Denpasar, LenteraEsai.id – LPD Sanur bersama lima LPD di Denpasar akan segera mengimplementasikan QRIS LPD untuk memperluas layanan dan merambah nasabah. Tidak ingin tertinggal dalam proses digitalisasi lembaga keuangan mikro sekalipun, LPD harus menerapkan teknologi dalam proses bisnisnya.
LPD Sanur, LPD Renon, LPD Sesetan, LPD Poh Gading, LPD Penyaringan, dan LPD Sumerta, melakukan pertemuan untuk memetakan potensi merchant di wilayah masing-masing. Pertemuan yang dilaksanakan di Kantor LPD Renon ini dibuka oleh Ketua LPD Sanur I Wayan Loka SE, pada Sabtu (23/7).
QRIS adalah QR Code yang dikembanhkan Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia guna mengintegrasikan seluruh metode pembayaran non-tunai di Indonesia.
Dalam paparan yang disampaikan pada pertemuan ini, disebutkan bahwa QRIS sebagai salah satu metode pembayaran non-tunai bisa menjadi kesempatan sekaligus bisa menjadi ancaman.
Ihin Solihin dari USSI Dewata Technology menanyakan kepada peserta diskusi. “Dalam rangka disrupsi digital transaksi tunai berkurang bahkan akan hilang. Saat ini kolektor-kolektor LPD memungut uang tunai dari merchant nasabah-nasabah LPD, ketika nanti sudah terdisrupsi dan uang tunai tidak ada kolektor-kolektor mau menarik apa dari nasabah?.”
“Untuk itu jika LPD tidak memasang QRIS di merchant nasabah-nasabahnya, maka potensi sumber dananya akan diambil oleh lembaga keuangan yang lain,” ujar Ihin.
Program percepatan ini didukung oleh Bank BPD Bali sebagai mitra kerja LPD di Provinsi Bali. Perwakilan BPD Cabang Renon Gusti Ayu Diah Chandra Kemala yang hadir dalam pertemuan ini menyatakan percepatan ini diperlukan guna mendukung bangkitnya ekonomi Bali pascapandemi. “Terutama melalui transformasi digital di LPD yang sudah dan sedang berlangsung,” imbuhnya.
Salah satu kendala yang dihadapi oleh LPD untuk melakukan percepatan akuisisi QRIS adalah kesenjangan pemahaman teknologi untuk nasabah-nasabah yang berusia di atas atau di sekitar 50 tahunan.
Peserta dari LPD Renon, Putu Maharani menceritakan mertuanya yang menjual perlengkapan banten, tapi bingung dengan penggunaan QRIS. Mereka belanja masih menggunakan uang tunai, menerima pembayaran dengan uang tunai, kalau pindah ke QRIS mereka takut tidak bisa memegang uang lagi.
Selain ketidaktahuan dari para nasabah di LPD juga ketakutan kasus-kasus penipuan melalui transaksi digital. “Gimana cara ngecek uang kita benar masuk atau tidak? Pakai apa mengeceknya,”? tanya Putu Maharani.
I Wayan Madya SP selaku Pemucuk LPD Renon yang menginisiasi pertemuan ini menyatakan bahwa pertemuan ini sebagai sarana belajar bersama untuk memetakan potensi merchant QRIS agar LPD di seputar Renon tidak tertinggal dalam era disrupsi digital ini. Pihaknya berharap hasil pertemuan ini disebar luaskan ke karyawan-karyawan LPD dan ke masyarakat sebagai salah satu cara edukasi dalam era digital ini. (LE-DP)







