Manado, LenteraEsai.id – Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Akhmad Munir mengingatkan jati diri wartawan yakni seorang pejuang.
“PWI sendiri lahir pada tahun 1946, bersamaan dengan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,” kata Akhmad Munir, pada PWI Sulut Award 2026, di Manado, Sabtu.
Dia mengatakan saat ini, anggota PWI mencapai hampir 40 ribu orang yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Sejarah panjang itu menjadi bukti bahwa PWI bukan organisasi baru, melainkan bagian dari sejarah bangsa,” katanya.
Akhmad Munir yang memberikan pesan penting tentang peran wartawan bagi pemerintah daerah dan bangsa.
Menurutnya, media bukan lawan pemerintah, melainkan mitra strategis untuk memajukan daerah. Bersama para pemangku kepentingan, PWI ikut merawat dan menjaga demokrasi serta mendorong pembangunan agar berjalan dengan baik.
“Kami merasa masih banyak utang yang harus ditunaikan. PWI sebagai wartawan pejuang, dan PWI adalah pejuang. Banyak wartawan PWI yang waktu itu bersama para pahlawan kemerdekaan Indonesia memperjuangkan kemerdekaan, dan itu yang kita rawat dan jaga,” kata Munir.
Oleh karena itu, kata Munir, masih ada utang yang harus dibayar kepada bangsa, yakni untuk terus berjuang demi kemajuan dan kemakmuran bangsa.
“Kita sudah mencatatkan sejarah, dan memang harus diperjuangkan. Hal itu masih relevan dengan saat ini,” katanya.
Munir juga menyoroti era media sosial saat ini yang menjadi tantangan sekaligus peluang bagi wartawan. Informasi yang beredar di masyarakat sudah banjir, namun ibarat obat, jika terlalu banyak bisa menjadi racun. Sebab, ada berita bohong, fitnah, dan informasi yang dipelintir bercampur baur di ruang publik.
Namun, ketika masyarakat keracunan berita hoax, obatnya adalah informasi yang benar, akurat, dan tervalidasi. Hal itu hanya bisa dilakukan melalui kerja profesional wartawan, dan tidak dapat dilakukan oleh mereka yang tidak profesional. Berita hasil kerja wartawan bisa menjadi oksigen dan energi bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang sehat.
“Kami yakin warga menginginkan berita yang akurat, karena itu, pastikan jati diri wartawan, pelihara profesionalisme dan integritas,” pesan Munir kepada seluruh wartawan yang hadir.
Munir menyinggung soal oknum wartawan yang memeras dan menakuti pejabat dan pihak lainnya. Ia meminta agar praktik tersebut dilawan. “Kalau ada yang mengancam, hadapi dan laporkan ke Kabid Humas Polda Sulut,” katanya.
Ia juga mendorong para pejabat untuk tidak alergi terhadap wartawan. Menurutnya, wartawan adalah kontrol sosial agar pejabat bekerja dengan baik.
Karena itu, ia mengajak pemerintah untuk mendorong kemitraan, merangkul wartawan, dan mudah diwawancarai demi keterbukaan informasi publik.
Ketua PWI Sulut Sintia Bojoh mengatakan pihaknya mengapresiasi hubungan yang terjalin baik antara wartawan dan pemerintah daerah maupun swasta lainnya.
Dia berharap PWI dan pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya akan bersama-sama membangun daerah Sulut.
PWI Sulut Award 2026 memberikan penghargaan kepada sejumlah kepala daerah, perbankan, swasta yang dinilai berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun manusia di Sulut. (LE)
Source: ANTARA








