Lingkungan sebagai Leader, Gung Nik: Sinergi Desa Adat-Desa Dinas Wujudkan Bali Bersih Sampah

Bali Bersih Sampah
Pelopor Yayasan Tukad Bindu sekaligus pendiri Komunitas Lingkungan Gila Selingkuh I Gusti Rai Ari Temaja, Koordinator Komunitas Gila Selingkuh Gianyar I Made Gde Suryawan, Koordinator Komunitas Gila Selingkuh Wilayah Tabanan I Putu Parta Yasa, dan Ketua Harian Komunitas Peduli Sungai (KPS) Denpasar Wayan Mustika - (Foto: Dok LenteraEsai)

Denpasar, LenteraEsai.id – Pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal kembali mendapat sorotan positif di Bali. Inisiatif yang digagas melalui sinergi desa adat dengan desa dinas diyakini mampu menjadi solusi konkret untuk menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan, menuju Bali Bersih Sampah.

Pelopor Yayasan Tukad Bindu sekaligus pendiri Komunitas Lingkungan Gila Selingkuh, I Gusti Rai Ari Temaja, menegaskan bahwa pengelolaan sampah berbasis desa adat tidak hanya sekadar harapan, tetapi sudah saatnya menjadi ketegasan bersama. Menurutnya, keberhasilan menjaga lingkungan harus ditopang oleh kebersamaan masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Hasil dan dampaknya adalah pekedek pekenyem, karena ini merupakan giat menyama braya, istilahnya suka duka dalam melaksanakan suatu harapan. Namun sekarang, bukan lagi harapan melainkan ketegasan. Desa adat dan desa dinas memang seharusnya bersinergi, karena keduanya adalah bagian dari bapak dan ibu yang diyakini oleh masyarakat itu sendiri,” ujar pria yang akrab dipanggil Gung Nik.

Ia menambahkan, pengelolaan lingkungan berbasis desa adat merupakan wujud nyata pelaksanaan konsep Tri Hita Karana dan Sad Kerthi yang selama ini dijunjung tinggi masyarakat Bali. Dampak positif yang dihasilkan bahkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain. “Jika lingkungan kita bersih, hasilnya tentu gemah ripah loh jinawi. Itu bukan sekadar jargon, melainkan kenyataan yang bisa kita wujudkan bersama,” katanya.

Evaluasi Rutin dan Tanggung Jawab Bersama

Keberhasilan pengelolaan sampah, menurut Gung Nik, dapat diukur dari keseriusan masyarakat dalam melaksanakan program peningkatan kebersihan. Peran pengayom, kelian adat, hingga kepala dusun dinilai sangat penting dalam mengajak krama desa untuk berpartisipasi aktif.

Monitoring dan evaluasi, lanjutnya, perlu dilakukan secara rutin, misalnya dengan evaluasi mingguan melalui kegiatan banjar. “Setiap kegiatan harus dilaporkan secara terbuka. Apakah benar sudah dilaksanakan? Itu membutuhkan arahan langsung dari desa adat dan desa dinas. Kejujuran dan tanggung jawab menjadi kunci, karena inilah bentuk kesungguhan kita dalam menjaga lingkungan,” jelasnya.

Menurutnya, pengelolaan sampah tidak boleh lagi dipandang sebatas rencana. Harus ada ketegasan dan kejelasan dalam pelaksanaan. “Lingkungan adalah leader bagi semua sektor. Baik ekonomi, pendidikan, hingga pariwisata, semuanya berpusat pada lingkungan. Kalau lingkungan sudah aman dan nyaman, maka sektor lain bisa berjalan sesuai target,” tegasnya.

Lingkungan Sebagai Leader

Lebih jauh, Gung Nik menekankan pentingnya menempatkan lingkungan sebagai pusat dari seluruh aktivitas pembangunan. Menurutnya, apapun kegiatan yang dilakukan, baik ekonomi, budaya, maupun pariwisata, semuanya membutuhkan lingkungan yang bersih dan sehat sebagai fondasi.

