Denpasar, LenteraEsai.id – Pasikian Pecalang Bali yang bersinergi dengan pihak kepolisian tampak begitu kompak dalam upaya pengamanan demo menolak Undang Undang Cipta Kerja yang berlangsung di Denpasar pada Kamis (22/10) lalu.
Sebanyak 437 anggota Pecalang yang dikoordinir oleh Manggala dan Prajuru Pasikian Pacalang Bali, ambil bagian dalam upaya menjaga Bali tetap tertib dan aman terkait munculnya demo yang sebelumnya sempat diwarnai bentuk provokasi berbau anarkis.
Tenaga pengamanan desa adat yang terlibat ketika itu meliputi Pasikian Pacalang dari Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Gianyar dan Kabupaten Tabanan. Kehadiran Pacalang di lokasi unjuk rasa tersebut berdasarkan permintaan dari Kepolisian Daerah Bali melalui surat dari Ditbinmas yang ditujukan kepada Bandesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali.
Permintaan tersebut kemudian disambut baik sebagai sebuah sinergitas formal untuk mewujudkan pola pengamanan terpadu berbasis kearifan lokal dan adat Bali.
Permintaan dari Kepolisian Daerah Bali itu sendiri dilanjutkan dengan penerbitan Surat Tugas Bandesa Agung kepada Manggala dan Prajuru Pasikian Pacalang Bali serta penugasan kepada Bandesa Madya Kabupaten /Kota terkait untuk mengirimkan Pecalang dari soang-soang Desa Adat yang sudah diatur sedemikian rupa dengan Protokol Kesehatan Covid-19 yang ketat.
Meskipun awalnya ada nada sumbang dari elemen masyarakat yang melakukan demo, namun keberadaan Pecalang sendiri mampu memberikan nuansa lain dan mendudukkan fungsi dari Pacalang sendiri sebagai frontliner penjaga keamanan berbasis wewidangan dengan kearifan lokal adat Bali sendiri.
Hal tersebut disampaikan Jro I Made Mudra selaku Manggala Pasikian Pecalang Bali yang terjun langsung untuk mengkoordinir dan melakukan pemantauan serta memastikan sinergitas di lapangan berjalan baik. “Pasikian Pecalang Bali yang terdiri atas Pacalang Desa Adat dan Prajuru Pasikian Pecalang MDA Provinsi Bali, sedemikian bersemangat dan penuh energi ketika bersama-sama di lapangan membangun sinergitas dengan kepolisian untuk menjaga Bali,” ucapnya.
Bendesa Agung MDA Bali Ida Pangelingsir Agung Putra Sukahet dalam keterangannya di Denpasar, Jumat (23/10), menyambut baik sinergi yang dilakukan Pecalang dengan Polda Bali dalam upaya mengamankan Bali.
Kehadiran Pecalang telah mampu menampilkan nuansa yang berbeda dalam upaya cipta kondisi keamanan dan ketertiban, seperti yang terlihat dalam pengamanan demo penolakan UU Cinta Kerja yang digelar kalangan mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya di Denpasar 23 Oktober lalu.
“Ratu sudah sampaikan, bahwa MDA bersama Pasikian Pacalang Bali akan menjaga Bali tanpa syarat. Artinya seluruh Pacalang Bali siap bersinergi ‘pade baret’ bersama dengan aparat penegak hukum serta elemen masyarakat lain,” ujar Ida Penglingsir, menegaskan.
Pasikian Pecalang Bali yang sudah hadir sejak pagi hari itu setelah sebelumnya diawali proses koordinasi final di Gedung Lila Graha MDA Provinsi Bali, langsung melakukan koordinasi teknis di lapangan bersama pihak kepolisian.
Bersyukur semuanya dapat berjalan lancar hingga akhirnya Pecalang membubarkan diri pada Kamis malam sekitar pukul 19.00 Wita, setelah situasi dan kondisi benar-benar aman, serta para pendemo telah membubarkan diri dengan tertib dari tempat mereka berunjuk rasa, katanya. (LE-DP1)







