Denpasar, LenteraEsai.id — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali menegaskan pentingnya peran populasi kunci dalam menekan laju penyebaran HIV-AIDS di Pulau Dewata. Kelompok populasi kunci, seperti pengguna napza suntik (PWID), wanita pekerja seks (WPS), laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), dan waria, dinilai sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit mematikan ini.
Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, AA Ngr. Patria Nugraha, didampingi Pengelola Program Monitoring dan Evaluasi, Dian Pebriana, SKM, menyampaikan bahwa keterlibatan aktif populasi kunci akan membuat strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) lebih efektif dalam menyampaikan pesan yang tepat sasaran. Hal ini juga diharapkan mampu mendorong perilaku aman serta meningkatkan akses terhadap tes dan pengobatan HIV.
“Keterlibatan mereka penting untuk memastikan penyebaran informasi yang akurat dan tidak menimbulkan stigma atau keresahan di masyarakat,” ujar Patria di ruang kerjanya, Kamis (31/7).
Ia merujuk pada Peraturan Gubernur Bali Nomor 91 Tahun 2015 yang mengamanatkan KPA untuk menyusun kebijakan, strategi, serta mengkoordinasikan langkah-langkah promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam penanggulangan AIDS, termasuk kerjasama lintas sektor.
Dalam rangka pelaksanaan mandat tersebut, KPA Bali menggelar empat pertemuan dengan populasi kunci selama bulan Juni 2025, yang dirangkaikan dengan pemeriksaan HIV gratis. Kegiatan ini turut menghadirkan narasumber dari LSM peduli HIV-AIDS, yakni I Made Karya, Hermansyah, dan Dewa Suyetna.
Pengelola Program, Dian Pebriana, merinci rangkaian kegiatan sebagai berikut:
Rabu, 11 Juni 2025: Pertemuan dengan 25 pengguna napza suntik (PWID) di Sekretariat KPA Provinsi Bali, dilanjutkan dengan pemeriksaan HIV bekerja sama dengan Klinik Catur Warga PKBI Bali.
Kamis, 12 Juni 2025: Pertemuan dengan masing-masing 25 peserta dari kelompok LSL dan waria. Pemeriksaan HIV dilakukan dengan dukungan Puskesmas II Denpasar Utara.
Rabu, 18 Juni 2025: Pertemuan dengan 25 wanita pekerja seks (WPS) di Klinik WM Yayasan Kerti Praja. Kegiatan juga dirangkaikan dengan layanan tes HIV gratis.
“Selain edukasi tentang HIV, peserta juga mendapatkan informasi mengenai penggunaan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) sebagai salah satu metode pencegahan,” jelas Dian.
KPA Bali berharap kegiatan serupa terus berlanjut secara berkala demi memperluas jangkauan pelayanan dan mendorong kesadaran masyarakat, khususnya kelompok berisiko tinggi, untuk melakukan tes dini dan mendapatkan pengobatan sedini mungkin. (LE-Vivi)







