Karangasem, LenteraEsai.id – Kehidupan yang memprihatinkan dialami seorang pria bernama I Ketut Sumarta (41), yang tulang pahanya patah sejak bulan April 2020 lalu. Musibah ini dialami ketika ia tengah bekerja sebagai buruh panjat di kampungnya, di lereng Bukit Pedalit, Banjar Kelodan, Selumbung, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali.
Seraya menghela nafas penuh kesedihan, ayah satu anak ini mengisahkan, kejadian berlangsung ketika ia tengah ‘meburuh’ panjat pohon wani untuk panen. “Ketika saya tengah memanjat pohon wani setinggi 8 meteran, tiba-tiba ada ular hijau ekor merah muncul di depan wajah saya. Ular itu mendesis dan siap mematuk. Saking kagetnya, saya kontan melepaskan pegangan pada batang wani, akhirnya tubuh saya jatuh terhempas ke tanah,” ujar Sumarta seraya mengatakan beberapa saat sebelum itu ia sudah merasakan ada ular di dekatnya, karena mencium bau amis.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat, dan tahu-tahu Sumarta merasakan hempasan keras. Pria bertubuh kurus sempat merasakan gemeretak tulang pada pahanya. Beruntung saat itu, ada keponakannya yang tengah berdiri di dekat pohon wani, sehingga segera menolong Sumarta dan melarikan ke RSUD Karangasem.
“Untuk berobat, saya bersyukur memiliki kartu KIS. Ketika dokter mengatakan kaki saya harus dioperasi karena tulang paha patah, saya sangat terbantu dengan keberadaan kartu KIS untuk membiayai operasi di RSUD Karangasem. Sampai sekarang saya masih kontrol kondisi paha ke rumah sakit,” katanya sembari memegang kruk untuk membantu berjalan.
Sumarta melanjutkan, dikarenakan tempat tinggalnya di lereng bukit, ia dan keluarganya kini telah memutuskan pindah ke rumah saudaranya bernama Nengah Sudarma, yang terletak di Banjar Kanginan, Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Karangasem. Dengan kepindahan ini, Sumarta bisa lebih mudah berobat ke RSUD Karangasem karena jaraknya lebih dekat.
Kini setelah kakinya tidak dapat berjalan dengan normal, Sumarta sepenuhnya bergantung hidup pada belas kasihan saudara-saudaranya. Hidup penuh keprihatinan, karena Nengah Sudarma tempatnya menumpang, hanya bekerja sebagai tukang tebang pohon atau pekerja serabutan. Itu pun jika ada panggilan orang untuk bekerja.
Menurut Sumarta, sebenarnya istrinya Ni Nyoman Sudiani bekerja sebagai buruh di pasar wilayah Telaga, Sibetan. Akan tetapi sejak adanya pandemi Covid-19, pasar telah tutup sehingga praktis menganggur. Anak semata wayang Sumarta, kerja serabutan di Denpasar dan saat ini sedang sulit bekerja karena merebaknya Covid-19.
“Benar-benar sulit kehidupan sekarang. Dengan kaki saya seperti ini, saya tidak bisa bekerja lagi. Istri saya juga berhenti kerja di pasar karena pasar tutup. Sekarang istri merawat saya dan mencari pakan ternak sapi. Saya berharap semoga ada yang peduli dengan memberikan bantuan sembako untuk kehidupan sehari-hari. Jika Hyang Widhi merestui, semoga saya ada bantuan bedah rumah. Saya saat ini tinggal numpang di tanah pinjaman milik orang. Semoga ada bantuan bedah rumah agar bisa tinggal di tempat yang lebih layak,” ujarnya berharap. (LE-KSP)







