Unud Rancang Migrant Health System, Pasien TB PMI Tetap Terpantau Lintas Negara

Unud
Gelaran acara monitoring dan evaluasi (monev) kemajuan penelitian penerima Hibah Penelitian Unggulan Udayana Tahun 2026 di LPPM Unud Jimbaran Badung Senin (12/10/2026) - (Foto: Dok LenteraEsai)

Denpasar, LenteraEsai.id – Acara monitoring dan evaluasi (monev) kemajuan penelitian penerima Hibah Penelitian Unggulan Udayana Tahun 2026 yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (Unud) di Jimbaran, Badung, Senin (12/10/2026), menjadi ajang pemaparan pengembangan model layanan kesehatan digital bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Dalam kegiatan tersebut, tim peneliti Unud mempresentasikan riset bertajuk “Peningkatan Kaskade Tuberkulosis pada Pekerja Migran Indonesia: Skrining, Penilaian Epidemiologis, dan Pengembangan Model Layanan Kesehatan Digital”. Penelitian yang dipimpin Prof. dr. I Made Ady Wirawan, M.P.H., Ph.D. ini bertujuan mengembangkan platform Migrant Health System untuk memperkuat kesinambungan layanan tuberkulosis (TB) bagi PMI, termasuk ketika mereka berpindah fasilitas kesehatan, wilayah, hingga lintas negara.

Bacaan Lainnya

Prof. Ady Wirawan menjelaskan, pekerja migran menghadapi sejumlah tantangan dalam mengakses layanan TB. Tingginya mobilitas, keterbatasan akses layanan kesehatan, stigma, serta risiko terputusnya pemantauan dan pengobatan menjadi persoalan yang perlu diatasi melalui sistem pelayanan yang terintegrasi.

“Penelitian ini merespons berbagai tantangan dalam alur layanan TB pada pekerja migran, mulai dari tingginya mobilitas, keterbatasan akses, stigma, hingga risiko putusnya keberlanjutan layanan atau continuity of care,” ujar Prof. Ady.

Penelitian tersebut dilaksanakan melalui empat kegiatan utama yang saling terintegrasi. Pertama, evaluasi sistem dan kinerja skrining diagnostik untuk menilai kepatuhan terhadap standar prosedur operasional serta efektivitas alur skrining TB pada PMI, baik sebelum keberangkatan maupun setelah kepulangan.

Kedua, studi epidemiologi dan determinan risiko untuk mengidentifikasi beban infeksi, prevalensi TB aktif, serta faktor risiko yang dihadapi pekerja migran. Ketiga, studi perilaku dan pemantauan terapi guna mengkaji pengetahuan, persepsi risiko, serta hambatan stigma terkait Tuberculosis Preventive Treatment (TPT) atau pengobatan pencegahan TB.

Keempat, pengembangan dan validasi prototipe digital Migrant Health System yang dirancang untuk menghubungkan proses skrining, rujukan, pengobatan pencegahan, edukasi, hingga pemantauan melalui dasbor digital.

Berdasarkan temuan sementara, pelaksanaan skrining dasar pada PMI secara umum telah berjalan relatif baik. Meski demikian, konsistensi pelaksanaan alur layanan secara menyeluruh masih perlu diperkuat, terutama dalam aspek anamnesis dan penelusuran rujukan tindak lanjut.

Survei mengenai pengetahuan dan persepsi PMI terhadap pengobatan pencegahan TB juga menunjukkan penerimaan program yang tergolong baik. Namun, pemahaman dan efikasi diri pekerja migran masih perlu ditingkatkan melalui media edukasi yang lebih interaktif.

Selain mengembangkan prototipe, tim peneliti mematangkan rencana integrasi Migrant Health System dengan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Integrasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan data kesehatan sekaligus memperkuat koordinasi pelayanan TB bagi PMI.

“Arah pengembangannya adalah integrasi dengan sistem yang saat ini sudah ada, yaitu Sistem Informasi Tuberkulosis atau SITB. Ada beberapa opsi integrasi yang kami kaji, baik melalui opsi integrasi penuh maupun mekanisme bridging sesuai dengan arah pemikiran dan kebutuhan teknis,” kata Prof. Ady.

Menurut dia, pengembangan sistem mengedepankan tiga prinsip utama, yakni efisiensi sumber data, interoperabilitas antarsistem, serta jaminan aksesibilitas dan keberlanjutan layanan. Tim juga memetakan nilai tambah dari proses migrasi dan integrasi data untuk mendukung efektivitas pelayanan kesehatan.

Dari sisi pengguna, penelitian ini turut mengevaluasi penerimaan platform melalui pengujian terhadap kemudahan penggunaan, tingkat usability, persepsi pengguna, serta niat untuk memanfaatkan sistem secara rutin. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar bagi tim untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan platform secara berkelanjutan.

“Melalui pengembangan prototipe Migrant Health System, kami berharap pasien PMI dapat tetap terpantau dengan baik meskipun harus berpindah fasilitas kesehatan, wilayah, hingga lintas negara. Sistem ini dirancang untuk mendukung kesinambungan layanan tanpa membebani fasilitas kesehatan yang ada,” tandasnya.

Pengembangan platform juga melibatkan proses kolaboratif atau co-creation bersama calon pengguna dan pemangku kepentingan. Sejumlah kegiatan telah dilakukan, mulai dari skrining radiologi TB bagi calon PMI hingga lokakarya perumusan model layanan.

Dalam kegiatan monev tersebut, Prof. Ady memaparkan perkembangan riset di hadapan tim penilai yang dipimpin Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapto, M.Sc., bersama Prof. Dr. Dra. Wiwik Susana Rita, M.Si.

Ke depan, opsi integrasi teknis akan terus dimatangkan melalui kajian bersama pengelola SITB di tingkat pusat dan pengelola program TB daerah. Langkah ini diharapkan memastikan model layanan kesehatan digital tersebut dapat diterapkan secara optimal untuk mendukung percepatan eliminasi TB nasional, khususnya pada kelompok pekerja migran yang rentan mengalami hambatan kesinambungan pelayanan. (LE-003)

Pos terkait