Gianyar, LenteraEsai.id – Sosialisasi program Global Hospitality bersama delegasi Alabuga Start dari Rusia dan PT Citra Insan Mandiri di Politeknik Omna Trisakti Chandra (Poltek OTC) dan OTC Bali, Senin (12/10/2026), menjadi bagian dari upaya membuka peluang kerja dan pembelajaran internasional bagi perempuan Indonesia.
Kegiatan ini berlangsung beriringan dengan asesmen akreditasi lembaga perguruan tinggi Poltek OTC oleh asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kedua kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan mutu tata kelola pendidikan sekaligus memperkuat capaian lulusan atau outcome OTC Bali dan Poltek OTC.
Dalam kegiatan sosialisasi, CEO OTC Bali, I Wayan Rediyasa, S.E., M.Tr.Par., menyambut positif penjajakan kerja sama dengan Alabuga Start. Menurutnya, program tersebut berpotensi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan, memperoleh pengalaman internasional, serta meningkatkan daya saing di dunia kerja.
Rediyasa mengungkapkan, kebutuhan tenaga kerja yang disampaikan pihak Alabuga Start untuk 2027 mencapai sekitar 8.000 orang. Sementara itu, penjajakan awal dalam kunjungan tersebut secara khusus membahas peluang perekrutan sekitar 70 hingga 100 tenaga kerja di bidang hospitality.
“Kami melihat ini sebagai kesempatan luar biasa bagi anak didik kami. Harapannya, kerja sama ini dapat terus berkembang sehingga semakin banyak tenaga kerja Indonesia yang memperoleh kesempatan bekerja dan meningkatkan kesejahteraannya,” ujarnya.
Ia menegaskan, penempatan tenaga kerja ke luar negeri harus dilaksanakan melalui mekanisme yang legal serta disertai perlindungan yang memadai. Karena itu, dukungan instansi pemerintah terkait dan keterlibatan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia yang memiliki izin resmi menjadi aspek penting dalam pelaksanaan program.
Menurut Rediyasa, program tersebut mendapat rekomendasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow dan dukungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI). Meski demikian, aspek legalitas, persyaratan kerja, dan perlindungan peserta tetap perlu dipastikan sebelum proses penempatan dilaksanakan.
Perwakilan Alabuga Start, Burkhanov Aleksei, menjelaskan bahwa program tersebut ditujukan bagi perempuan berusia 18 hingga 22 tahun dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Program ini menggabungkan kesempatan bekerja dengan pembelajaran bahasa Rusia serta pengalaman kerja sesuai bidang penempatan.
Aleksei memaparkan tujuh kategori pekerjaan yang ditawarkan, yakni katering, operator produksi, pekerjaan penyelesaian akhir (finishing works), instalasi, konstruksi, transportasi jalan, serta layanan dan perhotelan. Bidang logistik juga menjadi salah satu sektor yang dapat dimasuki peserta.
Menurutnya, program tersebut tidak mensyaratkan pengalaman kerja atau gelar pendidikan tertentu. Calon peserta perlu memenuhi ketentuan usia, persyaratan kesehatan, serta kesiapan untuk bekerja dan belajar di Rusia.
Durasi program bervariasi antara dua hingga empat tahun, bergantung pada bidang pekerjaan. Peserta juga berpeluang melanjutkan karier secara permanen di Alabuga setelah menyelesaikan program, sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam pemaparannya, Aleksei menyebut sejumlah fasilitas yang ditawarkan, antara lain tiket pesawat, pembelajaran bahasa Rusia, layanan medis di Rusia, serta gaji yang disebut mulai dari 700 dolar AS. Peserta tidak dikenakan biaya pendaftaran dan tidak perlu membayar tiket pesawat maupun kursus bahasa Rusia. Namun, biaya tertentu, seperti pembuatan paspor, visa kerja pertama, dan pemeriksaan kesehatan, perlu dipersiapkan secara mandiri.
Sementara itu, Direktur Operasional PT Citra Insan Mandiri, Lina Halim, menyatakan bahwa kerja sama tersebut diharapkan membuka akses bagi generasi muda Indonesia untuk bekerja sekaligus belajar di luar negeri.
Menurut Lina, kesempatan itu tidak hanya berorientasi pada penghasilan, tetapi juga mencakup pembelajaran budaya, pengalaman internasional, dan pengembangan kemampuan profesional. Ia menjelaskan bahwa PT Citra Insan Mandiri merupakan perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia yang memiliki izin resmi dan menangani penempatan ke sejumlah negara.
“Prinsip kami, penempatan harus legal dan dilakukan secara adil. Kami ingin anak-anak mendapatkan kesempatan yang baik, bukan hanya bekerja dan memperoleh gaji, tetapi juga belajar serta mengenal dunia internasional,” ujar Lina.
Ia menilai OTC Bali berpotensi menjadi mitra dalam mempersiapkan calon tenaga kerja sesuai kebutuhan industri. Lina juga menyebut adanya skema pengembangan karier dengan empat level kenaikan jenjang selama dua tahun, yang menurut pemaparannya berlangsung setiap enam bulan.
Untuk mendukung keberlanjutan program, Rediyasa menyatakan OTC Bali akan menyiapkan mekanisme pemantauan peserta selama bekerja di luar negeri. Pemantauan direncanakan melalui sistem yang dimiliki lembaga, kajian dan evaluasi, serta supervisi secara langsung maupun daring.
Selain menjajaki peluang kerja di Rusia, OTC Bali juga mendukung program penempatan ke negara lain. Rediyasa mengajak alumni OTC Bali yang pernah bekerja di Taiwan untuk berkoordinasi dengan kampus apabila berminat mengikuti program SP2T. Ia juga mengingatkan calon peserta agar mengakses informasi melalui jalur resmi dan berkoordinasi dengan lembaga terkait.
Di sisi lain, kegiatan asesmen akreditasi Poltek OTC menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu kelembagaan dan tata kelola pendidikan. Dalam pembagian tugas kegiatan tersebut, Dr. Made Arya Astina berfokus pada pelaksanaan akreditasi Poltek OTC, sedangkan Rediyasa menangani sosialisasi penempatan kerja ke luar negeri.
Melalui kedua kegiatan tersebut, OTC Bali dan Poltek OTC berharap dapat memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan industri, serta memperluas akses terhadap peluang kerja internasional yang legal dan terlindungi. (LE-ViV)







