Denpasar, LenteraEsai.id – Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Badan Pimpinan Daerah (BPD) Provinsi Bali, Prof. Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, M.Si., menilai penyelenggaraan Bali Interfood Expo 2025 membawa dampak baik bagi dunia pariwisata di Pulau Dewata.
Hal tersebut ia sampaikan dalam jumpa pers penyelenggaraan Bali Interfood Expo 2025 yang berlangsung di Bali Tourism Board, Denpasar, Senin (25/8/2025) siang. Menurut pria yang akrab disapa Cok Ace itu, event pameran internasional makanan dan minuman Bali Interfood Expo 2025 ini bukan sekadar ajang promosi kuliner, tetapi juga berdampak langsung terhadap sektor pariwisata, khususnya di kawasan Nusa Dua.
“Event Bali Interfood Expo 2025 diikuti oleh 110 buyer. Artinya, ada perputaran ekonomi yang terjadi, karena para buyer ini tentu akan menginap di sejumlah hotel di Nusa Dua dan sekitarnya. Dampaknya jelas, okupansi hotel meningkat dan ada perputaran uang yang dirasakan masyarakat,” kata Cok Ace.
Dorongan Agar Bali Jadi Tuan Rumah Rutin
Lebih jauh, Cok Ace berharap agar Bali dapat menjadi tuan rumah rutin event Interfood, sama halnya dengan Jakarta yang menggelar pameran serupa setiap tahun. “Kami sebenarnya sudah pernah mengusulkan supaya kegiatan ini bisa diadakan setiap tahun di Bali. Namun, kendalanya adalah ketersediaan ruangan pameran yang memadai. Kapasitas convention hall di Bali masih terbatas. Meski begitu, kami terus berjuang agar ke depan bisa lebih baik,” ujarnya.
Menurutnya, penyelenggaraan Bali Interfood Expo sekaligus menjadi sarana promosi bagi Bali sebagai destinasi MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition). “Bali tidak hanya dikenal dengan pariwisata budaya, tetapi juga sangat aman dan nyaman untuk penyelenggaraan event MICE. Inilah nilai tambah yang harus kita dorong terus,” kata mantan Wakil Gubernur Bali itu.
Dukungan Pelaku Usaha Perikanan
Sementara itu, Budi Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), menyoroti tantangan yang dihadapi para pelaku usaha perikanan Indonesia dalam menembus pasar ekspor. Ia menyebut bahwa saat ini produk perikanan Indonesia terkena dampak tarif baru sebesar 19 persen yang dikenakan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Angka itu tergolong besar, sehingga eksportir kita mulai melirik negara lain seperti China, Timur Tengah, Korea, Taiwan, dan Rusia. Selain itu, kita juga punya pasar dalam negeri yang selama ini kurang dimanfaatkan,” jelasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, AP5I menggandeng Krista Exhibitions selaku penyelenggara Bali Interfood Expo 2025. Menurut Budi, pameran perdagangan seperti ini menjadi jalur paling mudah mempertemukan penjual dan pembeli. “Kami mendukung penuh event Krista Exhibitions. Pameran dagang adalah cara paling efektif menemukan pembeli baru dan memperluas jaringan pasar,” ucapnya antusias.
Bali sebagai Magnet Kuliner Dunia
Dukungan senada disampaikan Ida Bagus Agung Partha Adnyana, Ketua Bali Tourism Board. Ia menilai Bali memiliki potensi besar dalam pengembangan kuliner sebagai daya tarik baru pariwisata. Menurutnya, tren restoran di Bali terus tumbuh pesat, terutama di kawasan Canggu yang kini menjadi magnet wisatawan mancanegara.
“Hampir setiap hari, ada restoran baru yang buka di kawasan Canggu. Hal ini membuktikan bahwa Bali adalah tempat terbaik untuk membangun bisnis kuliner masa depan. Melalui pameran seperti Bali Interfood Expo, kita ingin agar makanan lokal Indonesia semakin dikenal dan menjadi pilihan masyarakat internasional,” tegasnya.
Ia menambahkan, sektor kuliner tak hanya mendukung pariwisata tetapi juga memberdayakan UMKM lokal. Produk-produk pangan lokal, jika dipromosikan melalui pameran internasional, dapat membuka peluang besar untuk masuk ke pasar global.
Penyelenggaraan Bali Interfood Expo 2025 yang akan berlangsung pada 10–12 September di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, diharapkan mampu menarik hingga 15 ribu pengunjung. Selain menampilkan produk makanan dan minuman, pameran ini juga menghadirkan kompetisi menghias keranjang Natal dan Tahun Baru, serta demo dari asosiasi perikanan.
Bagi Bali, kehadiran event ini bukan hanya soal promosi kuliner, tetapi juga bukti bahwa pulau ini siap menjadi tuan rumah event-event internasional dengan skala besar. “Kita mesti tangkap peluang baik ini. Semoga ada kemudahan ke depan agar lebih banyak event serupa bisa terselenggara di Bali. Terima kasih karena Bali kembali dipercaya sebagai lokasi penyelenggaraan Bali Interfood Expo 2025,” tutup Cok Ace. (LE-Vivi)







