Mangupura, LenteraEsai.id – Wilayah Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung beberapa tahun belakangan diserbu investor. Karena lokasinya strategis yang merupakan jalur wisata Canggu – Tanah Lot, Tabanan. Sayang pembangunan di sana terkesan tidak terkendali. Kerap muncuat ke permukaan banyak pembangunan tidak berizin, mencaplok lahan produktif berupa sawah dan jalur hijau.
Maraknya pembangunan liar (tanpa izin Red-) di Desa Munggu tersebut dikeluhkan petani. Tetapi menariknya tokoh -tokoh di sana tidak satu bahasa dalam menyikapi masalah yang terjadi. Ada tokoh yang bersikeras menyelesaikan kasus bangunan liar, ada pula yang memihak pada investor.
Masalahnya kemudian dilaporkan ke DPRD Badung. Komisi I DPRD Badung Senin, 31 Agustus 2026 menindaklanjuti laporan petani itu. Dengan mengundang tokoh – tokoh Desa Munggu. Perbekel, Ketua BPD, Bendesa Adat, Pekaseh dan petani yang diwakili penasehat hukumnya. Camat Mengwi juga hadir. Pertemuan mediasi itu dipimpin Wakil Ketua Komisi I, Gusti Lanang Umbara berlangsung di Kantor DPRD Badung.
Dalam pertemuan itu mengemuka, bahwa ada bangunan yang dibangun pengembang di kawasan LV2B dan tidak berizin. Bangunan itu sudah sempat dipasangi Pol PP line oleh Pol PP Pemkab Badung. Namun beberapa saat kemudian Pol PP line hilang. Komisi I DPRD Badung berencana akan mengkonfirmasi masalah itu ke Pol PP Badung. Juga menjadwalkan akan terjun ke lokasi.
“Hari ini kami Komisi I DPRD Badung memediasi tokoh -tokoh Desa Munggu. Lantaran terjadi miskomunikasi dalam menyikapi permasalahan bangunan tidak berizin lengkap di sana. Pada intinya mereka sepakat untuk menjaga, melindungi dan melestarikan potensi yang ada. Misalnya melestarikan keberadaan sawah dari pengembang yang tidak berizin,” jelas Lanang Umbara usai pertemuan.
Ditambahkan, pertemuan mediasi sudah bisa berjalan dengan baik. Dan semoga tokoh-tokoh Desa Munggu bisa semakin bersatu untuk menjaga, melindungi dan lessarikan Desa Munggu itu sendiri. “Kami pasti akan turun ke lapangan. Terkait dengan apa yang menjadi keluhan tadi, termasuk keluhan dari petani dan perbekel,” paparnya.
Ketika ditanya awak media massa mengapa pertemuannya alot. Ponda Wirawan menjawab, sebenarnya tidak alot.
Cuma miskomunikasi. Mungkin Bapak Perbekel dengan tokoh-tokoh masyarakat ada miskomunikasi. Pada intinya tujuan beliau-beliau sama. ” Yang saya tangkap tadi. Tujuannya sama, ingin menjaga, melestarikan para petani kita yang ada di Desa Munggu.Tidak ada perpercantangan, mungkin hanya miskomunikasi.Tadi kan sudah saya sampaikan, cuman perlu untuk memperbaiki komunikasi. Pada intinya tujuan mereka sama,” katanya lagi.
Pewarta: Made Astra
Redaktur: Laurensius Molan







