Walau saya berstatus pelajar, tetapi sekolah waktu itu tidak menentu. Boleh masuk sekolah boleh tidak. Kami ikut latihan semi militer, tergabung dalam Sinendan (barisan pemuda) memanggul senjata,” cerita IGB Saputera, bersemangat.
Ia juga mengaku ikut mengambil selimut, bantal dan lain-lain di Pelabuhan Benoa dengan menyamar sebagai buruh lokal. Barang-barang itu milik Belanda (NICA), manum kemudian diberikan kepada para pejuang kemerdekaan. Barang-barang diambil pada malam hari, dengan berjalan kaki.
Mantan ketua SPSI Bali dan anggota DPRD Bali itu menuturkan, sempat ditahan NICA gara-gara masih pelajar ikut dalam pergerakan. “Namun saya tidak lama ditahan, karena ketika diinterogasi saya bisa berbahasa Belanda,” ucapnya.
Bahasa Belanda didapat di bangku sekolah, karena memang dapat pelajaran Bahasa Belanda dan Bahasa Inggris. IGB Saputera pun di depan pewarta LE sejenak bicara berbahasa Belanda, cukup panjang dan sangat lancar. Lengkap dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.
Ditanya apa resep tetap sehat dan daya ingat bagus. Ia mengatakan antara lain, selalu berpikir positif, selalu bersyukur, dan bergerak. Khusus memelihara daya ingat, suka main catur. Baik di kantor maupun di rumah. “Saya masih sanggup pidato selama 20 menit kalau menghadiri acara atau undangan ceramah,” katanya, berbangga.
Berapa jumlah veteran di Bali sekarang?, IGB Saputera mengakui jumlahnya terus semakin berkurang. Terutama anggota Veteran Pejuang Kemerdekaan RI, hanya tinggal 1.654 orang. Terbanyak di Kabupaten Badung, 696 orang, kemudian Tabanan, 530 orang, dan sisanya di Buleleng dan seterusnya.
Ia menjelaskan, dalam perkembangannya di Indonesia terdapat tiga jenis veteran, sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah. Selain Veteran Pejuang Kemerdekaan RI, ada Veteran Pembela dan Veteran Perdamaian. Veteran Pembela ada tiga: Pembela Trikora, Pembela Dwikora dan Pembela Seroja.
“Veteran Pembela dan Perdamaian adalah pensiunan personel angkatan bersenjata,” paparnya. Jumlah keseluruhan veteran yang tercatat di Markas LVRI Daerah Bali, hingga akhir 2020 lalu sebanyak 2.117 orang. (LE/Ima)







