judul gambar

Halloween antara Tren Global dan Budaya Lokal

Halloween antara tren global dan budaya lokal
Ketua komunitas K-Pop Squad Lombok Dhea Monica (kiri) bersama wakilnya Mindi Karmila (kanan) saat acara Halloween Night Party di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10/2026). ANTARA/Fadhlina Shahira

Mataram, LenteraEsai.id – Kostum karakter, penampilan tari Korean Pop (K-pop), dan riuhnya pertemuan penggemar mewarnai Halloween Night Party yang diselenggarakan K-Pop Squad Lombok di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada akhir Oktober.

Di balik kemeriahan tersebut, acara yang didominasi generasi milenial dan generasi z itu turut memperlihatkan bagaimana budaya populer global menjadi bagian dari ekspresi diri anak muda, sekaligus memunculkan pertanyaan tentang posisi kebudayaan lokal di tengah perubahan tren.

Bacaan Lainnya

Bagi K-Pop Squad Lombok, Halloween Night Party bukan sekadar perayaan bertema Halloween. Acara tahunan itu menjadi ruang bagi para penggemar K-pop di Lombok untuk berkumpul, menjalin silaturahim, dan menyalurkan minat mereka melalui berbagai kegiatan.

“Tujuan adanya acara itu untuk memeriahkan, untuk menjalin silaturahmi antara K-popers Lombok, yang di mana kan jarang banget kumpul,” ujar Dhea Monica, ketua komunitas K-Pop Squad Lombok, bersama wakilnya Mindi Karmila.

Menurut Dea, Halloween Party mulai diselenggarakan pada 2021. Acara itu menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari penampilan dance cover K-pop hingga random play dance, yakni kegiatan menari mengikuti potongan lagu yang diputar secara acak.

Selain menjadi ajang berkumpul, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi komunitas dan kelompok tari untuk menampilkan kemampuan mereka.

“Jadi kita itu sebenarnya untuk menyalurkan hobi mereka aja gitu,” ujar Mindi.

Halloween dipilih sebagai tema karena memberikan kesempatan bagi peserta untuk tampil menggunakan kostum yang beragam. Panitia juga melihat bahwa perayaan bertema Halloween kerap muncul dalam aktivitas para idola K-pop.

Ruang ekspresi diri

Pengaruh budaya populer global terhadap kehidupan anak muda turut dirasakan Dwitanizam Layshavina, peserta yang dikenal dengan nama panggung Joe.

Ia mengaku telah menyukai budaya Korea sejak duduk di bangku SMP. Ketertarikannya tidak hanya terbatas pada musik, tetapi juga mempengaruhi gaya berpakaian, riasan, hingga kebiasaan sehari-hari.

Kegemarannya terhadap budaya Korea tidak membuatnya meninggalkan budaya lokal. Joe juga menaruh minat pada tari tradisional dan terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan tersebut melalui organisasi di kampusnya.

Bagi Joe, ketertarikan terhadap budaya global dan budaya lokal tidak harus dipertentangkan. Ia menilai keduanya dapat menjadi sumber inspirasi untuk mengekspresikan diri secara kreatif.

“Kenapa kita enggak coba suka dua-duanya? Padahal kan kalau sekarang itu banyak banget gaya lokal disandingkan dengan gaya Korea, kenapa harus minder untuk suka budaya lokal gitu?” tutur dia.

Pandangan serupa disampaikan Dida Ardani, peserta lain yang telah menyukai budaya Korea sejak SMP setelah diperkenalkan oleh teman-temannya. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi aktivitas menari yang telah digelutinya selama bertahun-tahun.

Dida mengaku budaya K-pop turut mempengaruhi gaya berpakaian dan cara berinteraksi dengan orang lain.

Di luar kegemarannya terhadap K-pop, Dida juga memiliki ketertarikan terhadap kebudayaan lokal. Saat mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia pernah membantu kegiatan adat di desa tempatnya menjalankan pengabdian, termasuk kegiatan yang memperkenalkan tempat-tempat bersejarah kepada masyarakat.

Menurut Dida, kecintaan terhadap budaya populer global dapat berjalan beriringan dengan ketertarikan terhadap budaya lokal.

“Sangat bisa sih. Karena kayak kita juga bisa, apa namanya, mix and match kedua budaya itu juga bakal keren sih menurut saya pribadi,” ujarnya.

Interaksi generasi muda dengan budaya global merupakan proses yang tidak dapat dihindari dalam dunia modern yang akrab terhadap teknologi digital, sosial media, hingga perkembangan ekonomi kreatif dan mobilitas.

Generasi muda perlu memiliki pola pikir terbuka, namun tetap selektif agar modernitas budaya global tidak menghapus identitas lokal yang telah tertanam sebagai jati diri.

Eksistensi budaya lokal

Dosen Sosiologi Universitas Mataram (Unram) Muhammad Arwan Rosyadi melihat perayaan Halloween sebagai bagian dari gaya hidup yang berkembang melalui pengaruh budaya global.

Ia menilai fenomena itu berkaitan dengan keberadaan komunitas yang berupaya menghadirkan gaya hidup tertentu agar dapat diterima masyarakat. Dalam konteks Halloween, perkembangan budaya global menjadi tantangan bagi kebudayaan lokal untuk tetap dikenal dan mendapat tempat di tengah kehidupan generasi muda.

“Tentunya di sisi lain sebagai tantangan ya bagi budaya timur termasuk juga budaya masyarakat NTB, termasuk Lombok khususnya, untuk kemudian lebih mengedepankan dan mengeksistensikan lembaga yang sudah turun-temurun,” kata Arwan.

Eksistensi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur harus terus dipertahankan agar tidak digerus budaya global. Budaya lokal perlu terus diperkenalkan agar tidak kehilangan ruang di tengah berkembangnya berbagai tren dari luar negeri.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa popularitas budaya global tidak terlepas dari tantangan untuk menjaga keberadaan budaya lokal.

Namun, pengalaman Joe dan Dida memperlihatkan bahwa ketertarikan terhadap budaya populer global tidak selalu menutup ruang bagi keterlibatan anak muda dalam kegiatan kebudayaan lokal.

Halloween Night Party K-Pop Squad Lombok menjadi gambaran bagaimana budaya global hadir dalam kehidupan anak muda, baik sebagai hiburan maupun ruang ekspresi diri. Di tengah perkembangan tersebut, pengalaman para peserta menunjukkan bahwa budaya lokal juga masih memiliki tempat dalam minat dan aktivitas mereka.

Tantangan yang kini dihadapi bukan sekadar memilih budaya global atau lokal, melainkan bagaimana generasi muda tetap memiliki ruang untuk mengenal, menghargai, dan menjaga kebudayaan sendiri di tengah perubahan zaman. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait