Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Kenalkan Isu Iklim Lewat Film Pendek

Koalisi Bali Emisi Nol Bersih kenalkan isu iklim lewat film pendek
Koalisi Bali Emisi Nol Bersih angkat isu iklim lewat film pendek di Pekan Iklim Bali 2026, Denpasar, Sabtu (17/10/2026). (ANTARA/Ni Putu Putri Muliantari)

Denpasar, LenteraEsai.id – Koalisi Bali Emisi Nol Bersih mengenalkan isu dan solusi iklim yang selama ini jarang terangkat melalui program pemutaran lima film pendek di ajang Pekan Iklim Bali 2026.

“Jadi Lensa Iklim Bali itu adalah programnya Koalisi Bali Energi Nol Bersih untuk mengangkat cerita-cerita masyarakat yang sebenarnya selama ini jarang terangkat ketika kita berbicara mengenai aksi dan solusi iklim seperti kehidupan sehari-hari nelayan bersama istrinya,” kata Communications Specialist Koalisi Bali Emisi Nol Bersih Aisyah Madeleine.

Bacaan Lainnya

Aisyah di Denpasar, Sabtu, menjelaskan program tersebut dibuat untuk mengangkat benang merah antara masyarakat dengan solusi iklim yang sedang dilakukan para lembaga mitra Pemprov Bali di Pulau Dewata itu.

Dari proses kurasi yang melibatkan pendaftaran terbuka hingga wawancara mendalam bersama Minikino dan para anggota koalisi, terpilihlah lima film pendek yang dikerjakan bersama organisasi dan lembaga lingkungan.

“Karena isu kita berat ya, jadi kita mencoba untuk bagaimana caranya dia bisa cocok ke format yang masih enak ditonton dan tidak menggantung, yang penting konklusif,” ujar Aisyah.

Melalui media film pendek ini, koalisi berharap masyarakat luas dapat menyadari bahwa isu perubahan iklim sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti masalah bahan bakar minyak, kekeringan, maupun abrasi.

Dalam program ini, Koalisi Bali Emisi Nol Bersih menayangkan lima film pendek berjudul Satu Pemberhentian Lagi, Viewfinders, Memanen Matahari, Dapur Laut, dan Berlayar sebagai rangkaian Pekan Iklim Bali 2026.

Sebelum proses penggarapan, Aisyah mengatakan berlangsung proses lokakarya cukup panjang, dengan anggota koalisi berbagi banyak ilmu mengenai isu iklim ke tim produksi.

Salah satu karya film pendek berbentuk dokumenter yang mencuri perhatian dalam ajang ini adalah film Dapur Laut garapan produser Rio Kharisma yang menyoroti berbagai persoalan nyata berkaitan isu iklim di kawasan Kusamba, Kabupaten Klungkung.

“Sulitnya itu lebih ke memilih subjek, lalu karena waktunya juga lumayan sebentar untuk riset dan menggali isu apa yang terjadi di sana, sementara banyak sekali masalah di sana mulai dari ikan yang tidak ada sejak COVID-19 hingga abrasi,” tutur Rio.

Dalam pendekatan dokumenternya, Rio memilih seorang nelayan setempat bernama Pak Nengah sebagai aktor utama setelah merasa ada kecocokan dan kenyamanan saat berkoordinasi di lapangan.

Selain itu sebuah film pendek bertajuk Memanen Matahari atau Where the Sun is Harvested yang diproduksi oleh Dian Suryantini ikut mendapat respons positif.

Film fiksi tersebut diperankan oleh anak-anak dengan mengangkat kisah pemanfaatan energi surya PLTS atap untuk mengatasi krisis air bersih di Desa Bondalem, Buleleng.

“Kami menyiapkan skrip sendiri, tetapi dalam perjalanan reading kami juga membebaskan anak-anak ini untuk mengekspresikan apa yang ingin mereka katakan dengan bahasa mereka sendiri, tidak mesti terpaku ke teks agar mereka bisa berbicara secara bebas dan nyaman,” kata Dian.

Melalui pemahaman tersebut, anak-anak akhirnya menyadari bahwa pasokan air di desa mereka yang tidak memiliki sumber mata air sepenuhnya bergantung pada sumur bor bertenaga surya. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait