Jakarta, LenteraEsai.id – Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya bersama Danantara Indonesia Trust meresmikan Perpustakaan Danantara yang berada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta pada Jumat.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan perpustakaan ini merupakan bagian dari kemitraan antara Danantara Indonesia Trust dengan Kementerian Kebudayaan yang berfokus pada pengembangan akses publik terhadap pengetahuan budaya.
“Perpustakaan ini tidak mungkin hadir kalau tidak ada kolaborasi kerja sama dan ini adalah bukti konkret dari MoU yang ditandatangani pada bulan Mei lalu antara Danantara Indonesia Trust dengan Kementerian Kebudayaan,” kata Fadli saat meresmikan Perpustakaan Danantara.
Berlokasi di Museum Nasional Indonesia, Perpustakaan Danantara dirancang sebagai pusat pengetahuan terbuka (open-access knowledge hub) yang menghubungkan budaya, pendidikan, dan pembelajaran publik.
Perpustakaan yang terletak di Lantai 2 Gedung B Museum Nasional Indonesia ini memiliki luas area 330 meter persegi. Ruang layanan baru ini melengkapi fasilitas perpustakaan yang berada di Lantai 6 yang tetap dipertahankan dan difungsikan sebagai ruang arsip dan area riset.
Pemisahan ini dilakukan oleh Museum dan Cagar Budaya untuk meningkatkan aksesibilitas, kenyamanan pengunjung, serta optimalisasi pemanfaatan koleksi bagi para pemustaka.
Perpustakaan Danantara memiliki koleksi sekitar 30.000 buku mencakup berbagai bidang dan klasifikasi ilmu seperti buku pengetahuan umum, buku bertema daerah, buku internasional, buku referensi, buku terbitan Museum Nasional Indonesia, hikayat/sastra lama, dan koleksi inventaris museum.
Perpustakaan ini juga memiliki koleksi unggulan yang dapat menjadi rujukan bagi penelitian sejarah dan kebudayaan, di antaranya koleksi arsip dan terbitan Batavia Genootschap, Serat Centhini dan koleksi sastra Nusantara lama, serta terbitan khusus Museum Nasional Indonesia yang berfokus pada kajian sejarah, budaya, dan benda koleksi museum.
“Di sini kita diwarisi sekitar 30.000 buku, termasuk buku-buku lama, buku-buku tua. Ada notulen dan ada cukup banyak Daghregister, ini adalah semacam catatan jurnal harian di Batavia dari tahun 1600-an, dari zaman VOC sampai era Hindia Belanda. Kemudian ada Tijdschrift, ini adalah majalah-majalah yang terbit di masa-masa Hindia Belanda,” kata Fadli.
Sementara itu, Ketua Pengurus Danantara Indonesia Trust Nuraini Razak mengatakan peresmian Perpusatakaan Danantara menjadi kontribusi Danantara Indonesia Trust dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui pendekatan kolaborasi.
“Kami ingin berkontribusi kepada bidang-bidang yang mendasari kualitas manusia Indonesia, ada pendidikan, kesehatan, air, dan sanitasi. Karena itu, ini adalah salah satu contoh program yang kami lakukan dan pendekatan kami adalah kolaborasi,” katanya.
Nuraini mengharapkan kehadiran perpustakaan di Museum Nasional Indonesia dapat memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Karena perpustakaan baru benar-benar memiliki arti jika orang-orang datang dan benar-benar menggunakannya untuk belajar dan mengetahui hal lebih banyak,” ujarnya. (LE)
Source: ANTARA