“Ke depan, lingkungan harus menjadi leader dari kegiatan yang lain. Apapun itu, semuanya harus didukung lingkungan yang aman, bersih, dan penuh suasana kekeluargaan. Jadi, lingkungan adalah pokok, poin center, dari semua kegiatan,” ujarnya penuh semangat.

Sinergi desa adat dan desa dinas yang berjalan harmonis ini dinilai sebagai model inspiratif yang bisa ditiru oleh daerah lain di Indonesia. Dengan basis kearifan lokal, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga berkontribusi nyata pada kelestarian lingkungan.
“Sejatinya, menjaga lingkungan adalah menjaga kehidupan itu sendiri. Jika kita serius, maka hasilnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat, dari kesehatan, ekonomi, hingga keberlanjutan generasi berikutnya,” kata Gung Nik.

Dengan semangat menyama braya dan ketegasan sikap, Bali membuktikan bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang mampu melahirkan lingkungan bersih, nyaman, dan berdaya guna.

Sanksi Sosial sebagai Penguat Kesadaran

Di beberapa wilayah Bali, aturan adat menjadi benteng ampuh menjaga lingkungan. Seperti di Desa Adat Pekraman Bayad, Desa Kedisan, Tegallalang, Gianyar. Di desa ini, aturan tak tertulis tentang tata cara menebang bambu telah diwariskan turun-temurun.

“Menebang bambu dilarang dilakukan pada hari Minggu dan Kajeng Kliwon. Alasannya, bisa mempengaruhi kesuburan lingkungan dan membahayakan warga,” jelas I Made Gde Suryawan, Koordinator Komunitas Gila Selingkuh Gianyar.

Bayad memiliki 17 titik mata air. Air yang berada dekat pura disucikan, sementara mata air di hulu tidak boleh digunakan sembarangan. Kesakralan ini menjadi pijakan masyarakat menjaga sumber kehidupan mereka.
Aturan adat juga melarang buang air besar di got atau telabah. Alasannya sederhana: aliran air akan melewati temuku menuju sawah warga. Pelanggar aturan kebersihan akan ditegur, dinasihati, bahkan dikenakan sanksi adat jika tak mau berubah.

“Efeknya luar biasa. Warga takut melanggar, karena bukan hanya soal denda, tetapi juga sanksi sosial. Mereka malu jika ketahuan buang sampah sembarangan,” jelas Gde Suryawan.

Hasilnya, Desa Bayad telah lama menerapkan teba modern sebagai langkah menangani sampah sejak dari sumber. Kawasan wisata yang dulu kumuh, seperti Air Terjun Ulu Petanu, kini disulap menjadi destinasi menawan. Jalan menuju air terjun yang dulunya curam dan semrawut, kini tertata rapi. Air terjun yang dulu dianggap “angker” karena penuh sampah, kini ramai dikunjungi wisatawan untuk melukat atau mandi.

Selain itu, sejak tahun 2001, warga Bayad sudah meletakkan keranjang botol di berbagai titik strategis. Dari pos keamanan hingga objek wisata. Kebiasaan ini memicu efek ganda: para pemulung datang membeli botol bekas, sementara ibu-ibu ikut termotivasi mengumpulkan sampah karena bisa dijual. Satu kaleng minuman bekas bahkan dihargai Rp150.

“Tidak ada program yang dipaksakan. Kadang ada acara dadakan bersih lingkungan. Pedoman kami sederhana: kebaikan harus dijalankan konsisten. Kami berpatokan pada awig-awig, perarem, dan makna Tri Hita Karana,” tegas Gde Suryawan.

Penebel: Tantangan Sinkronisasi Desa Adat dan Desa Dinas

Lain halnya di Desa Penebel, Tabanan, yang masih menghadapi tantangan sinkronisasi antara desa adat dan desa dinas. Menurut I Putu Parta Yasa, Koordinator Komunitas Gila Selingkuh Wilayah Tabanan, desa ini sebenarnya sudah memiliki pengelolaan sampah mandiri berbasis dana desa sejak 2019.

“Kami punya sistem pengangkutan sampah gratis untuk warga, kecuali sektor usaha yang dikenakan iuran. Sampah organik dan nonorganik dipilah, lalu diambil oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Berlian,” ujarnya.

