Ayah Meninggal, Ibu Tega Bawa Sepeda Motor Bantuan Pulang ke Rumah Bajang

Foto Putu Arsa Guna Wibawa menerima bantuan sepeda motor dari donatur pada tanggal 26 April 2022 (Foto: LenteraEsai/SuaraArsana)

Karangasem, LenteraEsai.id – Masih ingat dengan berita yang sempat viral di media sosial, yakni seorang anak SD yang menjadi buruh membuat batako untuk biaya sekolah ?. Dia adalah I Putu Arsa Guna Wibawa yang usianya kini telah menginjak 13 tahun.

Hidup di lingkungan keluarga kurang mampu di Dusun Sukaluwih, Desa Amerta Bhuana, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, nasib Putu Arsa menjadi bertambah buruk setelah ayah kandungnya meninggal dunia karena penyakit konflikasi yang telah lama dideritanya.

Bacaan Lainnya

Kemalangan anak lelaki tersebut ternyata tidak terhenti sampai di situ. Sebulan lalu, tepatnya di akhir Maret 2022, ibu kandung Putu Arsa mendadak pulang ke rumah bajang, meninggalkan dua anaknya yang masih kecil-kecil, yakni Putu Arsa dan adiknya, Ayu Kusuma Dewi (9). Celakanya, sang ibu tidak hanya pulang membawa dirinya sendiri, melainkan sembari memboyong sepeda motor bantuan donatur yang biasa dipakai Putu Arsa ke sekolah.

Putu Arsa kini diketahui telah bersekolah di SMP 3 Selat yang letaknya cukup jauh dari rumah kediamannya di Dusun Sukaluwih, Desa Amertha Buana. Dengan dibawanya sepeda motor oleh ibu kandungnya, Putu Arsa sempat tidak bisa pergi ke sekolah karena tidak ada yang mengantar, yakni setelah para murid tidak lagi harus belajar dari rumah (daring).

Kalau toh harus berangkat ke sekolah, ia melakukannya dengan berjalan kaki saat hari masih cukup gelap di kampungnya. Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Kewilayahan (Kawil) Sukaluwih I Wayan Seriasa saat dikonfirmasi pewarta LenteraEsai.id di rumahnya, Selasa (26/4).

Kawil Seriasa menuturkan, kalau untuk biaya sekolah sampai tamat SMA, untuk Putu Arsa diperkirakan tidak ada masalah, karena bantuan dari donatur yang disimpan di Bumdes sudah mencukupi untuk kepentingan itu. Namun yang menjadi kendala belakangan ini, tidak adanya kendaraan yang dapat dipakai Putu Arsa untuk berangkat dan pulang dari sekolah yang jaraknya lumayan jauh.

Namun demikian, bak pepatah menyebutkan “Pucuk dicita Ulam tiba”. Tanpa diduga-duga, hari ini, Selasa, 26 April 2022, seorang dermawan bernama I Nyoman Merta Adi Adnyana (Korek Bali) asal Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, datang mengulurkan bantuan kepada Putu Arsa.

Kawil Seriasa mengucapkan banyak terima kasih kepada donatur Merta Adi Adnyana yang datang memberikan sebuah sepeda motor Baet warna putih lengkap dengan BPKB dan STNK kepada Putu Arsa. Bantuan diserahkan di Kantor Desa Amerta Bhuana, diterima langsung oleh Putu Arsa Guna Wibawa, disaksikan perwakilan Perbekel Amerta Bhuana I Nyoman Arnawa dan Ketua Bumdes.

Kepada Putu Arsa, Merta Adi Adnyana berpesan agar sepeda motor yang diberikannya tersebut betul-betul dimanfaatkan untuk keperluan sekolah. Ia juga mengingatkan agar Putu Arsa tidak terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, apalagi sekarang sudah tidak lagi memiliki kedua orang tua.

Seperti diketahui, setelah ayahnya meninggal dunia kemudian menyusul ibu kandungnya pulang ke rumah bajang, Putu Arsa dan adiknya Ayu yang masih sekolah dasar (SD), harus tinggal di rumah dengan kakek dan neneknya yang sudah berusia renta. Karena itulah, mereka harus bisa bertahan hidup dari keringat Putu Arsa yang menjadi buruh di tukang batako.

Sebelumnya dikisahkan, anak yatim bernama I Putu Arsa Guna Wibawa seakan tiada putus dirundung nasib malang. Dua tahun lalu, ayahnya meninggal dunia. Duka seketika menyentak kehidupan Putu Arsa yang hidup bersama ibunya (Ny Dodak), adik perempuan (Ni Kadek Ayu Kusuma Dewi) dan kakek neneknya yang sudah lansia.

Kemalangan yang dialami keluarga yang tinggal di Banjar Sukaluwih, Desa Amerta Bhuana itu terus berlanjut. Sejak enam bulan lalu, Ny Dodak mendadak terserang stroke, sehingga praktis tidak bisa beraktivitas dengan normal lagi. Ny Dodak hanya bisa terbaring di kamar, karena kesulitan menggerakkan anggota badannya.

Sejak itu, Putu Arsa total mengurusi keluarganya. Mengangkat ibunya untuk diantar ke kamar mandi, menyiapkan makanan hingga membereskan pekerjaan rumah lainnya. Di samping itu, karena tidak ada lagi yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga, Putu Arsa pun mengambil inisiatif bekerja sebagai tukang angkat batako untuk menghidupi ibu, adik serta kakek dan neneknya.

“Bantuan sudah kita usahakan dari desa atau donatur, mengingat Putu Arsa masih terbilang anak-anak. Kasian juga nasibnya. Keluarga itu juga sudah punya kartu KIS. Yang jadi masalah, Putu Arsa harus menanggung dan mengurusi keluarganya, sementara ia sendiri masih anak-anak,” ujar Wayan Suara Arsana selaku Perbekel Amertha Buana, ketika memberikan keterangan pada media LenteraEsai.id pada Rabu, 4 Juni 2020.

Sementara itu, Kadus Sukaluwih Wayan Seriasa menambahkan, saat ini Putu Arsa kelas VI SD dan segera melanjutkan ke bangku SMP. “Saya tidak ingin Putu Arsa terputus pendidikannya. Ia bercita-cita jadi polisi, dan adiknya ingin jadi guru. Saya sebagai Kadus, akan berupaya semaksimal mungkin agar Putu Arsa dan keluarganya mendapatkan bantuan, sehingga pendidikannya tidak terhenti,” kata Wayan Seriasa saat diwawancarai kurang lebih dua tahun silam. 

Namun setelah kondisi fisik Ny Dodak belakangan ini mulai membaik, malah tiba-tiba pulang ke rumah bajang dengan membawa sepeda motor bantuan yang biasa dipakai sekolah oleh Putu Arsa. Terlepas dari itu, dermawan ‘Korek Bali’ menyusul datang mengulurkan bantuan sebuah kendaraan untuk dia pakai berangkat ke sekolah. Astungkara.  (LE-Sua) 

Pos terkait