Bogor, LenteraEsai.id — Sekitar 300 golok kuno dari berbagai periode sejarah Nusantara dipamerkan dalam kegiatan munggahan, pameran pusaka, dan sarasehan budaya di Gedung Graha Pakuan Siliwangi.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Pakuan bekerja sama dengan Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara. Koleksi yang ditampilkan mencakup golok dari era abad 800–900 hingga masa Kesultanan Demak sekitar abad ke-16.
Perwakilan komunitas pelestari, Gatut Susanta, menjelaskan bahwa golok memiliki perjalanan panjang dalam sejarah masyarakat Nusantara. Selain berfungsi sebagai alat kerja pada masa lampau, golok juga berkembang menjadi perlengkapan pertahanan hingga kini dihormati sebagai pusaka budaya yang sarat nilai filosofis dan historis.
Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono, menegaskan bahwa penyelenggaraan pameran menjadi bagian dari kontribusi akademik perguruan tinggi dalam pelestarian budaya. Ia menilai penelitian, kajian sejarah, dan digitalisasi warisan budaya penting untuk memperkuat literasi generasi muda terhadap nilai-nilai tradisi Nusantara.
Apresiasi juga disampaikan oleh Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, yang menilai kegiatan tersebut sebagai langkah strategis dalam menjaga identitas budaya melalui dokumentasi ilmiah dan kolaborasi lintas pihak.
Dalam rangkaian kegiatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Pakuan bersama Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara juga menggagas pengajuan golok sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO sebagai upaya pengakuan internasional terhadap pusaka budaya Nusantara. (LE)







