Gianyar, LenteraEsai.id – Hari Raya Galungan tinggal menghitung hari saja, namun belum membawa angin segar bagi peternak karena angka kematian babi di wilayah Kabupaten Gianyar terus bertambah.
Hal ini tentu saja dikarenakan kematian babi saling sambung menyambung antara desa satu dengan desa yang lainnya. Masyarakat sebagai konsumen jadinya merasa khawatir ketika akan memakan daging babi pada saat hari raya Penampahan Galungan.
Sampai saat ini, tidak ada kepastian tentang solusi kematian babi ini. Para peternak, khususnya peternak kecil sangat merasa resah. Walaupun saat ini harga babi di Kabupaten Gianyar rata-rata Rp 26 ribu per kilogram (untuk harga patungan), namun tetap berdampak kurang menguntungkan bagi para peternak.
Harga per kilogramnya memamg masih pada posisi bagus, namun kalau warga yang semula mau beli babi untuk patungan akhirnya batal, mau untung dari mana bagi para peternak. Terlebih, bencana kematian untuk ternak piaraan tersebut belum ada tanda-tanda akan secepatnya terhenti.
Salah seorang peternak babi asal Banjar Kutuh Sayan Ubud, I Wayan Kopi, mengatakan meski kandangnya sudah bersih sebagaimana anjuran petugas, namun satu ekor babi betinanya didapati telah mati, hari Sabtu lalu. “Sebelumnya babi saya ini tidak mau makan. Padahal ternak saya ini akan melahirkan,” ujarnya, Minggu (16/2) dengan ekspresi sedih.
Lanjutnya, kematian ternaknya ditandai dengan darah kental yang keluar dari mulut. Selain itu, bau darah tersebut sangat busuk. Kopi mengatakan sejak beberapa hari babinya tersebut tidak mau makan. Dirinya pun sempat bingung mengatasi kondisi itu. Dirinya pun mengaku tidak bisa berbuat apa, selain menjaga kebersihan kandang.
Kopi berharap pemerintah segera mencari solusi agar kondisi ini tidak terus berlanjut. Mengingat babi merupakan salah satu penunjang perekonomian masyarakat.
Kondisi yang sama juga dialami oleh sejumlah peternak di Lingkungan Junjungan Ubud. Kasus banyaknya babi yang mati mendadak, berimbas pada pembatalan pembelian oleh kelompok –kelompok patungan untuk perayaan Hari Raya Galungan.
Wayan Duri, dari Banjar Petulu Gunung, Petulu Ubud mengatakan jika pihaknya terpaksa membatalkan rencana pembelian dua ekor babi di daerah Junjungan untuk pemotongan hari Penampahan Galungan. Karena di lingkungan itu sudah ada informasi tentang kasus kematian babi. Atas kondisi ini, banyak pula anggotanya yang membatalkan ikut patungan. “Karena banyak yang ragu-ragu, kami pun memilih tidak melakukan pemotongan untuk patungan,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Raka ketika ditanya tentang solusi yang harus dilakukan peternak saat babinya menunjukkan gejala kematian seperti tidak enak makan, lebih banyak mengingatkan masalah kebersihan kandang.
Made Raka hanya meminta peternak menjaga kebersihan kandang, dan menyemprotkan disinfektan agar kandang steril dari bakteri atau virus. Terkait jumlah babi yang mati misterius di Kabupaten Gianyar, Raka tidak merincinya. Namun ia menegaskan jumlahnya relatif lebih sedikit dibandingkan dengan kematian babi di kabupaten lain, seperti Tabanan. (GN5)







