Diskominfos Bali Tegaskan Longsor di Sukasada Tidak Terkait Turyapada Tower

Diskominfos pastikan longsor di Buleleng bukan dari Turyapada Tower
Dokumentasi suasana bangunan menara pemancar siaran Turyapada Tower yang dibangun Pemprov Bali di Desa Amerta Sari, Buleleng,

Denpasar, LenteraEsai.id – Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfos) Provinsi Bali memastikan peristiwa tanah longsor yang menimpa rumah warga di Desa Adat Amerta Sari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, tidak berasal dari area pembangunan Turyapada Tower.

Kepala Diskominfos Bali, Gede Pramana, menjelaskan longsor yang terjadi pada Minggu (11/1) malam sekitar pukul 20.00 Wita tersebut dipicu hujan deras dan berasal dari badan jalan di sekitar lokasi, bukan dari bukit atau area menara pemancar siaran.

Bacaan Lainnya

“Lokasi longsor berjarak sekitar tiga meter dari batas lahan dan kurang lebih 50 meter dari bangunan utama Turyapada Tower. Jadi dapat dipastikan bukan longsoran dari area tower,” kata Gede Pramana di Denpasar, Selasa.

Ia menegaskan rumah warga milik I Kadek Ribek yang terdampak berada di luar kawasan bangunan utama Turyapada Tower. Meski demikian, wilayah tersebut ke depan memang direncanakan sebagai kawasan penunjang destinasi wisata, namun saat ini status lahannya masih milik perseorangan.

Menurut Gede Pramana, pembangunan Turyapada Tower masih berada pada tahap lanjutan, termasuk pekerjaan konduksi pada fase kedua. Ia mengakui kawasan sekitar merupakan daerah rawan longsor yang membutuhkan penataan khusus, terutama saat curah hujan tinggi.

Longsor terjadi di badan jalan dengan lebar sekitar tiga meter, menyebabkan material tanah menutup akses jalan dan berdampak langsung pada satu unit rumah warga yang berada tepat di bawah jalan. Rumah tersebut diketahui belum permanen, dengan struktur bambu dan atap seng.

Akibat longsor, akses jalan sempat tertutup lumpur dan material tanah sehingga tidak bisa dilalui. Jalan baru dapat kembali digunakan pada Senin (12/1) siang setelah dilakukan pembersihan.

“Secara teknis, posisi rumah berada di bawah jalan dan sebenarnya tidak layak untuk pembangunan karena sangat rawan,” ujarnya.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Saat longsor terjadi, keluarga korban segera dievakuasi karena alat berat kebetulan berada di sekitar lokasi. Keluarga sempat dievakuasi ke area Turyapada Tower sebelum akhirnya mengungsi ke rumah orang tua di wilayah Lemukih karena kondisi rumah belum layak huni.

Meski longsor tidak berkaitan langsung dengan pembangunan Turyapada Tower, Pemprov Bali tetap menyiapkan langkah pemulihan lahan serta mengkaji kemungkinan relokasi warga. Hal ini dilakukan mengingat kontur tanah di lokasi tersebut tergolong lemah dan memiliki risiko tinggi.

“Kami sudah turun bersama tim appraisal untuk menilai kondisi lahan. Opsi relokasi akan dipertimbangkan demi keselamatan warga,” kata Gede Pramana. (LE-VJ)

Pos terkait