Kawanan Monyet Lapar Gebur Tanaman Penduduk di Bongkasa Pertiwi Badung

Monyet yang kelaparan menyerbu tanaman penduduk di Abiansemal, Badung

Badung, LenteraEsai.id – Kawanan monyet yang diduga kelaparan turun bukit mencari pakan dengan menyerbu kawasan tempat pemukiman penduduk di Desa Bongkasa Pertiwi, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali.

Satwa yang oleh masyarakat setempat disebut bojog, dalam gerombolan yang cukup banyak turun ke wilayah pemukinan dan menggebur areal pertanian penduduk, sehingga cukup merepotkan warga. Dengan mimik wajah yang garang dan begitu liar, hewan primata itu sertamerta menggerasak kebun untuk dijadikan santapan.

Bacaan Lainnya

Pewarta LenteraEsai dari lokasi kejadian, Minggu (20/6) melaporkan, aneka jenis tanaman umbi-umbian dan buah-buahan seperti ketela rambat, singkong, keladi, pisang, kelapa, pepaya, durian dan lain-lain, habis digasak kawanan monyet yang tampaknya begitu lapar.

Tidak hanya itu, beberapa jenis tanaman sayuran pun tak luput untuk dijadikan santapan dan pengganjal perut lapar bagi kera-kera yang secara sporadis turun menyerbu kawasan pemukiman hingga membuat warga cukup kewalahan.

Menurut beberapa warga, populasi kera yang hidup liar di hutan-hutan di Bali, belakangan ini tergolong sangat banyak. Diduga akibat perkembangannya yang begitu cepat tanpa dengan daya dukung lingkungan yang memadai, telah mengakibatkan timbulnya kekurangan persediaan pakan.

Seiring dengan itu, kawanan kera yang lapar mulai turun ke wilayah pertanian penduduk untuk mencari pakan. Menurut warga, kera-kera yang gemeruduk ke Desa Bongkasa Pertiwi, adalah satwa yang selama ini hidup di hutan rakyat, di tebing-tebing Daerah Aliran Sungai (Tukad) Ayung yang melintang di wilayah Kabupaten Badung dan Gianyar.

Tidak hanya menggasak kebun milik warga, tapi tak sedikit dari binatang berkaki empat dan berekor panjang itu yang begitu saja mengacak-acak sisa bebantenan yang ada di merajan-merajan milik warga, termasuk di beberapa pura yang ada di daerah itu.

Ni Made Musi, warga Banjar Karang Dalem I, Desa Bongkasa Pertiwi, mengatakan bahwa kera-kera tersebut sangat ngerusuh (merajalela), apapun yang ditemukan langsung disantapnya.

“Jika masuk masuk ke areal rumah dan merajan (tempat suci keluarga) atau ke pura, kawanan kera mencari sisa-sisa upacara. Seperti mengambil telor di banten daksina, atau kue-kue dan raka-raka wewantenan lainnya,” ujar Musi.

Kendati demikian, kata Musi, warga didesanya tidak pernah mau menyakiti hewan-hewan tersebut, selain hanya berupaya menghalaunya bila kebetulan terlihat merusak lahan pertanian dan yang lainnya.

“Karena bagaimanapun binatang itu juga ciptaan Hyang Widhi (Tuhan). Walau ngerusuh, tidak pernah kami menyakitinya,” ujar ibu rumah tangga itu sambil melempar senyum dikulum.

Dihubungi terpisah, Perbekel Desa Bongkasa Pertiwi I Made Suarjana membenarkan adanya kawanan kera liar yang belakangan ini memangsa isi kebun dan tanaman penduduk di desanya.

Popularitas kera kini memang sangat banyak. Habitatnya sepanjang aliran Tukad Ayung nampaknya mulai terganggu. “Sewaktu wisatawan masih ramai, binatang-binatang itu kerap dijadikan hiburan oleh para turis yang menginap di hotel di wilayah Gianyar (tetangga Desa Bongkasa Pertiwi-Red),” katanya.

Made Sujana menyebutkan, tamu dan karyawan hotel ketika itu juga tidak sedikit yang terlihat memberi makanan kepada satwa-satwa liar tersebut. Sehingga beberapa di antaranya sempat menjadi jinak.

Ditambahkan Suarjana, kera-kera liar yang hidup di aliran Sungai Ayung dan semak belukar yang ada di seputaran Desa Bongkasa Pertiwi, jumlahnya mencapai ribuan ekor.

Keberadaannya sekarang ini menjadi hama karena makan tumbuhan dan buah-buahan milik warga. Ke depannya bisa saja dikelola kalau warga sepakat. Dijadikan daya tarik wisata. Kebetulan Desa Bongkasa Pertiwi sudah menjadi Desa Wisata sejak 2010 lalu. “Kami cari input-input dulu dari masyarakat. Kalau sepakat dan semangat mengelola kera-kera, bisa diprogramkan menjadi daya tarik wisata,” katanya.

Ayah dua anak dan dua cucu itu menyebutkan, Desa Wisata Bongkasa Pertiwi tumbuh secara butten up. Artinya masyarakat yang lebih aktif. Misalnya membuat usaha rapting, penginapan, warung-warung, sanggar kerajinan dan lainnya. Peran BUMDes sangat penting dalam mendukung usaha masyarakat. “Kami sudah punya seka Cak. Kegiatan petani di sawah, keindahan alam dan kegiatan adat budaya juga disenangi wisatawan,” ujarnya.

Belajar dari kasus Covid-19, Perbekel Bongkasa Pertiwi berpendapat ke depan tidak perlu hanya mengandalkan kehadiran wisatawan mancanegara. Potensi pelancong Nusantara sangat besar. Sekarang keadaan mati suri. “Peralatan rafting punya saya sudah setahun teronggok, bisa -bisa nanti rusak tidak bisa dipakai,” ucapnya.

Desa Bongkasa Pertiwi merupakan desa pemekaran dari desa induknya Bongkasa pada 2003. Desa tergolong baru ini terdiri atas tiga banjar, yakni Karang Dalem I, Karang Dalem II dan Banjar Tegalkuning.

Made Suarjana menjabat Perbekel untuk periode 2009-2016 dan 2016-2022. Ditanya akan kembali bertarung untuk jabatan yang ketiga. Ia mengatakan belum memikirkan itu.  (LE/Ima)

Pos terkait