Kisah Taman Ayusinta Banting Setir, dari Karyawan Spa jadi Kuli Bangunan

Manggis, LenteraEsai.id – Terdampak merebaknya Covid-19 sehingga dirumahkan dari pekerjaan sebagai karyawan spa di bilangan Petitenget, Badung, Bali, tidak lantas membuat Ni Made Taman terpuruk dan berputus asa.

Wanita berusia 30 tahunan yang dikenal memiliki akun media sosial Taman Ayusinta ini lantas jauh-jauh membuang rasa gengsi, kemudian banting setir ketika ada tawaran bekerja di proyek bangunan sebagai kuli pembantu tukang.

Bacaan Lainnya

“Semula saya bekerja di sebuah spa di Petitenget, tapi efek Covid-19 ini membuat tempat kerja saya menjadi sepi sejak Januari 2020. Akhirnya spa tutup pada bulan Maret 2020 dan saya kemudian memilih pulang kampung. Meninggalkan kamar kos yang selama ini saya sewa dengan biaya Rp 450 ribu per bulan,” kata Taman Ayusinta ketika mengisahkan perjalanan pekerjaannya pada media LenteraEsai.id, Sabtu (9/5/2020) malam.

Dirumahkan dan akhirnya balik ke kampung di Desa Ulakan, Banjar Tengah, Manggis, Karangasem, sempat membuat Taman Ayusinta resah sejenak. Ia memikirkan langkah terbaik, agar tetap bisa menghidupi keluarganya. Selama ini, wanita ini memang menjadi tulang punggung keluarga.

Dia melanjutkan, tanggungan yang harus dibayar setiap bulan tidaklah sedikit. Selain membayar cicilan sepeda motor, ia pun harus menanggung cicilan bayar pinjaman bank di BRI, banjar, koperasi, biaya anak sekolah di SMK dan kuliah, serta untuk pengeluaran sehari-hari.

“Penghasilan dari bekerja di spa sekitar Rp 4 juta. Pengeluaran bulanan malah bisa lebih dari Rp 4 juta, tetapi bisa tertutupi karena saya aktif berjualan secara online. Seperti, jualan baju, jam, sepatu, aksesoris, bahkan yang terakhir ini sedang banyak diminati ialah berjualan bibit tanaman unggul. Nah yang bikin bingung, karena pekerjaan di spa berhenti, akan tetapi cicilan kredit harus tetap bayar,” ujarnya.

Tak mau berlama-lama menanggung keresahan akibat dirumahkan, Taman Ayusinta lantas tidak mau berpikir panjang dan langsung menerima ketika ada ajakan bekerja di proyek bangunan. Kebetulan, salah seorang temannya, Nengah Sudirta, mengajak bergabung kerja di proyek membangun rumah bersama 8 orang lainnya.

“Sekarang saya syukuri bahwa saya tetap bisa bekerja. Gaji harian yang diterima Rp 90 ribu karena saya bagian pembantu tukang. Ini saya jalani dengan ikhlas, karena percaya rezeki itu Hyang Widhi yang mengatur. Saya hanya berharap, agar pandemi Covid-19 ini segera berlalu, supaya saya bisa bekerja di Denpasar lagi. Supaya cicilan kredit terlunasi semua. Dan yang utama, supaya kedua anak saya bisa tuntas pendidikannya di bangku kuliah,” ujarnya bersemangat. (LE-KR)

Pos terkait