Namun, tantangan muncul karena tidak semua warga disiplin. Masih sering ditemukan sampah liar di pinggir jalan atau jurang. Ego sektoral juga membuat sinkronisasi antara desa adat dan desa dinas belum maksimal.

Meski begitu, ada terobosan positif di Penebel. Dalam setiap kegiatan adat, air kemasan plastik tidak lagi digunakan. Sebagai gantinya, warga memakai gelas kaca dan piring kuno untuk wadah makanan. Selain itu, sejak empat tahun lalu, Penebel telah memiliki 20-an teba modern dan 2.000 lubang biopori untuk pengelolaan sampah organik.

Kini, desa tersebut tengah membangun incinerator berbahan batu bata merah sebagai solusi pengolahan sampah. “Dulu kami pakai incinerator berbahan plat baja, tapi cepat rusak karena korosi. Sekarang coba pakai bata merah yang lebih tahan lama,” kata Putu.
Ia berharap ada pendampingan dari pemerintah provinsi agar edukasi dan pendisiplinan masyarakat berjalan maksimal. “Kami juga berharap ada sosok duta sampah, seperti Ibu Gubernur Bali, yang bisa turun langsung memberi pembinaan,” tambahnya.

Sekolah Sungai untuk Generasi Emas

Di Kota Denpasar, sinergi desa adat dan desa dinas berjalan cukup baik. Menurut Wayan Mustika, Ketua Harian Komunitas Peduli Sungai (KPS) Denpasar, hingga kini sudah terbentuk 30 KPS di seluruh wilayah kota.

“Sinergi ini membuat aksi bersih lingkungan bisa dilakukan secara berkelanjutan. Penerimaan masyarakat terhadap edukasi sampah sudah mencapai 70 persen. Perlahan tapi pasti, lingkungan kota semakin bersih,” jelasnya.

Jika ada pelanggaran, warga langsung diumumkan dalam sangkep desa. Dengan cara itu, pelanggar menanggung malu dan mendapat sanksi sosial dari masyarakat.

Sebagai Kepala SDN 9 Peguyangan, Wayan juga menginisiasi Sekolah Sungai, sebuah program edukasi lingkungan untuk anak usia dini. Kurikulumnya meliputi pengelolaan sungai, pemilahan sampah, penanaman pohon, hingga permainan edukatif.

“Sejak dini anak-anak dikenalkan pada aksi menjaga lingkungan. Harapannya, mereka tumbuh dengan karakter peduli lingkungan,” ujarnya.

Bagi Wayan, pendidikan lingkungan di usia dini adalah investasi jangka panjang. “Mari kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” katanya.

Lingkungan sebagai Pemimpin Perubahan

Berbagai gerakan berbasis desa adat ini membuktikan bahwa solusi lingkungan bukan sekadar proyek sesaat. Ada nilai luhur yang hidup di masyarakat: menyama braya, Tri Hita Karana, hingga awig-awig. Semua berpadu menjadi energi perubahan.

Lingkungan yang bersih terbukti menghadirkan multiplier effect. Bukan hanya kesehatan masyarakat yang meningkat, tetapi juga ekonomi tumbuh karena wisatawan tertarik berkunjung. Air terjun yang dulu sepi karena dianggap angker, kini ramai wisatawan. Botol bekas yang dulu dianggap tak berguna, kini bernilai uang.

Pesan utamanya jelas: lingkungan adalah leader. Tanpa lingkungan yang sehat, sektor lain seperti ekonomi, pendidikan, dan pariwisata akan rapuh. Sebaliknya, ketika lingkungan dijaga, maka segala aktivitas lain akan menemukan pijakannya.

Ke depan, tantangannya adalah konsistensi. Komunitas, desa adat, desa dinas, hingga pemerintah provinsi harus bersinergi lebih erat. Bukan hanya soal aturan, tetapi juga soal keteladanan, pendampingan, dan keberanian memberi sanksi.

Gerakan kecil yang lahir dari banjar, sekolah, hingga komunitas, kini menjadi inspirasi besar bagi Bali. Sebuah pesan sederhana yang patut direnungkan: menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan menuju kesejahteraan bersama. (LE-Vivi)

Pos terkait