Aqua Mambal Dukung Pengembangan Desa Wisata di Hutan Glagalinggah Kintamani

Nyoman Arsana, Stakeholder Relation Aqua Mambal ketika memberikan sambutan di sela kunjungan ke Hutan Glagalinggah, Desa/Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis (21/12/2023). (Foto: LenteraEsai/Vivi Suryani)

Kintamani, LenteraEsai – Menjaga kelestarian bahkan kemanfaatan lingkungan alam bagi banyak orang, menjadi salah satu fokus perhatian PT Tirta Investama Mambal (Aqua Mambal), sebuah perusahaan air minum kemasan yang selama ini dikenal peduli dengan berbagai hal terkait lingkungan.

“Sebenarnya kami memiliki dua komitmen, yakni sukses di bidang ekonomi dan sosial. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, maka di Bali kami menginisiasi sejumlah kegiatan sesuai kearifan lokal di sini,” kata Nyoman Arsana selaku Stakeholder Relation Aqua Mambal ketika memberikan sambutan di sela kunjungan ke Hutan Glagalinggah, Desa/Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli pada Kamis (21/12/2023).

Bacaan Lainnya

Nyoman Arsana melanjutkan, di sisi hulu yang bersimbol air, Aqua Mambal memiliki program memaksimalkan sumber daya air di sejumlah tempat, antara lain di Petang dan Kintamani. Pada bagian tengah, Aqua Mambal melakukan pendampingan kepada petani di daerah Mambal, Kabupaten Badung, dengan mengembangkan pertanian ramah lingkungan sebagai alternatif bahan makanan sehat bagi warga.

Sedangkan di kawasan hilir, dilakukan pengolahan sampah di Jimbaran, Tabanan dan sejumlah daerah lainnya. “Sedangkan untuk konservasi hutan Glagalinggah ini, Aqua Mambal bukanlah merupakan pemiliki program, melainkan menjadi pihak yang support terhadap kegiatan ini. Ke depan, Hutan Glagalinggah akan menjadi tempat belajar bagaimana mengolah lingkungan alam, dan menjadi milik seluruh rakyat Bali,” ujar Nyoman Arsana, penuh semangat.

Sementara itu, Jro Bendesa Glagalinggah I Wayan Sumadi menyatakan bahwa pengembangan desa wisata berbasis program konservasi dan budaya di Dusun Glagalinggah, Desa Kintamani, Bangli, dimulai tahun 2018, namun baru bisa berjalan tiga tahun setelahnya.

“Kewajiban kita melestarikan hutan dan hak kita di dalam kawasan ini adalah mendapatkan manfaat, salah satunya adalah kita bisa mengembangkan jasa lingkungan terkait dengan dilakukannya pengembangan wana wisata di hutan pinus Glagalinggah,” ujar Wayan Sumadi.

Luas wilayah hutan pinus yang dikelola mencapai 50 hektare. Fasilitas yang disediakan bagi para pelancong di areal wana wisata meliputi camping ground, spot foto (prewedding) dan ajang trekking. Bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan dikenakan tarif masuk Rp 10 ribu per orang. “Kalau siswa atau pelajar yang ingin belajar, silahkan bisa dengan leluasa studi di sini. Khusus pelajar tidak ada tiket masuk alias free, karena ini hutan edukasi,” katanya.

Selain itu, lanjut Wayan Sumadi, masyarakat juga bisa mengadopsi pohon dari setiap tanaman di lingkup hutan pinus Glagalinggah ini. “Bagi pengadopsi ada donasi Rp250 ribu per dua tahun,” ujarnya, sambil menunjuk jenis pohon dimaksud, yang tampaknya begitu cocok tumbuh dan berkembang di alam asri berhawa sejuk di daerah ketinggian.

Pewarta: Tri Vivi Suryani
Redaktur: Yanes Setat

Pos terkait