Penduduk Subagan Karangasem Beternak Tikus Untuk Menyambung Hidup

Karangasem, LenteraEsai.id – Masyarakat sejauh ini lebih dikenal dengan beternak hewan seperti kambing, ayam, itik, sapi atau bahkan babi. Tetapi di daerah Subagan, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur, ada warga yang memilihara ternak tergolong unik.

Adalah pria tengah baya, I Gusti Gede Jelantik yang sertamerta beternak tikus untuk dapat menyambung hidup setelah bekerja dan beberapa jenis usaha lain yang ditekuninya terpuruk, terlebih sejak dua tahun ini ‘digilas’ pandemi Covid-19.

Bacaan Lainnya

Tikus yang diternak ialah jenis mencit dan tikus pengerat. Tikus tersebut sama-sama memiliki warna putih dan mata merah. Bedanya, tikus mencit ukurannya lebih kecil dibandingkan tikus pengerat. Tikus-tikus ini biasanya digunakan warga untuk pakan reptil, seperti ular.

Saat dikunjungi di rumahnya yakni di wilayah Subagan, Karangasem pada Senin (8/8/2022), I Gusti Gede Jelantik terlihat sedang memberi pakan ratusan tikus ternak miliknya yang tampah gemuk-gemuk dan lincah.

“Usaha ini baru berjalan 3 tahun. Awalnya dibangun oleh ayah saya selama 2 tahun, dan saya teruskan sejak setahun terakhir ini,” ungkapnya. Dikarenakan orang tua dari Gusti Gede Jelantik ini memiliki masalah pengelihatan, maka usaha tersebut diteruskan olehnya, dan kini ternak tikus menjadi mata pencaharian utamanya.

“Awalnya saya kerja merantau di wilayah Denpasar, tapi karena ada musibah yang menimpa saya, saya putuskan untuk pulang kampung,” kata Gusti Jelantik tanpa menyebutkan musibah dimaksud.

“Di sini, di kampung, saya tidak memiliki pekerjaan. Padahal harus menghidupi istri dengan dua anak yang masih sekolah. Sempat bingung juga. Tapi semenjak saya meneruskan usaha ayah beternak tikus ini, hasilnya lumayan untuk kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dulunya, lanjut dia, usaha tersebut sempat ditertawakan orang-orang sekitar, karena dianggap lucu. Namun sekarang, tikus hasil ternak Gusti  Jelantik laris dipesan orang dari luar Kabupaten Karangasem.

Peminat tikus ini lebih banyak berasal dari luar Karangasem, seperti dari Kabupaten Klungkung, Gianyar dan lainnya. Sekali kirim, bisa mencapai puluhan bahkan ratusan tikus. “Bisa sampai 300 ekor tikus saya kirim, tergantung peminat,” katanya, penuh semangat.

Ditanya mengenai harga tikus yang dilepas ke konsumen, Gusti Jelantik mengungkapkan mulai dari Rp2.500 per ekor untuk ukuran yang kecil. “Yang lebih besar, tentu lebih dari itu,” ujar Gusti Jelantik sembari menyebutkan, dalam sebulan bisa jual ratusan ekor tikus dalam dua kali pengiriman.

Kini, ia memiliki tikus dalam jumlah yang tergolong banyak, namun jumlah itu terkadang tidak mencukupi permintaan konsumen. Maka, ke depan ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk mendapat modal tambahan bagi usahanya tersebut.

“Saya ingin kembangkan usaha ini, cuma terkendala di modal saja,” katanya. Sementara untuk pakan, tikus-tikus tersebut diberi dedak dan buah-buahan. Untuk perawatannya, tikus diberi vitamin yang sama seperti vitamin untuk ternak babi.

“Merawat tikus-tikus ini sebenarnya gampang-gampang susah dan harus telaten, karena kalau stres atau kekurangan pakan, tikus bisa jadi kanibal, memakan temannya. Sementara indukan tikus bisa melahirkan belasan ekor, namun yang hidup rata-rata hanya 9 sampai 7 ekor saja,” ucapnya, menuturkan. (LE-Ami) 

Pos terkait