Amlapura, LenteraEsai.id – Bentangan lahan eks galian C yang terletak di Desa Amertha Buana, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, Bali, ditanami ratusan bibit pisang lokal pada Minggu pagi, 1 Maret 2020. Penanaman ini dilakukan secara bergotong royong oleh anggota Kelompok Suka Damai Pranasih.
“Kelompok ini sudah terbentuk sejak akhir 2019 dengan anggota 30 orang. Sejak awal kami ingin menerapkan arahan Pak Gubernur Bali untuk menggunakan buah lokal. Akhirnya kami pilih bertanam pisang, karena buah inilah yang sangat dibutuhkan warga karena hampir tiap hari ada upakara yang memerlukan buah pisang,” ujar Perbekel Desa Amertha Buana I Wayan Suara Arsana ketika memberikan keterangan dari Karangasem, Minggu siang.
Dikatakan Suara Arsana, sesuai Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 99 tahun 2018 tentang Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, maka ia dan penduduk Amertha Buana sepakat membentuk Kelompok Suka Damai Pranasih, di mana salah satu program unggulan yang dicanangkan adalah bertanam pisang lokal.
Di areal eks galian C yang membentang di Desa Amertha Buana, Kecamatan Selat itu, oleh anggota kelompok kemudian ditanami sebanyak 700 bibit pisang lokal.
“Untuk 700 bibit tanaman pisang lokal itu, kami masih membeli dari masyarakat. Bibit ini selanjutnya ditanam pada area eks galian C seluas 80 are. Selanjutnya, kalau tanaman sudah hidup, tentu akan beranak-pinak sehingga ke depan kita tidak perlu beli bibit pisang lagi,” ujarnya, bersemangat.
Mengenai sistem bertani yang dilakukan, dia menyebutkan, mengacu pada pertanian modern. Di mana pada lahan eks galian C tidak boleh ditanami jenis tumbuhan lain. Pembibitan sejak awal disiapkan di polibag, serta galian lubang tanam lebih dulu diberi pupuk organik untuk memicu pertumbuhan pisang agar maksimal.
“Target yang kita bidik untuk tahun 2020 dapat menanam pada lahan eks galian C seluas 1.000 are. Sistemnya bukan sewa lahan, melainkan kerja sama. Jadi bagi warga yang memiliki lahan eks galian C, akan diajak kerja sama bertanam pisang. Pada masa panen, hasilnya dibagi antara pemilik lahan dan Bumdes. Nanti hasilnya masuk ke pendapatan desa,” kata Suara Arsana, mejelaskan. (LE-KR)







